Banyak Pembawa Sifat Talasemia Tak Sadar, Skrining Dini Jadi Kunci Cegah Ribuan Bayi Terlahir Terinfeksi

Banyak keluarga baru mengetahui talasemia setelah anak membutuhkan transfusi darah rutin seumur hidup. Padahal, sebelum sampai ke tahap itu, risiko penurunan penyakit ini sebenarnya bisa dikenali lebih awal melalui skrining.

Di Indonesia, sekitar 2.500 bayi lahir setiap tahun dengan talasemia mayor. Kondisi ini membuat deteksi dini menjadi semakin penting, terutama karena banyak pembawa sifat tampak sehat dan tidak menyadari dirinya berisiko menurunkan penyakit tersebut.

Talasemia adalah kelainan genetik yang memengaruhi pembentukan hemoglobin, yaitu protein di dalam sel darah merah yang bertugas membawa oksigen ke seluruh tubuh. Saat pembentukan hemoglobin terganggu, sel darah merah lebih mudah rusak dan penderitanya dapat mengalami anemia dengan tingkat keparahan yang berbeda.

Data yang disebutkan menunjukkan angka pembawa sifat talasemia di Indonesia cukup tinggi. Sekitar 2,6–11 persen populasi membawa sifat talasemia alfa, 3–10 persen membawa sifat talasemia beta, dan 1,5–36 persen membawa sifat HbE.

Kondisi pembawa sifat sering tidak menimbulkan gejala yang jelas. Situasi ini membuat banyak orang tidak sadar bahwa mereka dapat meneruskan talasemia kepada anak jika tidak menjalani pemeriksaan sejak dini.

Kelompok yang perlu lebih memperhatikan skrining meliputi remaja, calon pasangan menikah, keluarga dengan riwayat talasemia, serta kelompok berisiko lainnya. Pemeriksaan sejak awal membantu mengenali status pembawa sifat agar penyakit ini tidak terus berulang antargenerasi.

Pada talasemia minor, kondisi umumnya hanya menyebabkan anemia ringan atau bahkan tanpa gejala. Berbeda dengan talasemia mayor, pasien membutuhkan transfusi darah rutin sepanjang hidup agar kondisi tubuh tetap stabil.

Penanganan talasemia juga tidak berhenti pada transfusi. Pasien memerlukan diagnosis yang tepat, terapi kelasi besi untuk mengurangi penumpukan zat besi akibat transfusi berulang, dan dukungan psikososial bagi pasien maupun keluarga.

Ketersediaan darah yang aman dan sesuai menjadi kebutuhan penting dalam perawatan pasien talasemia mayor. Darah yang telah melalui proses pengurangan leukosit juga disebut dibutuhkan agar transfusi menjadi lebih aman.

Peringatan World Thalassemia Day 2026 yang jatuh setiap 8 Mei dimanfaatkan untuk mendorong kesadaran publik yang lebih luas. Dalam rangka itu, Sysmex Indonesia bersama Kementerian Kesehatan RI menggandeng PMI Pusat, BPJS Kesehatan, dan Perhimpunan Orang Tua Penyandang Talasemia Indonesia atau POPTI.

Rangkaian kegiatan sepanjang Mei 2026 mengusung tema “United for Thalassemia” dan tema global “Hidden No More: Finding the Undiagnosed, Supporting the Unseen”. Agenda itu mencakup webinar nasional pada 19 Mei, aksi donor darah pada 21 Mei, dan kampanye digital melalui kompetisi media sosial pada 16–30 Mei 2026.

Webinar nasional menghadirkan narasumber dari Kementerian Kesehatan, BPJS Kesehatan, PMI, dokter spesialis anak, dan POPTI. Pembahasan meliputi strategi nasional pengendalian talasemia, akses layanan dan pembiayaan di era JKN, deteksi dini, tata laksana, hingga keberlanjutan pasokan darah bagi pasien.

Dr. Andi Saguni, M.A. dari Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI menekankan pentingnya deteksi dini dan kolaborasi antarpemangku kepentingan. Ia menyebut tanpa skrining, talasemia dapat terus berulang antar generasi, padahal risikonya bisa dikenali lebih awal melalui pemeriksaan yang tepat.

Aksi donor darah digelar untuk membantu menjaga stok darah bagi pasien talasemia mayor yang membutuhkan transfusi rutin. Sementara itu, kampanye digital diarahkan agar pesan pencegahan dan pentingnya skrining menjangkau lebih banyak masyarakat.

Melalui rangkaian peringatan ini, berbagai pihak berharap kesadaran publik terhadap talasemia terus meningkat. Edukasi, deteksi dini, dan dukungan bagi pasien diharapkan dapat membantu memutus rantai talasemia di Indonesia serta melindungi generasi mendatang dari risiko penyakit genetik ini.

Source: www.suara.com

Baca Juga

Back to top button