Sosok Pham Nhat Vuong kembali menjadi sorotan setelah taksi listrik Green SM ikut terseret dalam insiden tabrakan beruntun di Stasiun Bekasi Timur. Perhatian publik pun tidak hanya berhenti pada kendaraan yang mogok di perlintasan Ampera itu, tetapi juga pada bisnis besar yang menaungi merek transportasi listrik tersebut.
Green SM berada di dalam jaringan usaha milik Vuong yang nilainya disebut sangat besar. Di balik satu unit taksi listrik yang terlibat kecelakaan, tersimpan ekosistem bisnis yang mencakup produksi kendaraan, layanan transportasi, hingga infrastruktur pengisian daya.
Siapa Pham Nhat Vuong
Berdasarkan laporan Forbes, Pham Nhat Vuong dikenal sebagai orang terkaya di Vietnam sekaligus pimpinan tertinggi Vingroup. Konglomerasi ini bergerak di banyak bidang, mulai dari properti, ritel, hingga layanan kesehatan.
Keterkaitan Vuong dengan Green SM penting karena layanan taksi listrik itu bukan usaha yang berdiri sendiri. Green SM berada dalam lingkaran bisnis yang lebih luas dan menjadi salah satu bagian dari ekspansi Vuong di sektor mobilitas listrik.
Green SM, VinFast, dan V-Green
Nama Green SM tidak bisa dilepaskan dari VinFast Auto Ltd., produsen kendaraan listrik yang juga masuk dalam ekosistem bisnis Vuong. Keduanya saling terhubung dalam pengembangan kendaraan listrik dan layanan yang menopang operasionalnya.
VinFast sendiri telah memperluas langkah ke luar Vietnam dengan membangun pabrik di Indonesia dan India. Perusahaan itu juga resmi melantai di bursa saham Nasdaq melalui skema merger SPAC pada 2023.
Jejak tersebut menunjukkan bahwa jaringan bisnis Vuong tidak berhenti pada layanan angkutan. Ekspansinya juga mencakup produksi kendaraan listrik yang menjadi tulang punggung layanan seperti Green SM.
Peran pengisian daya dalam ekosistem bisnis
Selain Green SM dan VinFast, terdapat pula V-Green yang punya peran penting dalam jaringan mobilitas listrik Vuong. Perusahaan ini berfungsi sebagai operator pengisian daya dan dipisahkan dari VinFast pada 2024.
V-Green disebut mengalokasikan investasi sebesar USD 400 juta dalam dua tahun ke depan. Dana itu diarahkan untuk memperkuat jaringan pengisian daya yang menjadi kebutuhan utama dalam pertumbuhan kendaraan listrik.
Kehadiran V-Green memperlihatkan bahwa bisnis Vuong dibangun secara terintegrasi. Produksi kendaraan, layanan transportasi, dan infrastruktur pendukungnya saling menopang dalam satu sistem usaha.
Sorotan baru setelah insiden di Bekasi
Insiden di Stasiun Bekasi Timur membuat nama Green SM muncul dalam konteks yang berbeda di Indonesia. Kendaraan itu dilaporkan mogok di perlintasan Ampera sebelum tertabrak rangkaian KRL dan memicu tabrakan susulan dari arah belakang.
Dari peristiwa itu, perhatian kemudian bergeser ke struktur kepemilikan di balik merek taksi listrik tersebut. Identitas Vuong ikut dibicarakan karena Green SM merupakan bagian dari kelompok usaha besar yang juga menaungi VinFast dan V-Green.
Bloomberg melaporkan bahwa Vuong baru-baru ini menunjuk istrinya, Pham Thu Huong, untuk memimpin Green SM. Penunjukan itu disebut berkaitan dengan rencana penawaran umum perdana atau IPO internasional.
Bloomberg juga menyebut Green SM memiliki valuasi sekitar USD 20 miliar. Nilai itu menempatkan perusahaan jasa transportasi listrik tersebut sebagai salah satu aset penting dalam portofolio bisnis Vuong.
Meski kepemimpinan operasional berada di tangan Pham Thu Huong, laporan yang sama menyebut Vuong masih memegang posisi CEO di perusahaan Green SM. Situasi itu menunjukkan bahwa pengaruhnya tetap kuat dalam arah strategis perusahaan.
Nama Vuong pun ikut dikaitkan dengan insiden tabrakan kereta di Bekasi Timur karena Green SM berada di awal rangkaian kecelakaan. Dari satu kendaraan yang tertabrak, sorotan publik lalu mengarah ke kerajaan bisnis yang menopang layanan taksi listrik itu.





