Biaya Nyaris Tak Naik Saat PLTS Dijauhkan dari Hutan dan Lahan Pertanian

Konflik antara kebutuhan energi surya, perlindungan sawah, dan penjagaan hutan kian terasa saat pembangunan PLTS skala utilitas terus meluas. Di tengah dorongan transisi energi, para peneliti kini menawarkan cara memilih lokasi yang tidak hanya murah, tetapi juga lebih peka terhadap lahan pertanian produktif dan kawasan bernilai ekologis tinggi.

Model pemetaan baru yang dikembangkan tim dari Cornell University, The Nature Conservancy, U.S. Geological Survey, dan Central Michigan University mencoba membaca tiga kepentingan itu sekaligus. Alat ini dirancang agar pengembang bisa melihat potensi energi surya tanpa menutup mata terhadap risiko perubahan penggunaan lahan.

Pendekatan tersebut menilai lokasi berdasarkan biaya pembangunan yang rendah, perlindungan lahan pertanian, dan konservasi lingkungan. Dengan cara itu, potensi benturan antarkepentingan dapat terlihat lebih awal sebelum proyek dibangun.

Steve Grodsky, penulis senior studi sekaligus Assistant Professor of Natural Resources and the Environment di Cornell University, menilai persoalan ini tidak bisa dipisahkan menjadi satu bidang saja. Menurut dia, biodiversitas, pertanian, dan energi saling terhubung dalam satu sistem yang sama.

Karena itulah pemilihan lokasi PLTS tidak lagi cukup hanya mengandalkan kemudahan pembangunan. Peta yang dihasilkan membantu memperlihatkan konsekuensi dari setiap lokasi dengan lebih jelas bagi pengembang maupun pembuat kebijakan.

Biaya rendah belum tentu paling aman bagi lahan

Selama ini, lokasi PLTS kerap dicari dengan fokus pada biaya terendah agar proyek berjalan cepat dan efisien. Namun, pendekatan seperti itu sering memunculkan penolakan dari masyarakat yang ingin melindungi lahan pertanian utama dan mencegah penebangan hutan dalam skala besar.

Adam Gallaher, penulis utama studi, menjelaskan bahwa model ini ditujukan sebagai alat bantu yang lebih seimbang. Selain menekan risiko konflik, metode tersebut juga membantu menilai apakah lokasi yang dipilih benar-benar cocok untuk tujuan energi, pertanian, dan lingkungan sekaligus.

Dalam pemetaan berbasis biaya terendah, tim memasukkan jarak ke jalan dan jaringan transmisi listrik, jenis tanah, serta penggunaan lahan saat ini. Data pertanian dan lingkungan diambil dari lembaga terkait di New York dan pemerintah federal Amerika Serikat.

Saat satu prioritas diutamakan, tekanan pindah ke area lain

Hasil penelitian menunjukkan bahwa memusatkan perhatian pada satu sasaran justru dapat memindahkan risiko ke wilayah lain. Ketika perlindungan lahan pertanian dijadikan prioritas utama, sekitar 80 persen lokasi potensial di lahan pertanian utama bisa diselamatkan dari pembangunan panel surya.

Masalahnya, perlindungan itu dapat mendorong proyek bergeser ke kawasan lain, termasuk hutan. Artinya, menjaga satu jenis lahan tidak otomatis mengurangi tekanan pada lahan lain yang juga memiliki nilai ekologis.

Sebaliknya, ketika kawasan ekologis sensitif dihindari, biaya tahunan hanya naik sekitar 0,17 persen. Dalam skenario itu, pembangunan panel surya cenderung bergeser ke padang rumput, ladang jerami, dan lahan pertanian yang sudah diolah.

New York menjadi lokasi uji yang relevan

Peneliti memilih New York karena negara bagian itu memiliki target transisi energi yang agresif. Pada 2019, New York mengesahkan undang-undang iklim yang menargetkan 70 persen pasokan listrik berasal dari energi terbarukan pada 2030 dan 100 persen pada 2040.

Dalam skenario pengembangan tenaga surya paling agresif yang dihitung tim, New York diperkirakan membutuhkan kapasitas sekitar 46.000 megawatt hingga 2050. Untuk mencapai angka itu, lahan yang diperlukan mencapai sekitar 107.700 hektare.

Jumlah tersebut tetap kecil dibandingkan total luas New York yang sekitar 30 juta hektare. Wilayah itu juga mencakup sekitar 6,5 juta hektare lahan pertanian dan 4,5 juta hektare lahan lindung milik negara.

Bagi para peneliti, perhitungan itu menunjukkan bahwa percepatan energi terbarukan masih mungkin berjalan tanpa mengorbankan sawah, hutan, dan kawasan bernilai ekologis tinggi. Dengan perencanaan lokasi yang lebih cermat, pembangunan PLTS dapat diarahkan lebih bertanggung jawab dengan tambahan biaya yang relatif kecil.

Source: www.suara.com

Baca Juga

Back to top button