Dolar AS Makin Perkasa, Rupiah Tertekan Di Awal Pekan Dan Hampir Sentuh Rp18.000

Tekanan terhadap rupiah belum juga mereda ketika perdagangan dibuka kembali setelah libur panjang. Mata uang Garuda sempat berada di level Rp17.879 per dolar AS, hanya berjarak tipis dari batas psikologis Rp18.000 dan turun 74 poin atau 0,42 persen dari penutupan sebelumnya.

Pelemahan itu terjadi saat dolar AS masih menunjukkan dominasi di pasar global. Kondisi tersebut membuat mata uang negara berkembang bergerak lebih hati-hati sejak awal transaksi, termasuk rupiah yang langsung terseret sentimen eksternal.

Salah satu pemicu utama datang dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas. Lukman Leong dari DOO Financial Futures menilai tekanan pada rupiah ikut dipengaruhi pernyataan Iran yang menghentikan perundingan damai dengan Amerika Serikat.

Lukman juga menyoroti rencana Iran untuk menutup penuh Selat Hormuz. Isu itu menambah kekhawatiran pasar karena jalur tersebut memiliki peran penting dalam pergerakan energi dan stabilitas kawasan.

Di sisi lain, penguatan dolar AS tidak hanya ditopang faktor geopolitik. Data manufaktur AS yang lebih kuat dari perkiraan ikut memperkuat posisi mata uang tersebut dan menekan ruang gerak aset berisiko, termasuk mata uang Asia.

Di kawasan regional, pergerakan mata uang berlangsung campuran. Yuan China menguat 0,02 persen dan ringgit Malaysia stagnan, sementara peso Filipina melemah 0,03 persen.

Sejumlah mata uang Asia lain juga bergerak dalam tekanan. Dolar Singapura turun 0,01 persen, yen Jepang terkoreksi 0,03 persen, dan won Korea Selatan melemah 0,16 persen, sedangkan dolar Hong Kong turun 0,01 persen.

Pola serupa juga terlihat pada mata uang utama negara maju. Euro Eropa naik tipis 0,01 persen, tetapi poundsterling Inggris turun 0,01 persen di hadapan dolar AS.

Pada kelompok mata uang komoditas, dolar Australia dan dolar Kanada sama-sama melemah 0,06 persen. Franc Swiss juga terkoreksi 0,03 persen, menegaskan bahwa dolar masih memegang kendali di pasar valas global.

Untuk perdagangan hari ini, Lukman memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS. Rentang itu menunjukkan pasar masih menimbang kuatnya dolar AS di tengah sentimen internasional yang belum benar-benar reda.

Dengan tekanan yang datang dari geopolitik dan data ekonomi AS, peluang pemulihan rupiah masih terbatas dalam perdagangan harian. Selama faktor-faktor tersebut tetap menopang dolar, pasar valuta asing cenderung bertahan dalam sikap defensif.

Source: www.cnnindonesia.com

Baca Juga

Back to top button