Pasar energi dunia kembali berada dalam tekanan setelah ketegangan antara Israel dan Iran memanas. Di tengah situasi itu, Israel masih membuka kemungkinan untuk melancarkan tindakan militer baru, sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa menilai gangguan di Selat Hormuz sudah cukup untuk menekan ekonomi global.
Dorongan itu bukan hanya terasa di kawasan Timur Tengah, tetapi juga merembet ke harga minyak, hubungan antarsekutu Barat, hingga seruan agar dunia tidak lagi terlalu bergantung pada jalur energi yang rawan konflik. Selat Hormuz pun kembali menjadi pusat perhatian karena perannya yang sangat penting bagi distribusi minyak dunia.
Israel belum menutup opsi serangan
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan negaranya bisa segera mengambil langkah militer baru untuk memastikan Iran tidak kembali menjadi ancaman. Ia menyebut Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memimpin upaya agar Iran tidak lagi membahayakan Israel, Amerika Serikat, dan dunia bebas.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa ketegangan belum benar-benar mereda meski jalur diplomatik tetap berjalan. Nada keras dari Tel Aviv juga menandakan opsi serangan masih dipertahankan jika Israel menilai ancaman dari Iran belum hilang.
Selat Hormuz dan efeknya ke ekonomi global
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan bahwa penutupan efektif Selat Hormuz akibat perang Iran telah menghimpit ekonomi global. Ia menggambarkan kondisi itu sebagai situasi yang “mencekik ekonomi global” karena jalur air tersebut memegang peran besar dalam distribusi energi internasional.
Selat Hormuz memang dikenal sebagai titik vital pengiriman minyak dunia. Begitu jalur ini terganggu, pasar energi biasanya bereaksi cepat, lalu tekanan ikut dirasakan oleh negara-negara pengimpor minyak.
Harga minyak ikut melonjak
Ketegangan di kawasan itu langsung memukul pasar energi. Harga minyak sempat naik ke level tertinggi dalam empat tahun, dengan Brent untuk pengiriman Juni melonjak lebih dari tujuh persen menjadi 126,41 dolar AS per barel.
West Texas Intermediate juga sempat naik 3,4 persen ke 110,31 dolar AS sebelum kemudian memangkas kenaikannya. Kepala Badan Energi Internasional, Fatih Birol, menyebut dunia sedang menghadapi “tantangan energi dan ekonomi besar” akibat lonjakan harga minyak.
Birol juga menilai dunia kini berada dalam “krisis energi terbesar dalam sejarah”. Tekanan harga itu menambah beban negara-negara yang bergantung pada impor energi dan memperbesar kekhawatiran atas stabilitas ekonomi global.
Iran menolak tekanan dari luar
Dari Teheran, Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa kendali Iran atas Selat Hormuz akan mengarah pada masa depan tanpa kehadiran Amerika Serikat di kawasan. Ia menyebut arah itu sebagai “anugerah berharga” yang bebas dari campur tangan Washington.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menolak gagasan blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran. Menurutnya, pembatasan maritim seperti itu bertentangan dengan hukum internasional dan pada akhirnya “ditakdirkan gagal”.
Konflik ikut menyeret Lebanon
Ketegangan kawasan tidak berhenti pada ancaman terhadap jalur perdagangan energi. Serangan Israel di tiga desa di Lebanon selatan menewaskan sembilan orang, termasuk dua anak dan lima perempuan, menurut kementerian kesehatan Lebanon.
Serangan itu terjadi hampir dua pekan setelah gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah yang didukung Iran berlaku. Presiden Lebanon Joseph Aoun mengecam apa yang ia sebut sebagai pelanggaran Israel yang terus berlanjut di selatan Lebanon.
Aoun juga menyoroti penghancuran rumah dan tempat ibadah yang masih terjadi, sementara jumlah korban luka dan tewas terus bertambah. Ia meminta tekanan internasional agar Israel mematuhi hukum dan konvensi internasional, serta menghentikan serangan terhadap warga sipil, paramedis, pertahanan sipil, dan organisasi bantuan serta kesehatan.
Dampaknya juga terasa di Barat
Eskalasi perang di Timur Tengah bahkan ikut memicu gesekan antara Amerika Serikat dan Jerman. Donald Trump menyebut Washington mempertimbangkan untuk mengurangi pasukan di Jerman setelah Kanselir Friedrich Merz menolak ikut bergabung dalam perang Washington melawan Iran.
Ancaman itu disebut mencakup sekitar 35.000 hingga 50.000 tentara AS yang ditempatkan di Jerman. Uni Eropa kemudian menegaskan bahwa pengerahan pasukan AS di Eropa juga memberi keuntungan bagi Washington, sementara juru bicara UE Anitta Hipper menyampaikan bahwa sekutu NATO kini menaikkan belanja pertahanan pada laju yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Di tengah semua tekanan itu, Presiden terpilih COP31 dari Turki, Murat Kurum, mengatakan krisis energi global memperlihatkan perlunya perubahan sistem energi. Ia menilai dunia harus mempercepat transisi ke energi bersih agar ketergantungan pada jalur pasokan yang rentan bisa dikurangi, sementara Selat Hormuz terus menjadi simbol betapa cepat konflik regional dapat mengguncang perdagangan, energi, dan arah ekonomi dunia.





