Di saat banyak pekerja teknologi dilanda kekhawatiran akibat gelombang kecerdasan buatan, justru keamanan siber menjadi salah satu bidang yang paling diburu. Perusahaan tidak hanya ingin menambah produktivitas lewat AI, tetapi juga harus bersiap menghadapi risiko baru yang ikut lahir bersamanya.
Kondisi itu membuat kebutuhan terhadap ahli keamanan digital melonjak, sementara kandidat yang benar-benar berpengalaman tetap terbatas. Di pasar kerja yang masih tertekan oleh PHK dan perlambatan perekrutan, profesi ini justru naik kelas karena perusahaan harus menjaga sistem, data, dan infrastruktur mereka dari ancaman yang semakin kompleks.
Permintaan naik cepat, kandidat tetap langka
Heidrick & Struggles, firma talenta eksekutif, menyebut permintaan perusahaan terhadap kandidat berpengalaman di bidang keamanan siber meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir. Austin Cowan dari firma itu mengatakan, posisi yang dulu hanya dicari setiap 12 bulan kini diminta setiap minggu.
Lonjakan tersebut berkaitan erat dengan cara pekerja teknologi menggunakan AI untuk membuat kode. Proses itu tidak selalu aman karena kode buatan AI bisa memunculkan bug dan kerentanan baru.
Di saat yang sama, perusahaan AI besar juga sudah memperingatkan bahwa model terbaru mereka dapat dipakai untuk menemukan dan mengeksploitasi celah perangkat lunak. Artinya, pertahanan digital perusahaan harus bergerak lebih cepat dan lebih teknis daripada sebelumnya.
Lowongan tetap panas meski sektor lain melemah
Glassdoor mencatat lowongan kerja di bidang keamanan siber pada kuartal pertama naik 11% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka itu menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja keamanan digital masih sangat aktif, bahkan ketika banyak sektor teknologi lain sedang tertekan.
Permintaan yang tinggi itu juga mempersulit proses perekrutan. Beberapa firma pencari kerja sampai menolak klien karena kandidat yang benar-benar cocok dengan kebutuhan perusahaan terlalu sedikit.
Michael Piacente dari Hitch Partners mengatakan pencarian pakar keamanan yang sangat teknis menjadi jauh lebih umum sejak Anthropic mempratinjau Mythos. Ia menyebut perusahaannya menerima banjir permintaan, dengan peningkatan sejak musim gugur tahun lalu mencapai lima hingga tujuh kali lipat.
Perusahaan mencari sosok yang lebih teknis dan adaptif
Lea Kissner, kepala petugas keamanan informasi di LinkedIn, mengatakan perusahaan kini mencari engineer dengan keterampilan teknis yang kuat. Selain itu, mereka juga menginginkan orang yang mampu menghadapi ambiguitas dan memahami infrastruktur perusahaan yang kompleks.
Menurut Kissner, pasar kerja bagi pakar keamanan siber sedang makin dicari. Dorongan itu datang bukan hanya dari kebutuhan teknis, tetapi juga dari tekanan untuk menjaga sistem tetap aman di tengah perubahan cepat yang dibawa AI.
Gaji ikut terdorong naik
Naiknya permintaan membuat posisi tawar kandidat semakin kuat, terutama di level eksekutif. Cowan mengatakan paket gaji US$7 juta atau US$8 juta, setara sekitar Rp124 miliar hingga Rp142 miliar, kini makin umum untuk eksekutif keamanan.
Meski begitu, angka tersebut masih berada di bawah paket gaji peneliti AI terkemuka yang bisa mencapai US$250 juta atau Rp4,4 triliun. Itu menunjukkan bahwa persaingan untuk talenta papan atas di teknologi tetap sangat agresif, meski keamanan siber sendiri sudah berada di level kompensasi yang sangat tinggi.
Tekanan kenaikan gaji juga terasa di level menengah. Kissner menyebut engineer keamanan kini meminta bayaran lebih tinggi sekaligus pekerjaan yang lebih menarik, sehingga perebutan kandidat ikut semakin ketat.
AI justru membuat keamanan siber makin strategis
Banyak pihak semula khawatir AI akan menggantikan lebih banyak pekerja. Namun di sektor keamanan siber, teknologi itu justru memperbesar kebutuhan terhadap tenaga ahli yang mampu menjaga sistem tetap aman.
Kissner menegaskan bahwa AI telah membuat tim keamanan lebih sibuk. Ia juga mengatakan industri ini belum benar-benar memahami bagaimana menerapkan keamanan AI secara berkelanjutan dan jangka panjang dalam beberapa tahun ke depan.
Situasi tersebut menjelaskan mengapa keamanan siber kini menjadi salah satu area yang tumbuh di tengah gelombang PHK dan perlambatan perekrutan. Saat perusahaan berlomba memanfaatkan AI, mereka juga dipaksa menyiapkan pertahanan digital yang lebih kuat, dan di titik itulah para ahli keamanan siber menjadi semakin mahal dan semakin sulit ditemukan.
Source: www.cnbcindonesia.com




