Inflasi April 2026 memang masih bergerak naik, tetapi lajunya tetap tertahan di level yang dianggap aman. Salah satu penahan utamanya datang dari kebijakan subsidi BBM yang membuat lonjakan harga energi tidak langsung menekan rumah tangga.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kondisi itu menunjukkan kekhawatiran sebelumnya tidak terbukti. Saat inflasi kembali turun ke kisaran 2,4 persen, tekanan harga yang sempat naik lebih dulu juga mulai mereda setelah penyesuaian subsidi tarif listrik.
Peran subsidi energi dalam menahan tekanan harga
Pemerintah memilih menyerap sebagian kenaikan harga minyak global melalui instrumen subsidi. Langkah ini dipakai agar perubahan di pasar internasional tidak langsung diteruskan secara penuh ke konsumen dalam negeri.
Purbaya menegaskan, jika harga BBM dibiarkan mengikuti harga minyak dunia sepenuhnya, risikonya besar. Menurut dia, kondisi itu dapat mendorong inflasi lebih tinggi, menggerus daya beli, dan memperbesar tekanan pada rumah tangga.
Karena itu, kebijakan menahan sebagian subsidi bahan bakar minyak tetap dipertahankan sebagai alat menjaga stabilitas ekonomi nasional. Purbaya juga menyebut keputusan soal subsidi tidak diambil sembarangan karena selalu dihitung dampaknya terhadap belanja negara dan ketahanan ekonomi rakyat.
Data inflasi masih menunjukkan tekanan yang terjaga
Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan pada April 2026 sebesar 2,42 persen. Pada periode yang sama, Indeks Harga Konsumen naik dari 108,47 pada April 2025 menjadi 111,09 pada April 2026.
Secara bulanan, inflasi tercatat 0,13 persen pada April 2026. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan sektor transportasi menjadi pendorong utama inflasi bulanan tersebut dengan andil 0,12 persen.
Ateng juga menjelaskan bahwa pada April 2026 terjadi kenaikan indeks harga konsumen dari 110,95. Angka bulanan ini menunjukkan tekanan harga masih ada, tetapi laju kenaikannya tetap relatif terjaga.
Kelompok pengeluaran yang paling mendorong inflasi
Selain energi, tekanan harga juga datang dari sejumlah kelompok konsumsi lain. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi sebesar 11,43 persen dan menjadi perhatian utama dalam data tahunan.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga memberi sumbangan besar terhadap inflasi. Kontribusinya mencapai 0,90 persen dengan kenaikan 3,06 persen, terutama ditopang oleh ikan segar, daging ayam ras, beras, minyak goreng, dan telur ayam ras.
Rangkaian data itu memperlihatkan bahwa tekanan harga belum hilang sepenuhnya. Namun, laju inflasi yang masih berada di kisaran 2,4 persen memberi sinyal bahwa penahan harga energi masih bekerja menjaga stabilitas.
Bagi pemerintah, kombinasi inflasi tahunan yang terkendali dan inflasi bulanan yang rendah menjadi tanda bahwa subsidi energi belum kehilangan fungsi utamanya. Di saat yang sama, data BPS juga menunjukkan beberapa kelompok konsumsi masih membutuhkan pengawasan agar tekanan harga tidak meluas.





