Target mandatori E20 pada 2028 mendorong Pertamina mempercepat pembangunan ekosistem bioetanol domestik. Dorongan itu terlihat dari langkah perusahaan menggandeng PT Perkebunan Nusantara III dan PT Medco Energi Internasional untuk menyiapkan rantai pasok, fasilitas produksi, dan keterhubungan industri dari hulu ke hilir.
Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan tiga nota kesepahaman antara Pertamina New & Renewable Energy atau PNRE, PTPN III, dan PT Medco Energi Internasional melalui PT Medco Intidinamika. Skema kerja sama ini diarahkan untuk mendukung ketahanan energi nasional, sekaligus memberi ruang bagi pemanfaatan sumber daya dalam negeri yang lebih luas.
Dorongan menuju E20
Pemerintah dan pelaku usaha energi kini menempatkan bioetanol sebagai bagian penting dari transisi energi. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniya Listiya Dewi, menegaskan bahwa penerapan bioetanol tidak bisa ditunda.
Ia menyebut target E20 membutuhkan lompatan besar pada pasokan serta infrastruktur pendukung. Karena itu, kolaborasi lintas pihak dinilai penting agar produksi dan kepastian offtaker bisa berjalan dalam satu ekosistem yang utuh.
Pembagian peran di dalam kerja sama
Dalam skema yang dibangun, PTPN III berperan menyiapkan bahan baku berbasis komoditas perkebunan. Medco masuk untuk memperkuat pengembangan industri serta infrastruktur pendukung, sedangkan Pertamina melalui PNRE mendorong hilirisasi dan pemanfaatan bioetanol sebagai energi bersih.
Pembagian ini tidak hanya menyasar kebutuhan energi, tetapi juga dikaitkan dengan agenda swasembada pangan dan kemandirian energi nasional. Dengan memanfaatkan potensi domestik, ekosistem bioetanol diarahkan agar memberi manfaat dari sisi industri sekaligus sektor hulu.
Tiga proyek awal untuk pasokan berkelanjutan
Kerja sama tersebut tidak berhenti pada komitmen umum, tetapi sudah diarahkan ke tiga proyek utama. Kesepakatan pertama mencakup revitalisasi pabrik bioetanol di Lampung dengan konsep multi-feedstock, menggunakan bahan baku seperti ubi kayu dan komoditas lain yang tersedia di wilayah itu.
Proyek kedua berfokus pada pembangunan pabrik bioetanol baru di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Fasilitas ini akan ditopang pengembangan lahan dan rantai pasok berbasis ubi kayu, jagung, serta tebu.
Kesepakatan ketiga diarahkan pada pengembangan pabrik bioetanol berbasis molase bersama PT Sinergi Gula Nusantara, anak usaha PTPN III. Keterhubungan dengan industri gula nasional diharapkan membuat pasokan bahan baku lebih stabil dan berkelanjutan.
Kebutuhan nasional diperkirakan meningkat tajam
CEO Pertamina NRE, John Anis, menjelaskan bahwa kebutuhan bioetanol nasional untuk mendukung E20 pada 2028 diperkirakan berada di kisaran 3 juta hingga 5 juta kiloliter. Angka itu menunjukkan bahwa pembangunan kapasitas produksi tidak bisa bertumpu pada satu jenis bahan baku saja.
Karena itu, pendekatan multi-feedstock dan multi distribution menjadi pilihan yang disiapkan. Strategi tersebut disesuaikan dengan ketersediaan bahan baku di setiap wilayah dan potensi lokal yang bisa memperkuat rantai pasok.
John juga menekankan pentingnya dukungan dari sektor hulu agar suplai bahan baku tetap terjaga. Tanpa pasokan yang berkesinambungan, target produksi bioetanol akan sulit dicapai sesuai kebutuhan nasional.
Manfaat bagi petani dan industri
Direktur Utama PTPN III, Denaldy Mulino Mauna, melihat kerja sama ini tidak semata-mata menyangkut energi. Menurut dia, pengembangan bioetanol juga dapat memberi kepastian pasar bagi petani dan membantu menjaga stabilitas pasokan untuk industri.
Sementara itu, Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menilai kolaborasi ini menjadi langkah nyata untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global. Ia menegaskan bahwa sumber energi terbaik adalah yang berasal dari dalam negeri.
Agung juga menyebut sinergi Pertamina Group dengan sektor perkebunan dan mitra strategis membuka jalan bagi pemanfaatan energi terbarukan berbasis potensi domestik. Program bioetanol diharapkan mendorong substitusi impor sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.
Ekosistem yang sudah mulai dibangun Pertamina
Langkah terbaru ini melanjutkan upaya Pertamina dalam membangun ekosistem bioetanol yang terintegrasi. Sejumlah inisiatif sebelumnya sudah dilakukan, mulai dari pembangunan pabrik bioetanol di Glenmore, Banyuwangi, hingga pembangunan pabrik bioetanol bersama Toyota Tsusho di Lampung.
Pertamina juga mengembangkan pilot project berbasis aren di Garut yang melibatkan kelompok perhutanan sosial. Di sisi lain, perusahaan memperkuat kolaborasi global lewat kerja sama internasional dan investasi strategis di sektor energi terbarukan.
Rangkaian langkah tersebut menunjukkan bioetanol ditempatkan sebagai bagian dari strategi jangka panjang Pertamina dalam mendukung transisi energi nasional. Dengan penguatan kolaborasi lintas sektor, implementasi E20 diharapkan memiliki fondasi yang lebih siap dan memberi nilai tambah yang lebih luas bagi ekonomi domestik.
Source: www.suara.com




