Saat pasar global diguncang inflasi, konflik geopolitik, dan perlambatan ekonomi, perhatian investor sering bergeser ke mata uang yang lebih mampu menjaga nilai kekayaan. Di kelompok ini, franc Swiss kembali disebut sebagai benteng teraman karena stabilitasnya masih dianggap paling kuat.
Mata uang safe haven tidak diburu karena menjanjikan imbal hasil tinggi. Daya tarik utamanya justru ada pada likuiditas, reputasi ekonomi yang solid, dan kemampuan bertahan ketika pasar bergerak liar.
Franc Swiss tetap berada di posisi paling atas
Franc Swiss atau CHF masih dipandang sebagai acuan utama untuk perlindungan nilai aset. Status netral Swiss, inflasi yang rendah, sistem perbankan yang solid, dan utang pemerintah yang relatif kecil menjadi fondasi utama kepercayaan investor.
Dalam beberapa tahun terakhir, CHF juga kerap menguat ketika tensi geopolitik meningkat. Swiss National Bank ikut menjaga stabilitas nilai tukar agar franc tidak bergerak terlalu liar di pasar.
Kondisi itu membuat CHF sering diperlakukan sebagai tempat parkir dana yang dipercaya saat ketidakpastian membesar. Karena alasan tersebut, franc Swiss tetap menjadi pilihan utama ketika pasar global memasuki fase yang tidak tenang.
Dolar AS masih sulit tergeser
Di belakang franc Swiss, dolar Amerika Serikat atau USD tetap menjadi nama besar dalam kelompok mata uang aman. Posisi dolar ditopang statusnya sebagai cadangan devisa terbesar di dunia dan penggunaannya yang luas dalam perdagangan internasional.
Saat ekonomi global melemah, investor biasanya tetap memburu aset berbasis dolar, termasuk obligasi pemerintah Amerika Serikat. Likuiditas USD yang sangat besar juga membuatnya mudah diperdagangkan ketika pasar membutuhkan aset yang aman.
Meski begitu, dolar tidak sepenuhnya bebas tekanan. Sejumlah analis menyoroti besarnya utang pemerintah Amerika Serikat sebagai salah satu faktor yang berpotensi menekan kekuatan dolar dalam jangka panjang.
Yen Jepang dan euro masih punya tempat
Yen Jepang atau JPY tetap dikenal sebagai safe haven tradisional. Mata uang ini kerap menguat saat pasar global panik karena Jepang memiliki aset luar negeri yang besar dan ekonomi yang relatif stabil.
Namun, performa yen pada 2026 dinilai tidak sekuat sebelumnya. Kekhawatiran muncul dari tingginya utang pemerintah Jepang dan perlambatan ekonomi domestik yang ikut membebani sentimen pasar.
Euro atau EUR juga masih masuk radar investor yang ingin mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Mata uang ini ditopang ekonomi besar seperti Jerman dan Prancis, serta dipakai luas dalam transaksi internasional.
Meski likuiditasnya tinggi, euro lebih sensitif terhadap gejolak politik dan ekonomi di kawasan Eropa dibanding franc Swiss. Karena itu, EUR lebih sering dipilih sebagai alat diversifikasi daripada aset perlindungan paling kuat.
Mata uang Asia dan komoditas ikut dilirik
Di Asia, dolar Singapura atau SGD mulai menarik perhatian sebagai mata uang defensif. Singapura memiliki ekonomi stabil, cadangan devisa kuat, sistem keuangan sehat, serta kebijakan yang disiplin dalam menjaga inflasi dan nilai tukar.
Di sisi lain, dolar Kanada atau CAD dan dolar Australia atau AUD juga kerap masuk daftar mata uang yang relatif aman. Keduanya didukung ekonomi maju dan sumber daya alam besar, tetapi pergerakannya sangat dipengaruhi harga komoditas global.
Minyak, gas, batu bara, dan logam menjadi faktor penting yang ikut menentukan arah CAD dan AUD. Itu membuat keduanya tetap menarik, tetapi juga lebih sensitif terhadap perubahan pasar komoditas dunia.
Pada akhirnya, tidak ada mata uang yang benar-benar bebas risiko. Nilai tukar tetap dipengaruhi inflasi, kebijakan bank sentral, suku bunga, dan konflik geopolitik, sehingga pilihan mata uang pelindung nilai perlu disesuaikan dengan tujuan keuangan dan profil risiko masing-masing investor.
Source: www.viva.co.id