Empat Bank Jumbo Serempak Melemah, BBCA Sentuh Titik Terendah Dalam 52 Minggu

Tekanan di pasar saham pada perdagangan Rabu membuat empat bank besar di Bursa Efek Indonesia ikut terhempas serentak. Di antara semuanya, BBCA menjadi yang paling dalam terkoreksi setelah turun 5,15 persen dan menyentuh posisi terendahnya dalam 52 minggu terakhir.

Pelemahan itu terjadi ketika IHSG ikut jatuh tajam, sehingga saham-saham perbankan berkapitalisasi besar kembali menjadi sasaran jual. Bobot besar sektor keuangan membuat pergerakan BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI langsung memberi dampak ke arah pasar yang lebih luas.

BBCA jadi yang paling tertekan

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ditutup turun 300 poin ke level Rp 5.525 per saham. Sepanjang sesi, saham ini sempat dibuka di Rp 5.775 dan menyentuh Rp 5.825 sebelum akhirnya berakhir di titik terendah hariannya.

Pada level penutupan tersebut, BBCA juga tercatat berada di posisi terendah dalam 52 minggu terakhir. Kapitalisasi pasarnya berada di sekitar Rp 677,70 triliun, menegaskan besarnya tekanan yang menghampiri saham bank swasta terbesar di Indonesia itu.

Tiga bank jumbo lain ikut melemah

Pelemahan BBCA tidak berdiri sendiri karena tiga bank besar lain juga kompak terkoreksi. BBNI turun 5,05 persen ke Rp 3.570 per saham, sedangkan BBRI melemah 4,61 persen ke Rp 2.900 per saham.

BMRI pun tidak lepas dari tekanan dan turun 2,88 persen ke level Rp 4.050 per saham. Koreksi yang hampir serempak pada empat bank jumbo itu menunjukkan tekanan jual sedang kuat terjadi pada saham-saham utama perbankan.

Sentimen global ikut membebani

Tekanan di sektor perbankan muncul di tengah kondisi pasar global yang belum kondusif. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih tinggi dan mendorong investor mencari aset aman, termasuk dolar Amerika Serikat.

Penguatan dolar AS turut ditopang kenaikan indeks dolar AS atau DXY setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat menunjukkan kondisi ekonomi yang masih solid. Situasi itu membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve makin mengecil, sementara dolar AS tetap menguat.

Dalam kondisi seperti ini, aset berisiko di negara berkembang cenderung ikut tertekan. Saham perbankan menjadi salah satu yang paling sensitif terhadap perubahan arus dana global.

Tekanan dalam negeri menambah beban

Dari sisi domestik, BRI Danareksa Sekuritas menilai kebutuhan valuta asing pada kuartal II 2026 ikut menambah tekanan. Kebutuhan tersebut antara lain berkaitan dengan pembayaran bunga dan pokok utang luar negeri serta repatriasi investasi.

Di saat yang sama, surplus neraca perdagangan Indonesia disebut terus menyusut. Kondisi itu terjadi di tengah kenaikan impor yang terdorong kebijakan pro-pertumbuhan ekonomi, sehingga menambah tekanan pada rupiah dan sentimen pasar keuangan.

Gabungan faktor global dan domestik membuat investor lebih berhati-hati masuk ke saham yang sensitif terhadap arus modal dan nilai tukar. Bank-bank besar pun ikut menanggung dampaknya melalui tekanan jual yang merata.

IHSG ikut terseret turun

Di tengah aksi jual pada saham-saham bank besar, IHSG ditutup ambles 4,11 persen ke level 5.941. Posisi itu menjadi level terendah IHSG sepanjang tahun berjalan atau year to date.

Karena bobot saham perbankan sangat besar, koreksi pada BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI langsung terasa pada indeks utama. Tekanan di saham-saham jumbo ini kembali menunjukkan bahwa arah pasar saham Indonesia masih sangat dipengaruhi pergerakan sektor perbankan ketika sentimen belum mereda.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button