Harga minyak kembali bergerak naik setelah laporan soal rencana tekanan baru Amerika Serikat terhadap Iran memicu kekhawatiran di pasar energi. Di saat yang sama, ketegangan di Timur Tengah belum mereda karena jalur diplomatik, militer, dan logistik sama-sama berada di bawah tekanan.
Laporan Wall Street Journal menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta pejabat keamanan nasional menyiapkan blokade panjang terhadap pelabuhan Iran. Langkah itu dilaporkan menjadi bagian dari upaya menekan Teheran agar menghentikan program nuklirnya dan menerima syarat yang jauh lebih ketat.
Sikap keras Trump juga kembali muncul di ruang publik. Melalui Truth Social, ia menulis bahwa Iran “can’t get their act together” dan perlu segera “get smart”, sambil mengunggah foto dirinya memegang senapan serbu dengan tulisan “NO MORE MR. NICE GUY!”.
Nada serupa terdengar saat jamuan kenegaraan di Gedung Putih bersama Raja Charles III. Dalam pernyataannya, Trump menyebut Iran telah “militarily defeated” dan menegaskan Amerika Serikat tidak akan membiarkan negara itu memiliki senjata nuklir.
Tekanan terhadap Iran tak hanya datang dari luar
Di balik tekanan politik dari Washington, Iran juga menghadapi sorotan keras dari dalam negeri. Kantor hak asasi manusia PBB menyebut sedikitnya 21 orang telah dieksekusi dan lebih dari 4.000 orang ditangkap sejak perang dimulai.
PBB menggambarkan tindakan itu sebagai respons pemerintah Iran yang “harsh and brutal”. Lembaga tersebut juga menyampaikan bahwa sembilan orang dieksekusi terkait protes Januari 2026, sepuluh orang karena diduga menjadi anggota kelompok oposisi, dan dua orang atas tuduhan spionase.
Data itu memperlihatkan bahwa konflik yang berkembang di kawasan tidak hanya menekan Iran dari sisi eksternal. Situasi domestik di negara itu juga ikut mengeras, sehingga stabilitas politik di dalam negeri makin rentan.
Kawasan Lebanon ikut terdorong ke titik rapuh
Ketegangan regional juga belum reda di perbatasan lain. Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan serangan Israel pada Selasa menewaskan delapan orang, termasuk petugas penyelamat pertahanan sipil, dan melukai dua tentara di selatan negara itu.
Serangan tersebut terjadi saat gencatan senjata masih berlaku. Kondisi itu menegaskan betapa rapuhnya jeda kekerasan di wilayah tersebut, terutama ketika bentrokan dengan Hezbollah masih terus berlangsung.
Israel disebut terus berperang melawan Hezbollah sejak awal Maret dan mengerahkan pasukan ke Lebanon selatan untuk menghadapi kelompok militan yang didukung Iran itu. Kekerasan berlanjut meski gencatan senjata yang goyah sempat tercatat pada 17 April.
Pasar energi bereaksi cepat
Pasar minyak langsung mencermati eskalasi ini. Harga minyak naik setelah muncul laporan bahwa Trump kemungkinan tidak akan menerima proposal Iran untuk memulihkan lalu lintas di Selat Hormuz, sementara Qatar memperingatkan kemungkinan terjadinya “frozen conflict”.
Brent berada di atas level sebelum gencatan senjata awal April, sedangkan West Texas Intermediate sempat menembus $100 pada Selasa untuk pertama kalinya dalam dua minggu. Pada perdagangan Rabu, Brent masih bertahan di atas $113 dan WTI di atas $101.
Pergerakan itu menunjukkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap setiap sinyal baru dari Timur Tengah. Selat Hormuz kembali menjadi perhatian karena jalur ini memegang peran penting dalam arus logistik energi global.
Dampaknya mulai terasa ke perusahaan energi besar
Lonjakan harga minyak juga tercermin pada laporan kinerja perusahaan energi. TotalEnergies melaporkan laba bersih kuartal pertama naik 51 persen menjadi $5.8 miliar, dengan salah satu pendorong utamanya adalah kenaikan harga minyak akibat perang di Timur Tengah.
Perusahaan asal Prancis itu juga menyampaikan bahwa kilang Satorp di Arab Saudi kembali dimulai operasinya pada pertengahan April. Fasilitas yang dimiliki bersama Aramco tersebut sempat dihentikan setelah mengalami kerusakan akibat serangan udara selama perang di Timur Tengah.
TotalEnergies menjelaskan bahwa setelah peristiwa 8 April yang memengaruhi tiga unit di lokasi Satorp, unit yang tidak rusak bisa dioperasikan lagi. Sejak 14 April, kilang itu berjalan dengan kapasitas 230.000 barel per hari.
Washington ikut bersiap menghadapi tekanan politik
Di Amerika Serikat, konflik ini juga menimbulkan pertanyaan serius di Kongres. Menteri Pertahanan Pete Hegseth dijadwalkan menghadapi pertanyaan sulit dalam kesaksian pertamanya sejak konflik dimulai.
Sidang di House Armed Services Committee itu digelar untuk membahas permintaan anggaran pertahanan Trump senilai $1.5 triliun. Sejumlah anggota parlemen dari dua partai sebelumnya menyatakan ketidakpuasan atas informasi yang mereka terima dalam pembaruan rahasia soal perang, sementara General Dan Caine juga dijadwalkan memberi kesaksian dalam sidang yang diperkirakan berlangsung panas.





