Kasma Tetap Menuju Tanah Suci Dalam Kursi Roda, Setelah Dua Kali Tertunda Karena Sakit

Di kursi roda, Kasma Muskin Nusi akhirnya bersiap menunaikan ibadah haji setelah penantian panjang yang sempat dua kali terhenti karena sakit. Perempuan asal Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, itu tetap berangkat meski kondisi tubuhnya kini jauh menurun setelah kaki kanan diamputasi dan tangan kanannya ikut melemah.

Perjalanan menuju Tanah Suci ini menjadi momen yang sangat berarti bagi Kasma. Ia sudah mendaftar sejak 2011 dan baru mendapat kesempatan berangkat setelah sekitar 15 tahun menunggu.

Kasma tercatat masuk dalam kloter 17 Embarkasi Makassar. Ia tiba di Asrama Haji Sudiang, Jalan Goa Ria, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, pada Sabtu (2/5/2026), lalu dijadwalkan terbang ke Tanah Suci pada Minggu (3/5/2026).

Dua kali tertunda karena sakit

Kesempatan Kasma untuk berangkat sebenarnya sudah datang pada 2023. Namun, ia tidak bisa ikut karena penyakit diabetes yang dideritanya.

Pada 2024, namanya kembali dipanggil. Akan tetapi, kondisi kesehatannya justru semakin memburuk hingga harus menjalani amputasi kaki, sehingga rencana ibadah itu kembali tertunda.

Meski dua kali gagal, Kasma tidak melepaskan harapan untuk tetap memenuhi panggilan haji. Keberangkatan kali ini menjadi jawaban atas penantian panjang yang ia jalani sejak mendaftar lebih dari satu dekade lalu.

Tetap bersyukur meski banyak keterbatasan

Kasma mengaku bersyukur akhirnya bisa dipanggil berangkat. Ia mengatakan, “Alhamdulillah sekarang sudah dipanggil.”

Sebelum sakit, ia bekerja sebagai penjual pakaian. Kini, aktivitasnya sangat terbatas dan ia bergantung pada kursi roda serta bantuan orang lain untuk menjalani keseharian.

Dalam kondisi seperti itu, Kasma tetap menunjukkan semangat saat bersiap menuju Tanah Suci. Keterbatasan fisik tidak mengurangi rasa syukurnya karena kesempatan berhaji akhirnya datang juga.

Didampingi anak selama perjalanan

Selama perjalanan haji, Kasma tidak pergi sendiri. Ia didampingi anaknya yang membantu sejak proses keberangkatan hingga nanti menjalani ibadah di Tanah Suci.

Pendampingan itu menjadi penting mengingat kondisi fisiknya sudah tidak lagi prima. Bantuan keluarga membuat Kasma tetap bisa menempuh perjalanan ibadah yang selama ini ia nantikan.

Di tengah segala keterbatasan, Kasma juga menyimpan doa yang terus ia panjatkan. “Doanya banyak. Salah satunya, semoga selalu bahagia bersama anak,” tuturnya.

Kisah Kasma memperlihatkan bahwa keberangkatan haji bukan hanya soal antrean panjang, tetapi juga keteguhan menghadapi sakit dan perubahan besar dalam hidup. Dari kursi roda, ia tetap melangkah menuju Tanah Suci dengan syukur yang telah ia jaga sejak lama.

Source: www.beritasatu.com
Exit mobile version