Di Yerusalem, parade Hari Yerusalem kembali menampilkan betapa rapuhnya batas antara perayaan, simbol, dan klaim kedaulatan. Di Kota Tua, iring-iringan ribuan nasionalis Israel berubah menjadi ajang ketegangan yang memaksa banyak warga Palestina menutup diri dan menutup toko lebih awal.
Rute pawai yang melintasi kawasan Muslim membuat suasana di Old City terasa jauh dari sekadar peringatan tahunan. Pengamanan sangat ketat, sementara teriakan bernada rasis dari sebagian peserta menambah tekanan bagi warga Palestina yang menyaksikan peristiwa itu sebagai pengingat lama atas perebutan kota yang masih berlangsung.
Polisi Israel mengerahkan ribuan personel di sepanjang jalur parade, termasuk aparat dengan perlengkapan anti huru-hara. Barikade juga dipasang di sekitar Gerbang Damaskus, pintu utama menuju kawasan Muslim bersejarah, dan warga Palestina yang tidak tinggal di Old City dicegah masuk.
Sejumlah pedagang Palestina mengatakan mereka terpaksa menutup usaha sebelum parade dimulai. Aktivis yang hendak memberi kehadiran protektif kepada warga Palestina juga sempat dipaksa keluar dari Old City, bersama anggota media, sebelum jurnalis diizinkan kembali dengan pembatasan area di sekitar Austrian Hospice.
Di sepanjang arak-arakan, peserta mengibarkan bendera Israel dan melontarkan seruan seperti “May your villages burn” dan “Death to Arabs.” Bagi warga Palestina, suara-suara itu memperkuat kesan bahwa peringatan ini bukan hanya peristiwa seremonial, melainkan juga ajang unjuk kekuatan politik.
Pawai dimulai dari Yerusalem Barat dan berakhir di Tembok Barat, dekat Temple Mount yang menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik berkepanjangan di kota itu. Bagi orang Yahudi, lokasi tersebut dipandang sebagai peninggalan dua kuil kuno, sedangkan umat Muslim menyebutnya Al Haram Al Sharif atau Noble Sanctuary.
Pengaturan di kawasan itu sudah berlangsung puluhan tahun. Berdasarkan kesepakatan dengan otoritas Muslim, area tersebut dikelola yayasan keagamaan Yordania, dan umat Yahudi boleh berkunjung tetapi tidak boleh berdoa di sana.
Pada hari yang sama, Menteri Keamanan Nasional Israel yang berhaluan jauh kanan, Itamar Ben-Gvir, datang ke kompleks itu. Ia mengibarkan bendera Israel di bawah penjagaan aparat dan mendorong izin doa bagi orang Yahudi di lokasi yang kerap menjadi titik rawan bentrokan.
Di tengah parade, sejumlah peserta juga meneriakkan klaim bahwa kawasan itu sepenuhnya milik Israel. Seruan seperti “The Temple Mount is in our hands, the Temple Mount is ours” menunjukkan bahwa pawai ini dipakai sebagai panggung untuk menegaskan posisi politik atas situs yang diperebutkan.
Bagi sebagian peserta, Yerusalem adalah kota suci yang menjadi pusat identitas Yahudi. Shira Gefen, perempuan Israel berusia 53 tahun dari dekat Haifa, mengatakan Yerusalem adalah kota suci yang akan tetap demikian selamanya.
George, pria Israel berusia 65 tahun yang tinggal dekat Ashkelon dan menolak menyebut nama belakangnya, juga mengaku senang bisa hadir. Ia menyebut Yerusalem sebagai jantung dunia dan jantung seluruh umat Yahudi.
Namun, bagi warga Palestina, parade ini tidak dipandang netral. Mereka melihatnya sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk memperkuat kehadiran Yahudi di seluruh kota dengan mengorbankan kepentingan mereka.
Akar ketegangan itu kembali pada sejarah 1967, ketika Israel merebut Yerusalem Timur dalam perang Timur Tengah dan kemudian menganeksasinya. Langkah itu tidak diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa dan sebagian besar negara, sementara warga Palestina tetap memandang Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara Palestina di masa depan.





