Indonesia-Rusia Perkuat Kerja Sama Maritim, AHY Dorong Implementasi Nyata dari Moskow

Pembicaraan maritim Indonesia dan Rusia di Moskow bergerak ke arah yang lebih teknis dan terukur. Di meja konsultasi bilateral itu, kedua negara mulai menyiapkan jalur kerja yang tidak berhenti pada pernyataan politik, tetapi diarahkan langsung ke industri, riset, pelatihan, dan konektivitas laut.

Menko AHY memimpin pertemuan tersebut bersama Penasihat Presiden Federasi Rusia sekaligus Ketua Dewan Maritim Federasi Rusia, Nikolai Patrushev. Fokus pembahasan menegaskan bahwa laut kini menjadi ruang kerja sama yang dipilih untuk memperkuat hubungan kedua negara secara lebih operasional.

Dorongan dari posisi Indonesia sebagai negara kepulauan

Dalam forum itu, AHY menekankan posisi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan 17.380 pulau. Kondisi tersebut membuat sistem konektivitas harus dibangun secara terintegrasi dan berkelanjutan agar pembangunan bisa merata dan biaya logistik nasional menurun.

Ia juga menyoroti bahwa konektivitas tidak bisa bertumpu pada satu moda transportasi saja. Menurutnya, keseimbangan antarmoda dibutuhkan untuk mendukung distribusi barang, mobilitas masyarakat, dan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah.

Pengalaman Rusia di bidang transportasi, infrastruktur, logistik, dan teknologi maritim ikut menjadi alasan mengapa kerja sama ini dianggap relevan. Kedua negara sama-sama memiliki karakter sebagai negara maritim besar, sehingga ruang kemitraannya dinilai terbuka untuk jangka panjang.

Agenda yang diprioritaskan kedua negara

Konsultasi bilateral ini tidak hanya membahas arah umum kerja sama, tetapi juga daftar prioritas yang bisa dikembangkan bertahap. Topiknya mencakup peningkatan kapasitas angkutan laut, kerja sama ilmiah dan teknis maritim, pembangunan pelabuhan berkelanjutan, industri galangan kapal, pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia maritim, serta pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan yang berkelanjutan.

Untuk menjaga pembahasan tetap fokus, Indonesia dan Rusia sepakat membentuk tiga kelompok kerja strategis. Kelompok pertama menangani industri galangan kapal dan pelabuhan berkelanjutan, kelompok kedua membahas sumber daya kelautan dan perikanan berkelanjutan, sementara kelompok ketiga mengurusi sumber daya manusia, riset, dan pelatihan.

AHY menilai mekanisme kelompok kerja penting agar kerja sama tidak berhenti pada level pernyataan. Dengan cara itu, setiap agenda dapat diukur, dipantau, dan diarahkan agar menghasilkan manfaat nyata bagi kedua pihak.

Sejumlah proyek sudah masuk pembahasan teknis

Di sisi lain, beberapa tindak lanjut sudah bergerak ke tahap teknis. Salah satunya kerja sama PT PAL Indonesia dan Rosatom terkait Floating Nuclear Power Plant atau FNPP, yang diawali penandatanganan Non-Disclosure Agreement pada April 2026 dan akan dilanjutkan dengan penyusunan nota kesepahaman.

Pembahasan kerja sama pembangunan kapal antara PT PAL Indonesia dan Ak Bars Shipbuilding Corporation juga masih berlangsung. Selain itu, PT Pelindo menindaklanjuti kerja sama dengan CIFREX untuk pengembangan kapal berkecepatan tinggi.

Pemerintah juga mengoordinasikan pengiriman tenaga terampil sektor galangan kapal ke Rusia. Langkah ini dijalankan oleh Kementerian Perindustrian bersama Kementerian Luar Negeri RI sebagai bagian dari penguatan kapasitas sumber daya manusia maritim.

Arah kemitraan yang ingin dijaga

Rangkaian pembahasan di Moskow menunjukkan bahwa konsultasi bilateral ini telah masuk ke level yang lebih konkret. Industri, riset, dan pelatihan menjadi tiga jalur yang dipersiapkan agar kerja sama Indonesia-Rusia tidak berhenti di atas kertas.

Dalam pertemuan itu, AHY didampingi Deputi Nazib Faizal dan Deputi Odo R.M Manuhutu. Ia menutup agenda dengan penekanan bahwa kerja sama maritim kedua negara perlu segera masuk tahap implementasi, karena dampaknya diharapkan terasa pada konektivitas, daya saing industri, dan pertumbuhan ekonomi.

Source: www.medcom.id

Baca Juga

Back to top button