Serangan yang menghantam Kuwait dan aksi militer Amerika Serikat di dekat Selat Hormuz kembali menyorot betapa rapuhnya gencatan senjata di kawasan Teluk. Dalam hitungan jam, dua peristiwa itu bukan hanya memicu kekhawatiran baru di lapangan, tetapi juga mendorong harga minyak naik lebih dari 2% ketika jalur energi paling penting di dunia masih terganggu.
Dampaknya terasa langsung di Kuwait. Otoritas setempat menyebut serangan drone dan rudal Iran merusak fasilitas bandara serta misi diplomatik di Kuwait International Airport, dengan satu orang tewas dan lebih dari 60 orang terluka. Penerbangan sempat dihentikan, sebelum otoritas penerbangan sipil mengatakan Kuwait Airways mulai kembali melayani penerbangan dari Terminal 4 setelah penilaian kerusakan dan langkah pengamanan dilakukan.
Serangan itu juga memperlihatkan bahwa sasaran di Teluk tidak lagi terbatas pada instalasi militer. Bahrain melaporkan berhasil mencegat tiga rudal dan beberapa drone, sementara Iran mengatakan serangannya menyasar markas Armada Kelima AS di Bahrain serta sebuah pangkalan udara dan helikopter di negara regional lain yang tidak disebutkan namanya.
Militer AS memberi versi berbeda atas serangan yang mengarah ke Kuwait. Dalam pernyataannya, dua rudal Iran yang ditujukan ke Kuwait disebut jatuh sebelum mencapai sasaran atau hancur di udara, sementara beberapa rudal balistik lain juga gagal mengenai target di kawasan tersebut.
Hormuz tetap menjadi titik paling rawan
Di saat yang sama, militer AS mengatakan telah menembak jatuh drone yang mengincar kapal sipil di perairan regional dan pasukan AS di Kuwait. AS juga melakukan serangan di Pulau Qeshm, dekat Selat Hormuz, setelah upaya serangan dari Iran.
Media Iran melaporkan angkatan laut Garda Revolusi menargetkan sebuah kapal bernama Panaya dengan rudal. Aksi itu disebut sebagai balasan atas serangan AS terhadap tanker Iran di dekat Hormuz, yang kembali menegaskan bahwa jalur sempit itu masih menjadi titik paling sensitif dalam konflik ini.
Selat Hormuz memegang posisi yang sangat penting sebelum perang. Jalur tersebut menangani sekitar seperlima pengiriman minyak mentah dan gas alam cair global, sehingga setiap gangguan di sana cepat memukul pasar energi dan menambah tekanan pada pasokan barang.
Gencatan senjata yang belum kokoh
Rangkaian serangan terbaru datang di tengah gencatan senjata yang sejak awal sudah rapuh. Sejak konflik dimulai pada 28 Februari, Iran berulang kali menyerang target di kawasan Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS, dan serangan itu beberapa kali memicu eskalasi baru meski gencatan senjata disepakati pada awal April.
Minggu lalu, Iran dan AS sempat menyiratkan adanya kemajuan menuju kesepakatan awal untuk menghentikan perang dan membuka kembali Selat Hormuz. Namun, kesepakatan itu belum diteken, dan pembahasan yang lebih rumit masih menunggu tahap berikutnya.
Mohsen Rezaei, penasihat militer pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, mengatakan Iran tidak akan membiarkan AS melampaui batas dalam negosiasi maupun pengaturan gencatan senjata. Dalam unggahan di X, ia juga memperingatkan bahwa setiap agresi akan dibalas dengan rentetan rudal dan drone.
Tekanan diplomatik belum mereda
Di sisi lain, Anwar Gargash, penasihat diplomatik presiden Uni Emirat Arab, menyerukan respons Teluk yang tegas, bersatu, dan kohesif setelah serangan berulang terhadap Kuwait dan Bahrain. Ia menulis bahwa agresi itu tidak hanya menargetkan satu negara, tetapi seluruh kawasan.
Presiden AS Donald Trump sejak pertengahan Maret juga berulang kali mengatakan bahwa ia dekat dengan kesepakatan untuk mengakhiri pertempuran. Ia menyebut kesepakatan itu dapat membuka jalan bagi pembahasan isu yang lebih rumit, termasuk masa depan program nuklir Iran.
Sebagai bagian dari potensi kesepakatan, Teheran meminta penghentian perang di Lebanon, akses ke miliaran dolar pendapatan minyak, keringanan untuk ekspor minyak mentah, pencabutan blokade AS atas pelabuhannya, dan tetap punya pengaruh atas selat tersebut. Trump menegaskan prioritas utamanya adalah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, sementara Iran mengatakan program atomnya bertujuan damai.
Trump mengatakan negosiasi masih berlanjut, tetapi kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan pada Rabu bahwa Iran belum merespons AS dalam beberapa hari terakhir. Menurut laporan itu, pertukaran pesan lewat perantara juga ditangguhkan sampai syarat Iran terkait Lebanon dipenuhi.
Dalam wawancara podcast yang dirilis pada Rabu, Trump mengatakan Iran telah setuju untuk tidak memiliki senjata nuklir dan bahwa Khamenei terlibat dalam negosiasi. Ia juga mengaku sempat berselisih keras dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu karena serangan berkelanjutan ke Lebanon.
Perang ini telah menewaskan ribuan orang, terutama di Iran dan Lebanon, serta menimbulkan tekanan ekonomi global lewat gangguan berat pada pasokan energi dan pengiriman barang. Di Lebanon, konflik itu juga memicu putaran baru pertarungan antara Israel dan kelompok militan Hezbollah yang didukung Iran.
Pada Rabu, serangan drone Israel menewaskan sedikitnya enam orang di لبنان selatan dan menargetkan sebuah mobil di selatan Beirut, menurut sumber keamanan Lebanon. Israel juga mengatakan telah mencegat sebuah pesawat udara bermusuhan yang kemungkinan ditembakkan Hezbollah, meski tidak ada tanggapan langsung dari militer Israel atas pertanyaan terkait serangan drone itu.





