Di Republik Demokratik Kongo, wabah Ebola masih bergerak lebih cepat daripada upaya petugas di lapangan untuk memetakan penularannya. Situasi ini membuat rantai penyebaran belum sepenuhnya terlihat, sementara jumlah kasus terus bertambah di wilayah yang terdampak.
Hingga Rabu, total 363 kasus dan 62 kematian telah dikonfirmasi di DRC. Di Uganda, yang berbatasan langsung, sudah tercatat 15 kasus dan satu kematian, menandakan wabah tidak lagi terbatas pada satu titik penyebaran saja.
Perluasan jangkauan itu terlihat dari temuan kasus baru di Mambasa, zona kesehatan yang berada lebih dari 160 kilometer di selatan Mongbwalu, Ituri. Sebelumnya, banyak kasus terkonsentrasi di area yang sama di provinsi tersebut, sehingga kemunculan Mambasa menunjukkan pola penularan yang semakin menyebar.
Pelacakan kontak masih jauh dari target
Masalah terbesar saat ini ada pada pelacakan kontak. Proses ini penting untuk menemukan orang yang pernah terpapar pasien agar mereka bisa diperiksa, diisolasi, atau dikarantina sebelum ikut menyebarkan virus.
Di Ituri, wilayah yang paling terdampak di timur laut DRC, baru sekitar 44 persen kontak yang sedang dilacak. Angka itu masih jauh dari target sekitar 90 persen yang disebut Tedros Adhanom Ghebreyesus, dan WHO menilai data yang tersedia belum lengkap sehingga gambaran penularan masih dapat berubah.
Sejumlah pejabat kesehatan lokal sempat menyebut penularan di komunitas mungkin melambat. Namun, para spesialis kesehatan masyarakat menilai kemampuan pelacakan kontak belum cukup kuat untuk menahan wabah yang masih bergerak aktif.
Tedros pada Rabu mengatakan wabah ini “punya awal yang besar” dan pihak kesehatan masih tertinggal, meski ia juga menilai respons mulai mengejar. Pernyataan itu menggambarkan kondisi di lapangan: penanganan membaik, tetapi wabah sempat melaju lebih cepat daripada respons awal.
Angka suspek terus berubah
Di tengah upaya memetakan penularan, angka kasus suspek ikut naik turun. WHO sebelumnya menyingkirkan ratusan kasus yang diduga setelah penyelidikan, lalu pada Selasa menyebut ada 116 kasus yang masih dicurigai, turun dari 906 kasus yang masih dalam penyelidikan sehari sebelumnya.
Perubahan besar itu muncul setelah kepala Afrika Centres for Disease Control and Prevention menulis di Financial Times bahwa ada lebih dari 1.100 kasus suspek. Juru bicara WHO Christian Lindmeier menjelaskan bahwa ratusan kasus dikeluarkan dari daftar karena ternyata bukan Ebola, melainkan penyakit lain atau hanya demam tanpa gejala Ebola.
Para pakar menilai fluktuasi seperti ini wajar pada fase awal wabah. Megan Coffee dari International Rescue Committee mengatakan jumlah tersebut akan terus berubah seiring lebih banyak orang diuji dan kasus baru ditemukan.
Masa inkubasi membuat situasi tetap belum pasti
Ketidakpastian juga datang dari sifat penyakitnya sendiri. Brittany Kmush, profesor epidemiologi penyakit menular dan pengawasan wabah di Syracuse University, mengingatkan bahwa masa inkubasi Ebola bisa mencapai 21 hari.
Ia menekankan bahwa belum genap 21 hari sejak WHO menyatakan wabah ini sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Karena itu, sebagian orang yang terpapar mungkin belum menunjukkan gejala, termasuk mereka yang terpapar pada 17 Mei.
Kmush menilai skala wabah saat pertama kali dikenali menunjukkan kemungkinan ada sirkulasi yang belum terdeteksi. Artinya, masih ada kasus dan kontak yang belum diketahui petugas kesehatan.
Hambatan di lapangan memperumit respons
Di luar persoalan teknis, hambatan sosial dan geografis ikut menekan respons. Coffee menilai sebagian warga tidak percaya kepada otoritas, bahkan ada yang menyangkal Ebola sebagai virus nyata atau menolak kemungkinan bahwa mereka terinfeksi.
Kondisi geografis juga menyulitkan kerja lapangan, terutama di wilayah pedesaan dan terpencil yang akses antardaerahnya sulit. Salah satu titik panas Ebola juga berada di area tambang emas dengan banyak pekerja migran, sehingga mobilitas penduduk membuat pelacakan kontak semakin rumit.
Kmush menambahkan bahwa stigma terhadap Ebola masih tinggi. Dalam situasi seperti itu, orang bisa ragu melaporkan kontak mereka kepada petugas kesehatan, sementara sumber daya untuk komunitas bantuan internasional juga terbatas untuk pelacakan kontak, karantina, dan isolasi.
Meski begitu, para spesialis mencatat respons kesehatan publik mulai membaik dan otoritas kesehatan kini punya gambaran yang lebih jelas tentang jumlah kasus terkonfirmasi. Tantangan utamanya tetap sama, yakni mengidentifikasi setiap kontak dan menutup celah penularan yang belum terlihat sebelum wabah bergerak lebih jauh.





