Nama Nanik Sudaryati Deyang kembali menjadi sorotan setelah ia dilantik sebagai Kepala Badan Gizi Nasional. Perhatian publik bukan hanya tertuju pada posisinya yang baru, tetapi juga pada laporan harta kekayaannya yang mencatat total Rp6.303.290.605 tanpa utang.
Sorotan itu muncul di tengah situasi BGN yang sedang berada dalam pengawasan ketat. Kondisi tersebut membuat profil finansial pejabat baru lembaga ini ikut dibaca lebih dekat oleh publik.
Dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara yang diserahkan pada 17 Januari 2025, Nanik tercatat memiliki kekayaan yang didominasi aset tanah dan bangunan. Nilai properti yang ia laporkan mencapai lebih dari Rp5,4 miliar dan menjadi komponen terbesar dalam total hartanya.
Aset tersebut tersebar di wilayah Jabodetabek, terutama Depok dan Bekasi. Salah satu properti paling besar yang tercantum adalah tanah dan bangunan seluas 237 meter persegi tanah dan 320 meter persegi bangunan di Depok dengan nilai Rp1,5 miliar.
Selain properti utama itu, Nanik juga melaporkan sejumlah aset tanah dan bangunan lain di Depok. Nilainya beragam, mulai dari Rp163 juta hingga Rp1,2 miliar, sehingga memperlihatkan bahwa kekayaan utamanya bertumpu pada aset tidak bergerak.
Di luar properti, ia juga mencatat kepemilikan kendaraan bermotor dengan total nilai Rp705 juta. Rincian jenis kendaraan tidak seluruhnya dijelaskan secara terbuka dalam data yang tersedia, tetapi nilainya tetap menempatkan kendaraan sebagai bagian penting dari komposisi hartanya.
Yang ikut menarik perhatian adalah tidak adanya utang dalam laporan tersebut. Dalam pelaporan harta pejabat negara, ketiadaan kewajiban pinjaman kerap menjadi salah satu poin yang diperhatikan publik karena memberi gambaran lebih utuh soal kondisi finansial penyelenggara negara.
Perhatian terhadap laporan harta ini juga tidak lepas dari posisi baru Nanik di BGN. Ia kini memimpin lembaga yang menjalankan program Makan Bergizi Gratis, program strategis yang sedang berada dalam pengawasan ketat.
Pergantian pimpinan BGN terjadi setelah Dadan Hindayana dicopot dari jabatan tersebut pada 2 Juni 2026. Sebelum naik menjadi kepala lembaga, Nanik sudah lebih dulu mengenal lingkungan BGN karena menjabat sebagai Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi.
Latar belakangnya menunjukkan bahwa ia bukan sosok baru di dunia komunikasi dan jabatan publik. Nanik Sudaryati Deyang lahir di Madiun pada 3 Januari 1968 dan sebelumnya dikenal sebagai jurnalis di Tabloid Bangkit yang berada dalam Kompas Gramedia Group.
Pengalaman di media itu disebut membentuk kemampuan komunikasi publiknya. Bekal tersebut juga terlihat ketika ia menjalankan tugas sebagai Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, lalu beberapa kali tampil sebagai juru bicara lembaga.
Sebelum masuk ke BGN, Nanik juga sempat menjadi Komisaris Independen PT Pertamina. Dalam perjalanannya di BGN, ia sempat menarik perhatian saat menangis dan meminta maaf atas insiden keracunan yang menimpa siswa, peristiwa yang terjadi ketika program Makan Bergizi Gratis menghadapi kritik dan tantangan di lapangan.
Situasi di sekitar BGN memang tengah sensitif. Dadan Hindayana disebut telah dijemput Kejaksaan Agung, sementara kantor BGN juga digeledah oleh Kejagung, sehingga publik menaruh perhatian lebih besar pada pejabat pengganti dan rekam jejak keterbukaannya.
Di tengah konteks itu, angka Rp6,3 miliar dalam LHKPN Nanik menjadi salah satu data awal yang dibaca publik. Komposisi hartanya yang didominasi properti, ditambah catatan tanpa utang, membuat profil finansial kepala BGN yang baru ini ikut menjadi bahan perhatian seiring beratnya tugas yang kini ia emban.
Source: www.suara.com




