Hery Gunardi Ungkap Cara Bisnis Lebih Tahan Banting, Dari Pilih Pasar Ringan hingga Jaga Arus Kas

Di tengah derasnya dorongan untuk langsung mengejar pertumbuhan, Hery Gunardi justru menaruh perhatian pada hal yang lebih mendasar: bagaimana usaha bisa bertahan sebelum membesar. Direktur Utama BRI itu menilai banyak bisnis tidak maju bukan karena kekurangan ide, melainkan karena salah membaca pasar dan tidak disiplin menjaga keuangan.

Pesan itu ia sampaikan dalam sesi Jogja Financial Festival di Jogja Expo Center, Daerah Istimewa Yogyakarta, di hadapan sekitar 1.000 peserta dari kalangan pengusaha UMKM, mahasiswa, pelajar, dan masyarakat umum. Sebagai bankir senior, Hery kerap melihat langsung pola usaha yang cepat berkembang maupun yang tersendat di tengah jalan.

Pasar yang ringan dulu, jangan langsung berat

Salah satu penekanan Hery adalah memilih bidang usaha dengan entry barrier rendah. Menurut dia, pelaku usaha sebaiknya memulai dari sektor yang tingkat persaingannya belum terlalu keras agar ruang belajar di awal tetap terbuka.

Ia menilai langkah awal yang terlalu berat justru bisa menguras tenaga sebelum bisnis sempat stabil. Karena itu, pemilihan bidang usaha perlu disesuaikan dengan kemampuan awal dan peluang yang realistis.

Pahami pasar sebelum sibuk menjual

Setelah memilih medan yang sesuai, Hery menempatkan pemahaman pasar sebagai langkah berikutnya. Ia meminta calon wirausahawan mengenali siapa pembeli, siapa pesaing, siapa yang menguasai pangsa pasar terbesar, dan alasan pemain tertentu bisa melaju lebih cepat.

Bagi Hery, produk saja tidak cukup untuk membangun usaha. Pelaku usaha juga perlu belajar dari pemain yang sudah lebih dulu berkembang agar bisa membaca pola pasar dan menyesuaikan strategi.

Keuangan kecil pun harus rapi sejak awal

Hery juga menyoroti manajemen keuangan yang sering diabaikan pada usaha skala kecil. Ia menyebut banyak UMKM gagal karena pencatatan yang lemah, termasuk kebiasaan mencampur uang pribadi dengan uang usaha.

Ia menegaskan pentingnya memisahkan catatan belanja pribadi dan bisnis supaya untung-rugi terlihat jelas. Tanpa pembukuan yang rapi, pengusaha akan kesulitan menilai apakah bisnisnya benar-benar sehat atau sekadar tampak berjalan.

Enam bulan pertama harus jaga napas kas

Dari seluruh tahap awal usaha, Hery memberi perhatian besar pada arus kas. Ia menyebut enam bulan pertama bukan waktu untuk mengejar laba semata, melainkan memastikan uang masuk dan keluar tetap lancar.

Menurut dia, usaha bisa kehilangan napas jika pembayaran terlambat dan produksi tidak berjalan mulus. Karena itu, tata kelola yang disiplin dibutuhkan agar likuiditas tetap terjaga selama masa awal usaha.

Teknologi jadi alat efisiensi dan penjualan

Di sisi lain, Hery mendorong perintis usaha untuk memanfaatkan teknologi. Internet, media sosial, serta kanal digital seperti TikTok dan Instagram dinilai bisa membantu penjualan sekaligus menekan biaya variabel.

Dalam pandangannya, teknologi sudah menjadi bagian penting dari cara berjualan dan memperluas pasar. Dengan pemanfaatan yang tepat, pelaku usaha punya peluang bersaing dengan biaya yang lebih efisien.

Pesan Hery mendapat sambutan dalam sesi Education Class yang juga menghadirkan Chairman & Founder CT Corp Chairul Tanjung. CT menekankan bahwa pengusaha sukses lahir dari produk yang unik, pasar yang besar, dan kecocokan produk dengan generasinya.

CT juga menyoroti perubahan perilaku konsumen, terutama generasi milenial, generasi Z, hingga generasi alfa, yang sangat bergantung pada e-commerce. Ia menyebut promosi lewat TikTok kini punya pengaruh besar dan bahkan menyalip Instagram maupun Facebook dalam urusan penjualan.

Jika digabung, pandangan Hery dan CT mengarah pada satu hal yang sama: bisnis masa kini tidak cukup bertumpu pada ide. Pengusaha perlu peka membaca pasar, disiplin mengelola uang, dan cepat beradaptasi dengan teknologi agar usaha punya peluang tumbuh lebih kuat.

Baca Juga

Back to top button