Di Saat Pasar Lesu, Mobil Listrik Justru Tumbuh Berkat Pembeli Kelas Menengah Atas dan Hemat Biaya

Di saat pasar otomotif masih menghadapi tekanan, mobil listrik justru tetap mencatat pertumbuhan yang kuat. Diler menilai, ada dua dorongan utama yang membuat permintaannya tidak ikut melemah, yakni profil pembeli dan besarnya penghematan biaya pakai.

Fenomena ini terlihat dari data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia yang menunjukkan distribusi mobil listrik dari pabrikan ke diler atau wholesales pada April 2026 mencapai 14.815 unit. Angka itu naik 40 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Secara kumulatif, penjualan mobil listrik sepanjang Januari-April 2026 sudah menembus 47.781 unit. Capaian tersebut melompat 89,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Bagi sebagian pelaku diler, kondisi ini menunjukkan bahwa mobil listrik bergerak dengan pola yang berbeda dari pasar kendaraan secara umum. Pelemahan ekonomi memang biasanya menahan pembelian mobil, tetapi segmen listrik tetap punya ruang tumbuh.

CEO Haka Auto, Hariyadi Kaimuddin, menyebut mayoritas pembeli mobil listrik masih berasal dari kalangan menengah-atas. Kelompok ini dinilai belum terlalu terpengaruh gejolak ekonomi seperti konsumen di segmen lain.

Karena itu, permintaan kendaraan listrik masih bisa bertahan meski daya beli sebagian masyarakat sedang tertekan. Dalam pandangan Hariyadi, basis pembeli utama EV masih cukup kuat untuk menjaga penjualan tetap bergerak.

Penghematan harian jadi pertimbangan besar

Selain profil konsumen, alasan lain yang ikut mendorong penjualan adalah efisiensi biaya operasional. Banyak calon pembeli mulai menghitung ulang pengeluaran rutin untuk transportasi, terutama ketika biaya bahan bakar terasa makin berat.

Hariyadi menilai selisih biaya antara mobil listrik dan mobil berbahan bakar konvensional menjadi semakin mencolok saat harga BBM naik. Kondisi itu membuat mobil listrik terlihat lebih menarik sebagai pilihan jangka panjang.

Ia juga mencontohkan pengalaman yang sering dibicarakan dengan pengguna kendaraan listrik. Pengeluaran BBM yang sebelumnya sekitar Rp 5 juta disebut bisa turun menjadi sekitar Rp 600.000 setelah beralih ke EV.

Perhitungan seperti itu membuat keputusan membeli mobil listrik tidak semata-mata didorong teknologi baru. Konsumen juga melihat kendaraan ini sebagai cara untuk menekan biaya rutin yang muncul setiap bulan.

Pasar masih bergerak di tengah tekanan

Kombinasi antara pembeli dari segmen menengah-atas dan dorongan efisiensi biaya membuat pasar mobil listrik tetap aktif. Situasi ini menjelaskan mengapa penjualannya tidak ikut tertekan separah pasar kendaraan pada umumnya.

Kenaikan 40 persen secara bulanan dan lonjakan 89,4 persen secara kumulatif menunjukkan bahwa minat konsumen masih terjaga. Data tersebut juga memberi sinyal bahwa mobil listrik semakin dipandang masuk akal dari sisi pengeluaran.

Bagi diler, tren ini membuat mobil listrik tetap menjanjikan meski ekonomi belum sepenuhnya pulih. Selama dua faktor itu masih bertahan, permintaan kendaraan listrik dinilai berpeluang tetap kuat di tengah pasar otomotif yang lesu.

Source: otomotif.kompas.com

Baca Juga

Back to top button