Harga Rumah Australia Tak Bergerak, Investor Indonesia Malah Melirik Stabilitasnya

Bagi banyak investor dan pelaku usaha Indonesia, Australia kini tidak sekadar dilihat sebagai pasar properti, melainkan juga sebagai tempat untuk menata ulang aset dan memperluas jangkauan bisnis. Minat itu menguat seiring pencarian stabilitas di tengah ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya perhatian pada peluang yang terhubung ke jaringan internasional.

Dorongan tersebut ikut terlihat dari roadshow One Global Capital di sejumlah kota besar di Indonesia pada bulan ini. Pengembang properti asal Australia itu membawa pesan bahwa properti di Australia bisa menjadi pintu untuk diversifikasi aset lintas negara sekaligus pengembangan bisnis yang lebih luas.

Pasar yang tetap menyita perhatian

Sorotan terhadap Australia muncul ketika harga rumah di negara itu tercatat tidak berubah pada Mei 2026 setelah sebelumnya menjalani reli panjang hingga ke rekor tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi ini membuat pasar properti Australia tetap berada di radar pelaku pasar, termasuk investor luar negeri yang mencari peluang di tengah dinamika ekonomi global.

Menurut Reuters, pergerakan harga di lima kota besar Australia pada Mei juga tidak seragam. Sydney turun 0,9 persen, Melbourne turun 0,8 persen, Perth naik 1,5 persen, Brisbane naik 0,9 persen, dan Adelaide naik 0,5 persen.

Di saat yang sama, Reserve Bank of Australia atau RBA telah menaikkan suku bunga tiga kali sepanjang tahun ini. Kenaikan itu terjadi pada Februari, Maret, dan Mei, sehingga suku bunga acuan kini berada di level 4,35 persen.

Kebijakan tersebut ditempuh sebagai upaya menekan inflasi dan menghapus pelonggaran moneter yang diberikan pada tahun lalu. Situasi itu ikut membentuk persepsi pasar bahwa Australia masih menyimpan peluang, meski arah harga rumah di beberapa kota mulai menunjukkan pergerakan yang berbeda-beda.

Alasan Australia menarik bagi pelaku bisnis Indonesia

Chairman dan Group CEO One Global Capital, Iwan Sunito, menilai perubahan lanskap ekonomi global membuka ruang baru bagi individu dan pelaku usaha yang siap berpikir melampaui batas negara. Ia melihat banyak keluarga dan entrepreneur kini tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga stabilitas dan konektivitas yang lebih luas.

Dalam keterangannya, Iwan menyampaikan bahwa perusahaan ingin memberi wawasan tentang pasar properti Australia, tren ekonomi global, strategi diversifikasi aset lintas negara, peluang pengembangan bisnis internasional, serta jalur mobilitas dan migrasi bagi keluarga dan entrepreneur Indonesia. Penekanan itu sejalan dengan minat masyarakat yang mulai mencari alternatif di luar pasar domestik.

Australia dipandang menawarkan kombinasi yang jarang ditemukan sekaligus, yakni lingkungan bisnis yang stabil, kualitas hidup tinggi, dan akses ke jaringan global. Faktor-faktor tersebut membuat negara itu relevan bagi masyarakat Indonesia yang ingin memperluas pilihan investasi tanpa melepas kebutuhan akan keamanan dan keterhubungan internasional.

Strategi jangka panjang One Global Capital

One Global Capital menyebut memiliki development pipeline senilai sekitar AUS$3,6 miliar atau Rp46 triliun. Perusahaan itu menargetkan nilainya tumbuh menjadi lebih dari AUS$6 miliar atau Rp76,7 triliun, dengan Asset Under Management atau AUM menembus AUS$1 miliar atau Rp12,7 triliun sebelum akhir 2026.

Target tersebut ingin dicapai lewat berbagai proyek strategis di Australia. Dengan skala rencana seperti itu, perusahaan menempatkan properti bukan hanya sebagai aset fisik, tetapi juga sebagai bagian dari peta bisnis yang lebih luas.

Pesan yang dibawa ke Indonesia pun tidak berhenti pada urusan membeli properti. Topik yang diangkat juga menyentuh strategi bisnis, perlindungan nilai, dan cara sebagian masyarakat Indonesia memandang “hijrah” secara finansial maupun mobilitas ke pasar yang dinilai lebih terhubung dengan dunia internasional.

Source: www.viva.co.id

Baca Juga

Back to top button