Gejala hantavirus sering mengecoh karena banyak orang mengira yang muncul hanyalah keluhan flu biasa. Padahal, infeksi ini dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan berat atau kerusakan ginjal akut jika tidak dikenali sejak awal.
Kewaspadaan penting karena penyakit ini tidak hanya menyerang satu organ. Hantavirus bisa memicu hantavirus pulmonary syndrome atau HPS pada paru-paru, serta hemorrhagic fever with renal syndrome atau HFRS pada ginjal.
Keluhan awal yang tampak ringan
Pada fase awal, tanda-tandanya kerap tidak khas. Batuk, pilek, demam, dan nyeri otot bisa muncul bersamaan, sehingga gejalanya mudah disalahartikan sebagai infeksi flu biasa.
Karena keluhannya umum, pemeriksaan laboratorium dibutuhkan untuk memastikan diagnosis. Perhatian perlu lebih besar saat kondisi pasien turun mendadak atau ketika muncul kegagalan pernapasan.
Dampak yang bisa cepat memburuk
HPS membuat paru-paru terganggu secara akut dan dapat membuat napas runtuh. Sementara itu, HFRS berkaitan dengan gangguan ginjal akut yang juga berpotensi membebani fungsi organ vital.
Kedua kondisi ini menunjukkan bahwa hantavirus bukan infeksi ringan. Bila terlambat ditangani, penyakit dapat berkembang cepat dan menjadi ancaman serius bagi keselamatan pasien.
Bagaimana virus ini menular
Berbeda dari banyak virus pernapasan lain, hantavirus tidak menyebar dengan pola yang sama. Manusia dapat terinfeksi saat menghirup partikel dari kotoran tikus atau melalui kontak langsung dengan hewan pengerat.
Risiko paparan meningkat di wilayah dengan permukiman padat, sanitasi buruk, dan populasi tikus yang tinggi. Situasi seperti itu membuat kontak dengan sumber penularan lebih mudah terjadi.
Lebih dari 40 varian yang dikenal
Hingga kini dikenal lebih dari 40 varian hantavirus, dan sekitar 20 di antaranya bersifat patogenik atau dapat menular ke manusia. Fakta ini memperlihatkan bahwa ancaman datang dari beberapa varian dalam kelompok yang sama, bukan dari satu jenis saja.
Dokter spesialis penyakit dalam sekaligus dosen FKK Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Zulistian Nurul Hidayati, menegaskan bahwa penyakit ini berbahaya karena tingkat fatalitasnya tinggi. Ia juga mengingatkan perlunya perhatian ekstra di area yang berisiko terpapar tikus.
Pencegahan tetap menjadi langkah utama
Masyarakat tidak perlu panik karena hantavirus berbeda dari COVID-19 yang sangat cepat menular antarmanusia. Meski begitu, kebersihan lingkungan dan pengendalian rodensia tetap menjadi kunci untuk menekan risiko.
Masker dan sarung tangan juga dianjurkan saat berisiko bersentuhan dengan area yang mungkin terpapar kotoran tikus. Langkah sederhana ini penting diterapkan di rumah maupun di area kerja yang rentan menjadi sarang hewan pengerat.
Di tengah meningkatnya perhatian publik, hantavirus perlu dikenali bukan sebagai flu biasa, melainkan infeksi yang dapat menyerang paru-paru dan ginjal sekaligus. Pengenalan gejala sejak awal dan pengendalian lingkungan tetap menjadi cara paling masuk akal untuk menahan risiko sebelum kondisi memburuk.
Source: www.beritasatu.com




