Ketidakpastian Aturan Menahan Ekspansi, Pasar Kerja Makin Selektif

Di tengah ketidakpastian yang terus berubah, banyak perusahaan memilih menahan langkah perekrutan ketimbang menambah beban baru. Situasi ini membuat pasar kerja ikut terasa lebih ketat, terutama bagi perusahaan yang sedang berada dalam fase pertumbuhan.

Praktisi HR sekaligus Ketua Ikatan SDM Profesional Indonesia (ISPI), Ivan Taufiza, menilai penahanan rekrutmen paling kuat terjadi pada perusahaan yang masih mengejar ekspansi. Dalam kondisi seperti itu, keputusan menambah karyawan sangat bergantung pada kepastian aturan dan kemampuan perusahaan menjaga biaya operasional tetap terkendali.

Biaya usaha yang melonjak mengubah prioritas perekrutan

Tekanan paling nyata datang dari naiknya biaya produksi. Ivan memberi contoh industri produksi kaca yang harus menghadapi lonjakan harga gas sampai 50 persen dari kontrak awal, sehingga perusahaan itu kembali menghitung kebutuhan tenaga kerja.

Ia menjelaskan bahwa harga gas yang semula disepakati Rp 6 ribu per kilogram naik menjadi Rp 9 ribu per kilogram. Dengan beban produksi yang membengkak, rencana merekrut 2.000 orang pun akhirnya tidak lagi dianggap realistis.

Kondisi ini menunjukkan bahwa rekrutmen sering menjadi salah satu keputusan pertama yang ditahan saat biaya operasional naik. Perusahaan biasanya memilih menjaga kelangsungan produksi lebih dulu daripada membuka lowongan baru di tengah tekanan harga bahan baku atau energi.

Sektor otomotif ikut merasakan dampaknya

Perubahan arah juga terjadi di sektor otomotif, terutama pada kendaraan listrik yang sangat bergantung pada kebijakan insentif. Saat skema insentif bergeser, minat beli konsumen ikut berubah dan perusahaan segera menyesuaikan rencana tenaga kerja.

Ivan mengungkapkan ada perusahaan yang semula berkomitmen merekrut 5.000 orang. Namun, setelah insentif mobil listrik berubah, target itu direvisi menjadi “sekian ribu dulu”.

Penyesuaian semacam itu membuat dunia usaha bergerak lebih hati-hati. Ketika arah pasar belum jelas, banyak perusahaan memilih menunggu sebelum mengeluarkan komitmen baru untuk penambahan karyawan.

Kepastian regulasi jadi kunci keputusan bisnis

Bagi dunia usaha, kepastian regulasi menjadi kebutuhan utama. Ivan menilai tiga hal yang sangat bergantung pada itu adalah penggantian karyawan, ekspansi bisnis, dan investasi baru.

Jika aturan terasa berubah-ubah, perusahaan cenderung menunda pengembangan usaha. Saat itu terjadi, kebutuhan tenaga kerja ikut menurun karena manajemen lebih memilih menjaga stabilitas operasional daripada menambah beban tetap.

Ivan juga menyoroti bahwa ketidakpastian global dan domestik sama-sama bisa membuat investor menahan pengembangan usaha. Dampaknya merembet ke pasar kerja karena pembukaan posisi baru biasanya menjadi bagian yang paling cepat dikoreksi saat perusahaan mengetatkan belanja.

Pencari kerja diminta lebih luwes membaca pasar

Di tengah situasi yang lebih selektif, Ivan mendorong pencari kerja untuk tetap aktif melamar sambil membuka diri pada peluang di sektor informal. Menurut dia, pengalaman di sektor informal tetap bernilai karena menunjukkan kemampuan beradaptasi dan daya tahan dalam keadaan sulit.

Ia menilai fresh graduate kerap menghadapi tantangan dari sisi pola pikir saat mencari pekerjaan pertama. Meski begitu, kebutuhan di sektor informal disebut tidak pernah benar-benar hilang, sehingga pengalaman di bidang itu dapat menjadi bekal tambahan untuk membangun ketahanan kerja.

Kemampuan bertahan ikut dinilai dalam seleksi

Ivan juga menekankan pentingnya survival quotient atau SQ dalam proses rekrutmen. Istilah ini merujuk pada kemampuan seseorang untuk bertahan dan menyesuaikan diri ketika menghadapi tekanan kerja maupun perubahan situasi.

Bagi perusahaan, SQ ikut menjadi faktor penilaian saat memilih kandidat. Pelamar yang dinilai adaptif dan tahan menghadapi kondisi sulit dianggap memiliki nilai lebih dibanding kandidat yang hanya mengandalkan gelar atau riwayat jabatan terakhir.

Pertimbangan itu juga muncul ketika perusahaan menghadapi kemungkinan pengurangan tenaga kerja. Manajemen biasanya menilai beban tim yang tersisa, sehingga fleksibilitas dan ketahanan kerja makin diperhitungkan dalam rekrutmen di tengah ketidakpastian usaha.

Baca Juga

Back to top button