Upaya membesarkan kriket di Kabupaten Blitar kini tidak lagi hanya bertumpu pada latihan atlet yang sudah ada. Persatuan Kriket Indonesia Kabupaten Blitar memilih jalur yang lebih panjang dengan masuk ke sekolah-sekolah dan menyiapkan turnamen pelajar sebagai pintu awal mengenalkan olahraga ini.
Langkah itu disusun sejalan dengan agenda pembinaan menuju level yang lebih tinggi. Di satu sisi, regenerasi dikejar sejak usia SMP, sementara di sisi lain tim senior tetap dipersiapkan untuk ajang kompetitif di Jawa Timur.
Turnamen pelajar sebagai pintu masuk
Program yang paling menonjol dalam rencana tersebut adalah Piala Bupati Blitar tingkat SMP se-Kabupaten Blitar. Ajang itu diposisikan sebagai sarana agar kriket lebih mudah dikenal pelajar dan menjadi jalan masuk untuk memperluas basis pemain.
Turnamen ini direncanakan berlangsung pada September dan bertepatan dengan momentum Hari Olahraga Nasional. PCI Kabupaten Blitar melihat kompetisi antarpelajar sebagai cara yang lebih nyata untuk menjaring bibit atlet sejak dini.
Bagi cabang olahraga yang masih tergolong baru di Kabupaten Blitar, ruang kompetisi di sekolah menjadi penting. Dari situ, potensi pemain baru bisa mulai terlihat dan dipetakan lebih awal.
Pembinaan tidak berhenti di level sekolah
Meski fokus ke pembinaan usia dini, persiapan tim kriket Kabupaten Blitar untuk tampil di ajang lebih besar tetap berjalan. Pelatih tim, Muhammad Yusri Yazid, menyebut agenda tahun ini disusun beriringan dengan sejumlah kejuaraan yang sudah menunggu.
Salah satu target terdekat adalah kemungkinan tampil pada Piala Wali Kota Surabaya yang dijadwalkan pada Juni. Namun, kepastian keikutsertaan tim masih menunggu undangan dari panitia.
Jika undangan itu datang, ajang tersebut akan dipakai untuk menambah pengalaman bertanding para atlet. Pengalaman itu dianggap penting agar kesiapan tim meningkat sebelum menghadapi pertandingan yang lebih menantang.
Menuju Kejurprov Jawa Timur
Selain Surabaya, Kabupaten Blitar juga menyiapkan diri untuk Kejuaraan Provinsi Jawa Timur. Agenda itu diperkirakan berlangsung pada September dan dipandang sebagai momen penting untuk mengukur kemampuan atlet.
Bagi PCI Kabupaten Blitar, Kejurprov bukan hanya tempat bertanding. Ajang itu juga menjadi tolok ukur untuk membaca daya saing tim di level regional.
Karena itu, rangkaian turnamen yang disusun tahun ini tidak berdiri sendiri. Seluruhnya diposisikan sebagai bagian dari proses pembentukan tim yang lebih matang, bukan sekadar mengejar hasil sesaat.
Jemput bola ke sekolah
Yusri menegaskan bahwa kriket masih tergolong olahraga baru di Kabupaten Blitar. Kondisi itu membuat sosialisasi tidak cukup dilakukan secara umum, melainkan harus menyentuh langsung calon pemain di lingkungan sekolah.
PCI Kabupaten Blitar memilih pendekatan door-to-door ke sekolah-sekolah. Cara ini dinilai lebih efektif dibanding hanya memberi sosialisasi kepada guru olahraga.
Pendekatan langsung ke siswa juga dianggap membantu mempercepat pengenalan dasar-dasar kriket. Dengan melihat olahraga ini secara nyata, pelajar memiliki kesempatan lebih besar untuk memahami dan tertarik mencoba.
Arah pembinaan jangka panjang
Skema yang dijalankan PCI Kabupaten Blitar menunjukkan bahwa mereka tidak hanya memburu capaian cepat. Pembinaan, kompetisi, dan regenerasi disusun dalam satu jalur agar ekosistem kriket bisa tumbuh berkelanjutan.
Rangkaian agenda tersebut juga diarahkan untuk memperkuat kesiapan menuju Porprov Jatim 2027. Fondasi tim yang kuat memang lazim dibangun lewat kompetisi, evaluasi, dan lahirnya pemain-pemain baru dari usia sekolah.
Jika seluruh program berjalan sesuai rencana, kriket Kabupaten Blitar berpeluang mendapat ruang yang lebih luas di kalangan pelajar. Pada saat yang sama, tim juga punya kesempatan lebih besar untuk mengasah kemampuan di kejuaraan yang lebih kompetitif di Jawa Timur.





