BI Nilai Rupiah Belum Di Harga Wajar, Ruang Menguat Terbuka Pada Juli-Agustus

Bank Indonesia masih melihat rupiah punya ruang untuk bergerak lebih kuat setelah sempat berada di atas Rp17.600 per dolar AS. Di mata otoritas moneter, kurs domestik belum mencerminkan nilai wajarnya dan masih tergolong murah.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut nilai fundamental rupiah berada di sekitar Rp16.500 per dolar AS, sejalan dengan asumsi dalam APBN. Dari titik itu, BI menilai rupiah masih punya peluang bergerak ke kisaran Rp16.200 sampai Rp16.800 per dolar AS.

Pandangan tersebut disampaikan Perry dalam rapat bersama Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta. Ia juga menegaskan bahwa arah rupiah masih sejalan dengan asumsi makro APBN.

Tekanan valas mulai bergeser

BI membaca tekanan terhadap rupiah masih kuat pada April, Mei, dan Juni karena kebutuhan dolar AS meningkat. Perry mengatakan fase itu memberi beban tambahan bagi rupiah melalui permintaan valuta asing yang lebih besar.

Setelah periode tersebut berlalu, BI melihat ruang penguatan mulai terbuka pada Juli dan Agustus. Pergeseran itu dikaitkan dengan berakhirnya musim haji, repatriasi dividen korporasi, serta pembayaran utang luar negeri yang dapat mengubah pola arus valas.

Masih dinilai stabil meski di bawah nilai wajar

Walau rata-rata rupiah sepanjang tahun berjalan berada di Rp16.900, Perry menilai kondisi pasar tetap terkendali. BI mencatat deviasi rupiah saat ini berada di 5,4 persen dan masih dianggap stabil oleh otoritas moneter.

Penilaian stabilitas itu tidak hanya bertumpu pada level kurs harian. BI menggunakan standar deviasi bergulir 20 hari untuk menilai apakah pergerakan nilai tukar masih berada dalam rentang yang terjaga.

BI juga mengaitkan penilaian rupiah dengan inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Dalam konteks itu, Perry menyinggung pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen secara tahunan pada kuartal I/2026.

Risiko global tetap menjadi penahan

Di sisi lain, Perry mengingatkan tekanan eksternal belum hilang. Ia membandingkan kondisi saat ini dengan gejolak ketika Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif impor resiprokal pada Februari 2025, yang sempat menekan rupiah sebelum kembali menguat.

Ia juga menyoroti meningkatnya risiko geopolitik akibat serangan AS-Israel ke Iran yang memicu gejolak di kawasan Teluk. Situasi itu ikut mendorong kenaikan credit default swap atau CDS, indikator yang mencerminkan persepsi investor terhadap risiko gagal bayar utang suatu negara.

Menurut Perry, tekanan seperti itu tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga banyak negara lain. Karena itu, BI tetap memandang ada peluang rupiah kembali mendekati kisaran fundamentalnya selama tekanan musiman mereda dan risiko global tidak bertambah besar.

Dengan kombinasi kondisi domestik yang masih tumbuh dan permintaan valas yang mulai surut, BI menilai rupiah masih punya ruang untuk mengarah ke level yang lebih mendekati nilai wajarnya. Dalam pandangan Perry, arah pelemahan yang terjadi sebelumnya belum dianggap permanen.

Source: finansial.bisnis.com

Baca Juga

Back to top button