Dari 3.687 GW Potensi EBT, Baru 0,4 Persen Terserap di Sistem Listrik Nasional

Indonesia sebenarnya memiliki ruang yang sangat besar untuk memperkuat energi bersih. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memetakan potensi energi baru terbarukan nasional mencapai 3.687 gigawatt, tetapi yang baru dimanfaatkan di sektor ketenagalistrikan masih sekitar 0,4 persen.

Kesenjangan itu menunjukkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada kecepatan pemanfaatannya. Saat potensi begitu besar belum masuk ke sistem listrik secara optimal, peluang untuk memperluas kemandirian energi nasional ikut tertahan.

Pemanfaatan Masih Sangat Kecil

Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Ahmad Amiruddin, menjelaskan bahwa pemanfaatan EBT yang sudah berjalan baru sekitar 15,6 gigawatt. Jumlah itu berasal dari porsi kecil dari total potensi yang sudah dipetakan pemerintah.

“Namun hingga saat ini baru sekitar 0,4% dari potensi tersebut yang berhasil dimanfaatkan di sektor ketenagalistrikan atau sekitar 15,6 Gigawatt,” ujar Ahmad di Hotel Borobudur Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Angka tersebut memberi gambaran bahwa Indonesia masih berada pada tahap awal dalam menggarap energi bersih. Padahal, jika potensi yang tersedia bisa diolah lebih cepat, kontribusinya terhadap sistem kelistrikan nasional akan jauh lebih besar.

Energi Surya Masuk Prioritas

Di antara berbagai sumber EBT, pemerintah menempatkan energi surya sebagai salah satu fokus pengembangan. Jalurnya mencakup Pembangkit Listrik Tenaga Surya atau PLTS atap, serta sistem kelistrikan luar jaringan atau off-grid.

Pilihan ini dinilai penting karena energi surya bisa menjangkau kebutuhan listrik di lebih banyak wilayah. Dengan model yang lebih fleksibel, pengembangannya tidak hanya mendukung perluasan akses listrik bersih, tetapi juga membantu memperkuat bauran energi nasional.

Target Besar di Bawah Arahan Presiden

Pengembangan energi surya juga bergerak sejalan dengan mandat Presiden Prabowo yang menargetkan pembangunan PLTS sebesar 100 GW. Ahmad mengatakan percepatan EBT perlu dilakukan secara masif dalam 10 tahun ke depan agar manfaatnya terasa lebih luas.

“Sebaagaimana arahan Bapak Presiden, pembangunan energi baru terbarukan harus dipercepat secara masif dalam 10 tahun ke depan,” kata Ahmad.

Dalam penjelasannya, energi surya juga diposisikan sebagai salah satu pilar penting dalam visi Astacita yang menekankan swasembada energi dan kemandirian bangsa. Arah ini menunjukkan bahwa EBT tidak hanya dilihat sebagai isu lingkungan, tetapi juga bagian dari strategi besar kemandirian nasional.

Dampak ke Industri dan Sistem Energi

Porsi EBT yang lebih besar dinilai berpengaruh terhadap daya saing industri. Pemerintah menilai pasokan listrik yang stabil dan berkelanjutan menjadi kebutuhan penting dalam proses produksi, sehingga energi bersih dapat mendukung aktivitas industri secara lebih kuat.

Di saat yang sama, pengembangan energi surya diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil secara bertahap. Langkah itu relevan dengan kebutuhan sistem energi yang lebih efisien, lebih tangguh, dan lebih selaras dengan arah pembangunan hijau.

Tantangan Ada pada Implementasi

Potensi 3.687 GW menunjukkan Indonesia punya bekal yang sangat besar untuk beralih ke energi yang lebih bersih. Namun, tantangan nyata masih berada pada kesiapan infrastruktur, kecepatan implementasi, dan konsistensi kebijakan agar potensi itu benar-benar masuk ke sistem kelistrikan nasional.

Pemerintah menempatkan PLTS atap dan model off-grid sebagai bagian penting dari strategi percepatan. Jika langkah tersebut berjalan sesuai arah kebijakan, pemanfaatan EBT berpeluang tumbuh lebih cepat dan memberi kontribusi yang lebih besar bagi kemandirian energi Indonesia.

Baca Juga

Back to top button