Perhatian pelaku pasar tertuju pada saham-saham berkapitalisasi besar yang kembali menjadi penopang utama pergerakan IHSG. Di tengah minat yang menguat pada sektor perbankan, indeks diperkirakan masih berpeluang melanjutkan kenaikan terbatas selama mampu bertahan di atas level 7.200.
Kondisi itu membuat BBCA dan BMRI masuk radar utama investor. Keduanya dinilai mencerminkan arah minat pasar terhadap emiten likuid yang punya pengaruh besar terhadap indeks, terutama saat aliran dana asing mulai kembali masuk ke saham big caps.
Dukungan terhadap IHSG juga datang dari laporan kinerja kuartal pertama 2026. Pada periode tersebut, sektor perbankan dan energi sama-sama menunjukkan pertumbuhan laba bersih, sehingga sentimen terhadap saham-saham unggulan tetap terjaga.
Di sisi teknikal, posisi IHSG di atas 7.200 masih dianggap penting. Selama level itu tidak ditembus ke bawah, tren naik dinilai belum rusak meski pasar tetap bergerak dalam ritme yang fluktuatif.
Perhatian investor tidak hanya tertuju pada bank besar. Sektor perbankan, infrastruktur, dan telekomunikasi masih dipandang sebagai penggerak utama indeks dalam waktu dekat.
Dalam kelompok itu, BBCA menjadi salah satu saham yang paling disorot karena mendapat rekomendasi beli dan target harga terdekat di level akumulasi setelah laporan laba kuartal I. BMRI juga menarik perhatian karena menunjukkan tren kenaikan volume beli yang konsisten dalam tiga hari perdagangan terakhir.
TLKM ikut masuk pantauan karena ekspansi infrastruktur digital nasional masih menjadi tema yang relevan bagi pasar. Sementara itu, ASII juga berada dalam daftar pilihan karena mendapat dorongan dari pemulihan data penjualan otomotif secara bulanan.
Di tengah koreksi yang sehat, sejumlah saham juga dinilai menunjukkan ketahanan yang baik. Bareksa mencatat EXCL dan JSMR kerap memperlihatkan resiliensi saat pasar melemah, sehingga keduanya tetap diperhatikan sebagai bagian dari kelompok saham pilihan.
Faktor domestik ikut memberi landasan bagi optimisme pasar. Data historis dari Indopremier menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2023 mencapai 5,05 persen, lebih tinggi dari prediksi IMF sebesar 5 persen.
Dari sisi global, arah kebijakan suku bunga bank sentral luar negeri masih tetap memengaruhi sentimen. Pada awal 2024, Bank Sentral Australia menahan suku bunga di 4,35 persen, sementara The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 5,25 persen hingga 5,5 persen.
Memasuki 2026, stabilitas kebijakan moneter yang mulai terbentuk memberi ruang lebih lega bagi IHSG. Tambahan dorongan juga datang dari peningkatan target pertumbuhan ekonomi global oleh IMF untuk negara mitra dagang utama seperti China dan Amerika Serikat.
Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa menilai stabilitas sistem keuangan dan pertumbuhan ekonomi yang konsisten di atas 5 persen menjadi katalis positif bagi pasar modal. Pandangan itu sejalan dengan ekspektasi bahwa likuiditas pasar modal masih bisa terjaga hingga kuartal kedua tahun ini.
Bagi trader harian, kombinasi sentimen perbankan, infrastruktur, dan telekomunikasi membuat BBCA, BMRI, dan TLKM tetap layak dicermati. ASII juga masih masuk radar karena data otomotif bulanan memberikan ruang bagi sentimen positif.
Meski peluang penguatan masih terbuka, pelaku pasar tetap diingatkan untuk menjaga disiplin risiko. Pemahaman area support dan resistance serta penerapan stop loss dinilai penting agar modal tetap terlindungi ketika arah pasar berubah cepat. Hingga penutupan sesi sebelumnya, LQ45 juga bergerak menguat sejalan dengan IHSG, sementara pasar menunggu rilis data inflasi domestik bulan April dari Badan Pusat Statistik pada awal pekan depan.





