Dugaan Hantavirus Di Kapal Pesiar MV Hondius, Tiga Penumpang Meninggal Di Tengah Atlantik

Kematian tiga penumpang di atas kapal pesiar MV Hondius memicu perhatian internasional setelah muncul dugaan wabah hantavirus di tengah pelayaran Samudra Atlantik. Situasi itu menjadi sorotan karena hantavirus biasanya dikaitkan dengan paparan rodensia, bukan dengan perjalanan kapal pesiar yang berlayar jauh dari wilayah endemik.

Kapal berbendera Belanda itu kini berlabuh di Praia, ibu kota Cape Verde, sementara otoritas kesehatan menilai risiko penularan dan memeriksa kondisi penumpang serta awak. Hingga saat ini, penyebab pasti infeksi di kapal belum dipastikan dan pemeriksaan laboratorium maupun epidemiologi masih berlangsung.

Oceanwide Expeditions, operator MV Hondius, menyatakan tiga korban meninggal adalah penumpang kapal. Perusahaan itu juga mengatakan otoritas kesehatan setempat telah memeriksa dua awak yang menunjukkan gejala dan membutuhkan perawatan medis mendesak.

Pada Minggu pukul 23.00 CET, otoritas Cape Verde belum mengizinkan penumpang turun dari kapal untuk mencari perawatan medis. Organisasi Kesehatan Dunia ikut memfasilitasi koordinasi antara negara anggota dan operator kapal untuk evakuasi medis dua penumpang bergejala serta penilaian risiko kesehatan masyarakat bagi penumpang lain.

Kondisi di atas kapal

MV Hondius membawa 170 penumpang dan 71 awak, termasuk satu dokter, menurut Oceanwide Expeditions. Perusahaan itu menegaskan fokus utamanya saat ini adalah kesehatan dan keselamatan penumpang serta awak.

WHO menyebut dari enam orang yang menunjukkan gejala, baru satu kasus infeksi hantavirus yang dipastikan lewat laboratorium. Lima kasus lainnya masih berstatus dugaan, sementara pemeriksaan rinci tetap berjalan.

Pemeriksaan itu mencakup pengujian laboratorium lanjutan, penyelidikan epidemiologis, dan sekuensing virus. Dukungan medis juga terus diberikan kepada penumpang dan awak yang terdampak.

Oceanwide Expeditions mengatakan otoritas Belanda sudah menyetujui pemulangan dua awak yang bergejala, serta jenazah satu korban, ke Belanda. Perusahaan itu menyebut prioritasnya adalah memastikan dua orang di kapal menerima perawatan yang memadai dan cepat.

Jejak perjalanan kapal

Data MarineTraffic menunjukkan MV Hondius berangkat dari Ushuaia, Argentina, sekitar tujuh minggu lalu. Dalam perjalanannya, kapal itu sempat singgah di Antartika dan wilayah seberang laut Inggris, Saint Helena, sebelum akhirnya berlabuh di Cape Verde.

Kementerian Kesehatan provinsi Tierra del Fuego, tempat Ushuaia berada, mengatakan belum pernah ada kasus hantavirus yang dilaporkan di provinsi itu. Kondisi tersebut membuat asal mula infeksi di kapal terasa janggal bagi sejumlah pihak yang mengikuti kasus ini.

Scott Miscovich, dokter keluarga sekaligus presiden dan CEO Premier Medical Group, mengatakan sangat tidak biasa bila wabah hantavirus terjadi di kapal yang tidak berlayar ke wilayah endemik. Ia menilai kapal itu seharusnya segera dibawa ke darat agar semua orang di atasnya dapat dievaluasi.

Korban dan penanganan

Korban pertama adalah seorang pria berusia 70 tahun yang meninggal di atas kapal. Jenazahnya dibawa ke Saint Helena, menurut Kementerian Kesehatan Afrika Selatan yang dikutip AP.

Istri pria itu kemudian kolaps di bandara di Afrika Selatan saat hendak terbang pulang ke Belanda, negara asalnya, dan meninggal di rumah sakit. Dua korban jiwa lainnya diketahui berkewarganegaraan Belanda, menurut juru bicara kementerian luar negeri Belanda kepada Reuters.

Seorang warga negara Inggris yang jatuh sakit setelah kapal meninggalkan Saint Helena kini dirawat di Johannesburg, kata otoritas kesehatan Afrika Selatan. Oceanwide Expeditions menyebut belum ada keputusan soal pemindahan awak yang juga menunjukkan gejala untuk mendapat perawatan.

Mengapa hantavirus menjadi perhatian

CDC menjelaskan manusia paling sering terinfeksi hantavirus melalui kontak dengan rodensia seperti tikus dan mencit, terutama urine, kotoran, dan air liurnya. Satu-satunya jenis yang diketahui dapat menular antarmanusia adalah Andes virus, dan itu pun jarang.

Jenis hantavirus di Belahan Bumi Barat dapat menyebabkan hantavirus pulmonary syndrome, sedangkan jenis yang banyak ditemukan di Eropa dan Asia juga bisa memicu penyakit ginjal parah. Gejala awal meliputi kelelahan, demam, nyeri otot, sakit kepala, pusing, menggigil, dan gangguan perut.

Pada tahap lanjut, pasien dapat mengalami batuk, sesak napas, dan dada terasa tertekan. CDC mengatakan tidak ada obat khusus untuk hantavirus selain perawatan gejala, dan pasien dengan gangguan napas berat mungkin perlu diintubasi.

Penyakit ini jarang, tetapi sangat mematikan. CDC memperkirakan sekitar 38 persen orang yang berkembang menjadi gejala pernapasan dapat meninggal, dan angka itu bisa lebih tinggi pada pasien lanjut usia atau yang mengalami gangguan imun.

Baca Juga

Back to top button