Bantuan air bersih lebih dulu digulirkan ke Bondowoso saat musim kemarau mulai menekan sejumlah wilayah di Jawa Timur. Sebanyak 10 ribu liter air disalurkan untuk sekitar 140 kepala keluarga di tiga dusun yang sudah merasakan krisis air.
Tiga dusun yang menerima bantuan itu adalah Banteng Lor, Sumberwaru, dan Banteng Dukbeto. Penyaluran ini menjadi langkah awal penanganan darurat sebelum kebutuhan air bersih meluas ke daerah lain.
Di saat yang sama, enam daerah di Jawa Timur sudah menetapkan status siaga kekeringan. Daerah tersebut adalah Bondowoso, Lamongan, Banyuwangi, Lumajang, Bangkalan, dan Blitar.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, menyebut status itu masih bisa ditangani masing-masing daerah. Hingga kini belum ada permintaan dropping air bersih dari wilayah-wilayah yang sudah berstatus siaga tersebut.
Meski begitu, BPBD Jawa Timur tidak menunggu situasi memburuk. Koordinasi dengan pemerintah daerah terus diperkuat agar dampak kekeringan tidak berkembang lebih luas selama kemarau berlangsung.
Kewaspadaan juga dipusatkan pada daerah-daerah yang memang rutin menghadapi kekeringan setiap tahun. Sejumlah wilayah yang masuk kategori rawan itu antara lain Bojonegoro, Pacitan, Trenggalek, Pasuruan, Jombang, hingga wilayah Madura.
Untuk menghadapi potensi kebutuhan yang lebih besar, BPBD Jawa Timur menyiapkan kapasitas distribusi air bersih hingga 678 ribu rit dalam setahun. Dukungan logistik juga sudah disiapkan dalam jumlah besar agar penanganan di lapangan bisa bergerak cepat.
Perlengkapan yang disiapkan meliputi 7.472 tandon bantuan, 402 jerigen, 165 tandon lipat, dan 9.600 kolam air terpal. Seluruh perangkat itu diproyeksikan untuk memperlancar suplai air jika permintaan meningkat saat kemarau semakin panjang.
BPBD Jawa Timur juga menyiapkan opsi operasi modifikasi cuaca untuk membantu menurunkan hujan, terutama di kawasan waduk yang menjadi sumber pengairan. Gatot menjelaskan, pelaksanaan OMC saat kemarau berbeda dengan musim hujan karena bahan yang ditebar juga tidak sama.
Pada musim hujan, bahan yang lebih banyak digunakan adalah kapur. Sementara saat kemarau, garam lebih banyak dipakai untuk mendukung operasi tersebut.
Tahun lalu, operasi itu tidak sampai dilakukan karena kemaraunya basah. Tahun ini, potensi kekeringan dinilai lebih besar sehingga pemantauan lapangan dan koordinasi antardaerah menjadi semakin penting.
Source: jatim.tribunnews.com