Di Dasar Daftar Work-Life Balance, Amerika Serikat Hampir Disalip Nigeria

Ketika banyak negara berlomba menunjukkan kekuatan ekonominya, hasil pemeringkatan soal keseimbangan hidup dan kerja justru memperlihatkan gambaran yang tidak selalu sejalan dengan ukuran kemakmuran. Amerika Serikat nyaris masuk posisi paling bawah dalam daftar negara dengan work-life balance paling suram, sementara Nigeria berada tepat di bawahnya.

Dalam Global Life-Work Balance Index 2025 dari Remote.com, Amerika Serikat menempati peringkat ke-59 dari 60 ekonomi terbesar yang dinilai. Skor kompositnya hanya 31,17 dari 100 poin, sedangkan Nigeria berada di posisi terakhir dengan skor 30,07.

Amerika Serikat terus merosot

Posisi Amerika Serikat menarik perhatian karena turun konsisten dalam tiga tahun terakhir. Negara itu berada di peringkat 53 pada 2023, lalu turun ke posisi 55 pada 2024, dan kembali merosot ke urutan 59 pada 2025.

Penilaian ini juga menyoroti lemahnya perlindungan dasar bagi pekerja di Amerika Serikat. Di negara tersebut, tidak ada kewajiban federal untuk cuti berbayar maupun cuti melahirkan.

Negara di dasar daftar menghadapi beban yang berat

Nigeria berada di peringkat paling bawah dengan skor 30,07. Negara itu dinilai terpukul oleh akses kesehatan yang minim, jatah cuti yang sangat sedikit, dan persoalan keamanan yang ikut menekan kehidupan pekerja.

Kombinasi faktor tersebut membuat ruang pemulihan bagi pekerja menjadi sangat terbatas. Dalam indeks ini, work-life balance tidak hanya dilihat dari jam kerja, tetapi juga dari kondisi yang memengaruhi kualitas hidup secara menyeluruh.

Asia dan Timur Tengah ikut tertekan

Sejumlah negara di Asia dan Timur Tengah juga masuk kelompok dengan keseimbangan hidup kerja yang rendah. China, India, Qatar, dan Uni Emirat Arab tercatat di antara negara-negara dengan beban kerja yang tinggi.

China hanya memberi rata-rata cuti tahunan 5 hari bagi karyawan yang baru bekerja satu tahun. Jam kerja mingguan di negara itu mencapai 46,1 jam, yang ikut menekan waktu istirahat pekerja.

India menghadapi pola serupa dengan durasi kerja 45,7 jam per minggu. Di sisi lain, upah minimum di negara itu hanya sekitar 0,27 dollar AS per jam.

Uni Emirat Arab juga mencatat jam kerja yang bisa menyentuh 49 jam per minggu. Meski begitu, tingkat kebahagiaan di negara itu tetap cenderung lebih baik karena didukung sistem proteksi sosial yang kuat bagi penduduknya.

Apa yang membuat skor turun

Remote.com menilai work-life balance yang buruk biasanya muncul dari gabungan beberapa faktor. Jam kerja panjang dan cuti yang terbatas menjadi hambatan paling nyata bagi pekerja untuk beristirahat.

Rendahnya standar upah dan sulitnya akses layanan kesehatan ikut memperburuk kualitas hidup secara keseluruhan. Faktor sosial seperti keamanan lingkungan dan inklusivitas tempat kerja juga memengaruhi kebahagiaan karyawan dalam jangka panjang.

Posisi Indonesia masih aman dari zona merah

Indonesia tidak masuk 20 besar negara dengan work-life balance terburuk. Skor Indonesia berada di angka 51,22 dan menempatkannya di peringkat ke-35 dari 60 negara yang dianalisis.

Posisi itu membuat Indonesia masih berada di atas Vietnam yang berada di urutan 39 dan Thailand di posisi 40. Namun, Indonesia tetap tertinggal dari Singapura yang menempati peringkat 27 dan Malaysia di urutan 29.

Di papan atas daftar, Selandia Baru kembali menjadi negara dengan work-life balance terbaik dengan skor 86,59. Irlandia menyusul di posisi kedua dengan skor 81,17, jauh di atas negara-negara yang berada di dasar daftar.

Baca Juga

Back to top button