Dua Gajah Dan Seekor Harimau Sumatra Mati Di Mukomuko, BKSDA Telusuri Penyebabnya

Pemeriksaan atas kematian satu harimau Sumatra dan dua gajah Sumatra di Bengkulu masih berjalan, sementara tim konservasi terus mengumpulkan data lapangan untuk memastikan penyebab pasti. Dua kejadian ini menyita perhatian karena seluruh satwa ditemukan di wilayah Kabupaten Mukomuko dan sama-sama berstatus dilindungi.

Di satu titik, harimau Sumatra ditemukan mati di aliran sungai wilayah SP 4, Desa Bukit Makmur, Kecamatan Penarik, Kabupaten Mukomuko. Kepala BKSDA Bengkulu Agung Nugroho menyebut informasi awal dari warga masih terus diklarifikasi oleh tim di lapangan.

Kepala Seksi Wilayah I BKSDA, Said Jauhari, mengatakan laporan detail mengenai temuan itu belum lengkap. Data yang masih dicari mencakup jenis kelamin, titik pasti lokasi, serta penyebab kematian satwa tersebut.

BKSDA Bengkulu sudah menurunkan personel ke lokasi bersama dokter hewan. Sebanyak lima orang dikerahkan bersama personel Resor Mukomuko dan dokter hewan di Puskesmas Ipuh, Kabupaten Mukomuko untuk mendukung proses nekropsi terhadap harimau Sumatra itu.

Penanganan dilakukan dengan hati-hati karena satwa yang ditemukan merupakan satwa liar dilindungi. Hingga kini, pengecekan lapangan masih berlangsung dan BKSDA belum mengumumkan hasil akhir karena pemeriksaan belum tuntas.

Dua gajah di kawasan yang sama

Sebelum temuan harimau itu, dua gajah Sumatra juga ditemukan mati misterius di kawasan yang sama. Laporan masyarakat kepada BKSDA Bengkulu pada 29 April 2026 menjadi awal diketahui kematian satwa tersebut.

Lokasi temuan berada di wilayah konsesi PT Bentara Agra Timber atau BAT, di kawasan Hutan Produksi Air Teramang. Pada 30 April, tim BKSDA Bengkulu bersama dokter hewan bergerak ke lokasi untuk verifikasi dan penanganan awal, termasuk persiapan nekropsi.

Konfirmasi visual menunjukkan dua gajah mati, terdiri dari satu individu dewasa dan satu anakan. Keduanya diduga induk dan anak karena posisinya berdekatan, sementara gading kedua satwa itu masih utuh.

Penyebab kematian dua gajah Sumatra itu juga belum dapat dipastikan. Hasil nekropsi dan analisis laboratorium masih ditunggu untuk memberi gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi yang membuat keduanya mati.

Pada 1 Mei, tim gabungan sudah berada di lokasi untuk menjalankan prosedur nekropsi sesuai standar penanganan satwa liar dilindungi. Tim itu terdiri dari unsur BKSDA Bengkulu, Gakkum Kehutanan Wilayah Sumatera, Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat, dan kepolisian.

Rangkaian temuan ini menambah perhatian terhadap kondisi satwa liar di Bengkulu, khususnya di Mukomuko dan kawasan hutan sekitarnya. Di wilayah yang sama, dua gajah dan satu harimau Sumatra kini sama-sama menjadi objek pemeriksaan aparat konservasi untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.

Source: www.cnbcindonesia.com

Baca Juga

Back to top button