Gencatan Senjata Lebanon Masih Rapuh, Serangan Israel dan Hizbullah Belum Benar-Benar Reda

Pengumuman Donald Trump tentang gencatan senjata Israel dan Hizbullah segera memantik perhatian karena muncul di tengah situasi yang justru masih panas di lapangan. Meski ada klaim kesepakatan untuk menghentikan serangan, tembakan dan operasi militer di perbatasan Israel–Lebanon belum benar-benar berhenti.

Trump menyampaikan bahwa ia telah berbicara dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan juga berkomunikasi dengan Hizbullah melalui “perwakilan tingkat tinggi”. Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyebut kedua pihak sepakat menghentikan serangan timbal balik.

“Saya melakukan percakapan yang sangat baik dengan Hizbullah. Mereka setuju bahwa semua serangan akan dihentikan. Israel tidak akan menyerang mereka, dan mereka tidak akan menyerang Israel,” kata Trump, Selasa (2/5/2026). Pernyataan itu langsung menarik sorotan karena menyentuh kelompok yang selama ini ditetapkan Washington sebagai organisasi “teroris”.

Isi pembicaraan dan batas kesepakatan

Menurut Kedutaan Besar Lebanon di Washington, proposal yang dibahas memang berisi penghentian serangan dari kedua arah. Hizbullah diminta menghentikan serangan ke Israel, sedangkan Israel diminta menghentikan operasi militernya di Beirut dan wilayah selatan ibu kota.

Trump juga mengklaim Netanyahu menyetujui penarikan pasukan Israel yang sebelumnya disiapkan untuk menyerang Beirut. Namun, dari sisi Israel, sinyal yang disampaikan belum menunjukkan bahwa operasi akan benar-benar ditutup sepenuhnya.

Kantor Netanyahu menegaskan bahwa Israel masih akan membalas bila serangan dari Hizbullah berlanjut. “Jika Hizbullah tidak berhenti menyerang kota-kota dan warga negara kita, maka Israel akan menyerang target teror di Beirut,” demikian pernyataan itu.

Medan konflik belum ikut tenang

Di lapangan, eskalasi di perbatasan Israel–Lebanon masih berlangsung saat pengumuman itu muncul. Hizbullah, yang didukung Iran, telah melancarkan serangan ke wilayah Israel utara setelah eskalasi militer sebelumnya antara AS dan Iran.

Sejak Maret, Israel disebut terus melakukan serangan hampir setiap hari ke wilayah Lebanon dan menguasai sebagian area di selatan negara itu. Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut sedikitnya 3.412 orang tewas dan lebih dari 10.000 lainnya terluka sejak eskalasi dimulai.

Dampaknya juga meluas ke krisis kemanusiaan. Lebih dari satu juta orang dilaporkan mengungsi, sementara kekhawatiran bahwa operasi Israel bisa meluas ke Beirut masih tinggi.

Respons diplomatik dan keraguan yang tersisa

Di tengah situasi itu, media pemerintah Iran melaporkan Teheran menangguhkan pertukaran pesan dengan Washington sebagai bentuk protes atas perkembangan konflik. Sementara itu, Duta Besar Lebanon untuk PBB Ahmad Arafa menilai upaya diplomasi pemerintahan Trump membuka ruang bagi gencatan senjata.

Arafa menyebut langkah itu sebagai “upaya konstruktif yang bertujuan untuk memberi kesempatan pada diplomasi”. Meski begitu, keraguan soal pelaksanaan kesepakatan tetap besar karena pengalaman sebelumnya menunjukkan gencatan senjata kerap sulit dijalankan secara efektif.

Sejumlah politisi Lebanon juga mempertanyakan siapa yang akan memastikan kesepakatan dipatuhi. Anggota parlemen Hizbullah, Hassan Fadlallah, mengatakan kelompoknya mendukung gencatan senjata penuh di seluruh wilayah Lebanon, tetapi menegaskan bahwa penarikan pasukan Israel harus menjadi bagian dari kesepakatan.

Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri juga menyoroti masalah penegakan. “Masalah sebenarnya adalah siapa yang akan memaksa Israel untuk menghentikan agresinya?” ujarnya.

Serangan di selatan Lebanon masih berlanjut

Hingga kini belum ada laporan serangan baru terhadap Beirut, tetapi serangan Israel di Lebanon selatan masih terjadi. Militer Israel dilaporkan menargetkan sejumlah wilayah, termasuk dekat Nabatieh, Choukine, dan Kfar Tibnit.

Pengamat keamanan Sami Nader menilai situasi itu berbahaya karena menunjukkan penghancuran infrastruktur yang sistematis. “Yang kita lihat adalah penghancuran infrastruktur secara sistematis. Ini melampaui ‘Garis Kuning’,” ujarnya.

Ia menilai penyelesaian jangka panjang membutuhkan pemisahan gencatan senjata Lebanon dari dinamika konflik Iran–Israel, disertai keterlibatan internasional yang lebih kuat. Di saat klaim diplomasi sudah diumumkan, kondisi di lapangan masih menunjukkan bahwa gencatan senjata itu belum benar-benar teruji.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button