Bitcoin Disejajarkan Dengan Amazon Dan Microsoft, Scaramucci Sebut Tak Bisa Didevaluasi

Bagi Anthony Scaramucci, Bitcoin bukan sekadar aset yang bergerak liar di pasar kripto. Ia menempatkannya sejajar dengan Amazon dan Microsoft pada fase awal adopsi, saat teknologi besar itu belum sepenuhnya dipahami pasar luas.

Pandangan tersebut muncul di tengah perdebatan yang masih panjang soal posisi Bitcoin sebagai aset digital. Pendiri SkyBridge Capital itu menilai pergerakan harga yang naik-turun justru masih sejalan dengan pola pertumbuhan klasik yang kerap terlihat sebelum sebuah teknologi besar benar-benar diterima.

Bitcoin sebagai aset yang tidak bisa didevaluasi

Scaramucci menegaskan bahwa Bitcoin adalah aset yang tidak bisa didevaluasi. Dalam pandangannya, karakter itu menjadi pembeda utama dibanding uang fiat yang nilainya bergantung pada kepercayaan publik.

Ia bahkan menyebut uang fiat pada dasarnya tidak bernilai, meski tetap dipakai karena orang-orang percaya padanya. Dari sudut itu, Bitcoin ia lihat sebagai bentuk baru dari uang lama, tetapi dengan fondasi yang lebih kuat.

Menurut Scaramucci, Bitcoin memiliki struktur yang lebih baik daripada sistem uang konvensional. Aset ini terbuka, transparan, sepenuhnya terdesentralisasi, dan diamankan oleh jaringan komputer.

Bukan hanya spekulasi

Dengan desain seperti itu, Scaramucci tidak memandang Bitcoin semata sebagai instrumen spekulasi. Ia menyamakannya dengan program komputer yang memiliki pasokan dan keamanan sendiri, sehingga tidak bergantung pada mekanisme yang melekat pada mata uang fiat.

Perbedaan inilah yang membuatnya menilai Bitcoin bergerak di jalur yang lebih mirip teknologi besar ketimbang aset tradisional. Dalam kerangka itu, Bitcoin bukan hanya soal harga harian, tetapi juga soal adopsi jangka panjang.

Scaramucci melihat pasar masih berada dalam proses memahami aset ini. Meski minat terus tumbuh, ia menilai Bitcoin belum memasuki tahap matang.

Pola adopsi yang ia samakan dengan Amazon dan Microsoft

Untuk menjelaskan pandangannya, Scaramucci memakai pola S-curve of adoption, pola pertumbuhan yang juga ia kaitkan dengan Amazon dan Microsoft. Pola ini menggambarkan fase awal yang lambat, lalu akselerasi yang cepat, sebelum akhirnya melandai saat pasar mulai jenuh.

Dalam skema itu, tahap awal biasanya diisi oleh para early adopters. Ketika memasuki kelompok late adopters, volatilitas pasar cenderung meningkat sebelum adopsi menyebar lebih luas.

Scaramucci mengatakan banyak orang, termasuk dirinya, pernah meremehkan Bitcoin saat dipromosikan oleh kalangan yang ia sebut sebagai “libertarians” dan “introverts”. Namun seiring waktu, persepsi pasar berubah dan adopsi mulai terjadi.

Keyakinan yang sudah lama ia pegang

Sikap Scaramucci terhadap Bitcoin bukan hal baru. Ia sudah lama dikenal sebagai pendukung aset kripto tersebut dan pernah menetapkan target harga US$1 juta untuk Bitcoin pada 2032.

Ia juga pernah mengungkapkan bahwa 70% kekayaannya berada di Bitcoin. Karena itu, komentarnya soal ketahanan Bitcoin dan pola adopsinya mendapat sorotan lebih besar dari pasar yang masih berhati-hati menilai aset digital ini.

Bagi Scaramucci, keunggulan utama Bitcoin ada pada desainnya yang tidak bisa diubah oleh pihak mana pun. Karakter itu ia anggap sebagai pembeda paling tegas dari uang fiat yang terus bergantung pada kepercayaan dan kebijakan sistem moneter.

Di tengah perdebatan tentang masa depan aset digital, Scaramucci melihat Bitcoin bergerak ke arah yang pernah dialami teknologi besar saat masih dianggap niche. Jika pola itu berlanjut, posisinya di pasar berpeluang makin kuat ketika lebih banyak pengguna masuk pada fase berikutnya.

Baca Juga

Back to top button