Selisih harga Rp 150 juta membuat Jetour T1 langsung punya dua jalur pembeli yang berbeda. Di satu sisi ada versi hybrid plug-in T1 i-DM yang dibanderol Rp 558 juta, sementara di sisi lain ada versi bensin yang dipasarkan Rp 408 juta.
Perbedaan itu bukan sekadar angka di label harga. Jetour menempatkan dua mesin pada satu model SUV yang sama agar konsumen bisa memilih sesuai kesiapan terhadap teknologi elektrifikasi tanpa harus meninggalkan karakter mobil yang serupa.
Dua mesin, dua pendekatan
T1 i-DM menjadi sorotan karena hadir sebagai mobil hybrid plug-in pertama Jetour di Indonesia. Model ini memakai sistem Intelligent Dual Mode atau i-DM, yang menandai masuknya Jetour ke pasar kendaraan elektrifikasi domestik.
Di saat yang sama, Jetour tetap menyediakan T1 versi mesin bensin internal combustion engine atau ICE. Opsi ini ditujukan bagi pembeli yang ingin SUV bergaya petualang, tetapi belum ingin beralih ke teknologi elektrifikasi.
Langkah tersebut membuat Jetour tidak memaksa konsumen mengambil arah yang sama. Pembeli tetap mendapat karakter SUV yang sejalan, namun dengan penggerak yang berbeda sesuai kebutuhan harian masing-masing.
Karakter petualang tetap dipertahankan
Secara desain, T1 i-DM mengusung gaya boxy yang tengah diminati pasar. Dimensinya mencakup panjang 4.706 mm, lebar 1.967 mm, dan tinggi 1.845 mm, dengan jarak sumbu roda 2.800 mm.
Ground clearance mobil ini berada di angka 190 mm. Kombinasi ukuran tersebut mendukung kabin yang lapang sekaligus memberi ruang untuk pemakaian di berbagai kondisi jalan.
Jetour juga memosisikan T1 i-DM sebagai SUV yang cocok untuk penggunaan harian di perkotaan. Meski begitu, tampilannya tetap diarahkan untuk memberi kesan tangguh ketika dipakai bepergian di luar rutinitas kota.
Spesifikasi hybrid dan klaim jarak tempuh
Pada varian hybrid, T1 i-DM menggunakan mesin bensin 1.500 cc yang dipadukan dengan transmisi hybrid DHT dan baterai Lithium Iron Phosphate atau LFP. Mesin bensinnya menghasilkan tenaga 136 PS pada 5.200 rpm dan torsi 220 Nm pada 2.500 rpm.
Motor listriknya menyumbang tenaga 204 PS dan torsi 310 Nm. Jetour menyebut kombinasi itu membuat performanya responsif sekaligus lebih efisien dibanding kendaraan bermesin konvensional.
Model ini juga diklaim mampu menempuh lebih dari 1.200 kilometer saat baterai dan tangki bahan bakar 70 liter sama-sama terisi penuh. Klaim jarak tempuh tersebut menjadi salah satu nilai jual penting di tengah kekhawatiran konsumen terhadap mobil elektrifikasi.
Versi bensin tetap disiapkan
Untuk pembeli yang lebih memilih mesin konvensional, Jetour menyiapkan T1 ICE dengan mesin turbo TGDI 1.500 cc. Tenaganya mencapai 170 PS pada 5.500 rpm, sedangkan torsi maksimumnya 270 Nm pada rentang 2.000 hingga 3.500 rpm.
Spesifikasi itu membuat T1 versi bensin tetap relevan di segmen SUV menengah. Kehadiran opsi ICE dan hybrid sekaligus memperluas jangkauan Jetour ke konsumen dengan tingkat kesiapan teknologi yang berbeda.
Harga jadi pembeda paling tegas
Jetour memasang T1 i-DM dengan harga Rp 558 juta untuk pasar Indonesia. Versi mesin bensin dipatok Rp 408 juta, sehingga selisihnya tepat Rp 150 juta.
Untuk 500 konsumen pertama, Jetour memberikan harga khusus Rp 538 juta bagi T1 i-DM dan Rp 388 juta untuk versi bensin. Dengan strategi itu, T1 diposisikan bukan hanya sebagai SUV bergaya petualang, tetapi juga sebagai model yang menawarkan dua pilihan teknologi dengan jarak harga yang sangat jelas.
Source: www.liputan6.com