Bukan Pengganti Terapi Medis, 15 Herbal yang Diteliti Mampu Menekan Sel Kanker

Di tengah perhatian terhadap kanker, sejumlah tanaman herbal kembali masuk sorotan karena diteliti memiliki senyawa bioaktif yang berpotensi membantu menghambat sel kanker. Meski begitu, pemanfaatannya tetap harus ditempatkan sebagai pendamping terapi medis, bukan pengganti.

Dorongan untuk meneliti herbal terus menguat karena Indonesia memiliki kekayaan hayati yang besar. Dosen Program Studi Farmasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dr. apt. Rifki Febriansah, menilai bahan alami di sekitar masyarakat punya potensi besar untuk pencegahan hingga pendamping terapi kanker.

Berbagai kajian ilmiah menyoroti senyawa aktif seperti kurkumin, gingerol, sulforafan, dan flavonoid. Senyawa-senyawa ini kerap dikaitkan dengan kemampuan membantu menghambat aktivitas sel kanker, meski penanganan kanker tetap harus mengikuti anjuran dokter.

Herbal yang paling sering dibahas

Kunyit termasuk tanaman yang paling banyak diteliti. Rimpang ini mengandung kurkumin yang dikenal memiliki sifat antiinflamasi dan antikanker, serta dipercaya membantu melindungi sel sehat dari kerusakan radikal bebas.

Temulawak juga berada dalam kelompok yang sering dibicarakan. Tanaman asli Indonesia ini kaya kurkumin dan antioksidan, sehingga kerap dikaitkan dengan dukungan daya tahan tubuh dan kesehatan hati, sekaligus memiliki potensi menekan perkembangan sel kanker tertentu.

Jahe tidak kalah menarik perhatian peneliti. Kandungan gingerol dan shogaol di dalamnya memiliki efek antioksidan tinggi, dan jahe juga sering digunakan untuk membantu meredakan mual pada pasien kemoterapi.

Sayuran dan tanaman yang ikut diteliti

Brokoli dikenal mengandung sulforafan, senyawa yang sering dikaitkan dengan kemampuan melawan pertumbuhan sel kanker. Sayuran cruciferous lain seperti kubis juga disebut memiliki manfaat serupa dalam kajian nutrisi.

Kubis kaya vitamin, serat, dan sulforafan. Kandungan itu dipercaya mendukung proses detoksifikasi tubuh dan membantu menghambat perkembangan sel abnormal.

Di sisi lain, ciplukan menjadi contoh tanaman liar yang mudah ditemukan di kebun. Tanaman ini mengandung fisalin, senyawa yang disebut dapat membantu menekan pertumbuhan sel kanker sekaligus memiliki sifat antiinflamasi.

Tanaman tradisional yang mendapat perhatian ilmiah

Tapak dara sudah lama menjadi perhatian dunia medis. Tanaman ini mengandung alkaloid vincristine dan vinblastine yang bahkan digunakan dalam pengobatan kanker modern.

Daun sirsak juga sangat populer di masyarakat karena sering dikaitkan dengan potensi antikanker. Guru Besar Institut Teknologi Bandung, Prof. I Ketut Adnyana, menyebut senyawa aktifnya mampu menekan sel kanker, bahkan dalam paparannya disebut menunjukkan hasil lebih baik dibanding tamoxifen pada pengujian tertentu terhadap sel kanker.

Melinjo ikut masuk daftar tanaman berpotensi antikanker. Biji melinjo mengandung gnetin C dan trans-resveratrol yang dipercaya membantu menekan pertumbuhan sel kanker, sementara masyarakat sudah akrab mengonsumsinya dalam bentuk emping atau sayur lodeh.

Daftar herbal lain yang juga diteliti

Keladi tikus sering dipakai dalam pengobatan tradisional dan telah diteliti karena mengandung senyawa aktif yang berpotensi membantu melawan sel kanker. Lempuyang wangi, yang masih satu keluarga dengan jahe, juga mendapat perhatian dalam penelitian ilmiah karena disebut memiliki senyawa aktif antikanker yang menarik untuk dikaji lebih jauh.

Temu kunci mengandung berbagai senyawa bioaktif. Kandungannya diteliti karena berpotensi menghambat pertumbuhan sel abnormal dalam tubuh.

Bawang tiwai atau bawang dayak yang berasal dari Kalimantan lama digunakan dalam pengobatan tradisional. Tanaman ini dipercaya memiliki sifat antioksidan dan antikanker.

Biji anggur juga masuk dalam kelompok bahan alami yang menarik diteliti. Kandungan antioksidan seperti proanthocyanidin dipercaya membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan yang dapat memicu gangguan kesehatan serius.

Propolis melengkapi daftar tersebut sebagai zat alami yang dihasilkan lebah madu. Kandungan flavonoid dan antioksidannya sering diteliti karena berpotensi membantu menghambat pertumbuhan sel kanker.

Walau daftar herbal yang diteliti terus bertambah, para ahli tetap menegaskan bahwa penggunaannya harus berada dalam pengawasan medis. Penanganan kanker tetap bertumpu pada pemeriksaan medis, terapi utama, pola makan sehat, dan gaya hidup yang seimbang.

Source: www.suara.com

Baca Juga

Back to top button