Pemanggilan Mathew Baker ke Timnas Indonesia senior membuat namanya naik kelas di mata publik sepak bola Tanah Air. Di saat bersamaan, Australia belum benar-benar melepas perhatian mereka kepada bek muda Melbourne City itu.
Situasi tersebut terjadi karena Baker belum terikat penuh pada satu negara di level senior. Selama status itu belum berubah lewat penampilan resmi bersama Timnas Indonesia senior dalam laga yang diakui FIFA, Australia masih bisa memandangnya sebagai talenta yang layak dipantau.
Perhatian dari Australia bukan sekadar asumsi. Media olahraga Australia, Football360au, ikut menyoroti panggilan Baker ke skuad Garuda melalui unggahan di Instagram.
Dalam unggahan itu, Baker disebut sebagai pemain Australia berbakat berusia 17 tahun yang belum debut di A-League. Meski begitu, Football360au tetap menyampaikan ucapan selamat atas panggilan perdananya ke tim nasional senior Indonesia.
Performa di Melbourne City ikut menguatkan sorotan
Selain status kewarganegaraan, performa Baker di level klub juga membuat namanya menonjol. Football360au menilai ia sudah menjadi pilar di akademi senior Melbourne City yang bermain di NPL VIC, kompetisi kasta kedua di Australia.
Catatan penampilannya ikut menunjukkan kepercayaan besar dari klub. Hingga pekan ke-15, Baker sudah tampil dalam sembilan pertandingan dan delapan di antaranya ia mulai sebagai starter.
Kondisi itu membuat wajar jika Australia masih memasukkan namanya ke dalam radar pembinaan pemain muda. Di usia 17 tahun, Baker sudah berada di jalur yang menarik perhatian dua federasi sekaligus.
Status keluarga membuat posisinya unik
Baker lahir di Melbourne pada 13 Mei 2009. Ia adalah putra ayah berkebangsaan Australia dan ibu asal Jakarta yang berdarah Batak.
Latar keluarga tersebut membuat Baker memiliki status kewarganegaraan ganda terbatas sesuai aturan hukum Indonesia. Anak dari perkawinan campuran dapat memegang kewarganegaraan ganda hingga usia 18 tahun atau sebelum menikah.
Karena itu, Baker tidak perlu melalui proses naturalisasi untuk membela Indonesia. Status ini juga menjelaskan mengapa Australia masih memantau langkahnya, sebab ia tetap bisa membela Australia sampai tampil resmi untuk Timnas Indonesia senior dalam pertandingan yang diakui FIFA.
Tenaga Ahli Kemenpora Bidang Diaspora, Hamdan Hamedan, sebelumnya menegaskan bahwa Baker adalah pemain diaspora murni, bukan pemain naturalisasi. Penegasan itu membedakan Baker dari sejumlah pemain keturunan lain yang harus melewati proses administrasi tambahan.
Bukan nama baru bagi publik Indonesia
Baker sebenarnya sudah lebih dulu dikenal oleh publik sepak bola Indonesia. Ia pernah menjadi salah satu andalan Timnas Indonesia U-16 pada ajang Piala AFF U-16 2024.
Riwayat itu membuat pemanggilannya ke level senior terasa sebagai kelanjutan dari perjalanan yang sudah lama dipantau. Kehadirannya di skuad juga menunjukkan bahwa staf pelatih melihatnya sebagai bagian dari rencana jangka panjang.
Pemanggilan ke agenda FIFA Matchday Juni 2026 memberi Baker peluang untuk mencatat debut di level tertinggi. Jika mendapat kesempatan bermain melawan Oman atau Mozambik, ia bisa langsung menandai langkah penting dalam karier internasionalnya bersama Indonesia.
Nama Baker sempat ramai pada Juli 2024 saat ia dipanggil Timnas Australia U-17, padahal sebelumnya baru membela Timnas Indonesia U-16. Situasi itu sempat memunculkan kekhawatiran di kalangan suporter Garuda bahwa Australia bisa menarik talenta yang juga punya kaitan kuat dengan Indonesia.
Kini, arah perjalanan internasional Baker kembali menjadi sorotan. Publik menunggu apakah bek serbabisa itu akan benar-benar memperkuat Merah Putih di level tertinggi dan menegaskan pilihannya setelah lama berada di perhatian dua negara.
Source: www.suara.com