Bagi PT Vale Indonesia Tbk, angka yang paling menarik bukan hanya cadangan yang sudah tercatat, melainkan umur tambang yang masih punya ruang jauh lebih panjang. Perseroan menilai, jika seluruh sumber daya yang belum dimanfaatkan ikut diperhitungkan, operasi nikel dapat bertahan hingga sekitar 50 tahun.
Hitungan itu muncul dari peta cadangan dan sumber daya yang kini masih terbuka lebar. Vale menyebut cadangan yang sudah tercatat per 31 Desember 2025 mencapai 1,18 miliar ton basah atau sekitar 664 juta ton kering, sementara tambang yang bisa langsung ditambang saat ini masih cukup untuk sekitar 20 tahun.
Sumber daya masih jauh di atas cadangan
Head of Studies and Exploration INCO Tyas Agustinus Rabudianto menjelaskan bahwa ruang pertumbuhan perusahaan masih besar. Total sumber daya nikel Vale mencapai 1,67 miliar ton basah, atau sekitar satu setengah kali dari cadangan yang sudah tercatat.
Di dalam kelompok cadangan yang belum ditambang, Vale mencatat 695,57 juta ton basah limonit dan 489,40 juta ton basah saprolit. Dari sisi sumber daya, bijih limonit diperkirakan mencapai 657,1 juta ton basah, sedangkan saprolit mencapai 1,02 miliar ton basah.
Tyas menegaskan bahwa selisih antara cadangan dan sumber daya itu membuat umur tambang masih bisa melampaui 20 tahun. “At least 20 tahun. Untuk yang kita yang cadangan itu kita masih punya resource yang belum kita pakai. Satu setengah kali yang di sekarang. Kalau dijumlahkan bisa total 50-an tahun,” kata Tyas.
Eksplorasi diarahkan ke area yang belum dibor
Agar potensi itu tidak berhenti di atas kertas, Vale menyiapkan belanja eksplorasi sekitar US$15 juta hingga US$16 juta per tahun. Porsi itu setara sekitar 2% dari pendapatan dan diarahkan untuk menaikkan status sumber daya menjadi cadangan bijih nikel.
Perusahaan kini memusatkan eksplorasi pada area yang belum dibor. Fokusnya mencakup landform, area dengan jarak pemboran 400 meter, serta sumber daya tereka atau inferred.
Tyas menyebut perusahaan ingin memperluas cakupan area hingga setidaknya 70%–80% dari total wilayah. Tambahan data dari eksplorasi dinilai penting karena dapat mengubah status sumber daya menjadi cadangan yang siap ditambang.
Produksi tak selalu sejalan dengan kebutuhan operasi
Di saat potensi jangka panjang masih besar, volume produksi tahunan tetap dibatasi oleh kuota. Dalam RKAB 2026, kuota produksi bijih nikel Vale untuk tambang Bahodopi disetujui 2,31 juta ton, jauh di bawah usulan awal 8,8 juta ton, meski masih lebih tinggi dari realisasi 2025.
Kondisi serupa terjadi di tambang Pomalaa. Dari usulan 18,06 juta ton, kuota yang disetujui hanya 5,8 juta ton, sementara produksi nikel matte dari Sorowako ditargetkan 67.645 ton dan sedikit turun karena pemeliharaan rutin tungku peleburan.
Direktur Utama Vale Indonesia Bernadus Irmanto mengatakan kebutuhan bijih nikel untuk smelter di Pomalaa sangat besar. Proyek itu ditargetkan rampung pada Agustus 2026, sehingga pasokan bahan baku harus tersedia lebih dulu agar operasi tidak tersendat.
“Di Pomalaa kita mengusulkan 18 juta ton, yang disetujui adalah 5,8 juta ton. Jadi kalau Bapak Ibu bisa lihat, di Pomalaa seperti yang tadi saya jelaskan rencananya pabrik itu sudah mulai terbangun atau sudah mulai beroperasi pada Agustus. Jadi kalau pabrik sudah mulai beroperasi artinya sebelum Agustus sudah ada stockpile, sudah harus ada produksi,” ujar Bernadus.
Revisi RKAB disiapkan untuk menutup selisih pasokan
Karena selisih antara kebutuhan smelter dan kuota yang disetujui masih lebar, manajemen Vale berencana mengajukan revisi RKAB ke Kementerian ESDM. Langkah itu ditujukan untuk menyelaraskan volume produksi dengan kebutuhan smelter, terutama di Pomalaa dan Bahodopi.
Bernadus menegaskan pembahasan dengan kementerian akan segera dilakukan dalam waktu dekat. Perusahaan ingin memastikan pabrik baru tidak terganggu kekurangan pasokan bijih saat mulai beroperasi.
Di tingkat nasional, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat total cadangan bijih nikel Indonesia mencapai 5,32 miliar ton pada 2024. Maluku Utara menjadi wilayah dengan cadangan terbesar, dengan komposisi 60% saprolit dan sisanya limonit.