Di tengah ketegangan jalur minyak di Timur Tengah, Vietnam bergerak cepat untuk menjaga pasokan bahan baku Kilang Nghi Son. PetroVietnam Oil Corporation atau PVOIL meminta Angkatan Laut Amerika Serikat membuka jalan bagi sebuah supertanker pengangkut minyak mentah Irak yang tertahan di kawasan Teluk Timur Tengah.
Permintaan itu disampaikan melalui surat kepada militer dan misi diplomatik Amerika Serikat. Dalam surat tertanggal 12 Mei yang dilihat Reuters, Wakil Presiden PVOIL Hoang Dinh Tung menegaskan bahwa kargo tersebut sangat penting bagi Nghi Son Refinery, Republik Sosialis Vietnam, dan rakyat Vietnam.
Tekanan pada stok kilang
PVOIL menyebut inventaris bahan baku di Kilang Nghi Son sudah berada pada level yang sangat rendah. Kondisi itu membuat pengiriman minyak mentah yang tertahan menjadi mendesak, karena setiap penundaan tambahan disebut dapat menghentikan produksi kilang.
Perusahaan itu juga memperingatkan bahwa gangguan terhadap Nghi Son tidak berhenti pada aktivitas industri semata. Dampaknya dinilai bisa merembet ke jutaan konsumen, bisnis, layanan publik, dan sektor industri di Vietnam.
Kargo yang dibutuhkan Vietnam
Muatan yang dipersoalkan adalah minyak mentah Basra Irak yang dijual oleh perusahaan minyak negara Irak, SOMO. PVOIL mengatakan kapal tersebut sudah dimuat antara 17 dan 20 April, lalu menjadi bagian dari pengiriman yang kini tersangkut di perairan kawasan.
Supertanker berbendera Malta, Agio Fanourios I, membawa 2 juta barel minyak mentah saat meninggalkan Selat Hormuz pada 10 Mei. Data pelacakan kapal di MarineTraffic menunjukkan kapal itu kemudian bergerak di Teluk Oman sebelum berbalik arah pada 11 Mei.
Posisi Amerika Serikat belum jelas
Pusat Komando militer Amerika Serikat menyatakan pasukannya mengalihkan kapal itu sebagai bagian dari penegakan blokade terhadap Iran. Namun pernyataan tersebut tidak menjelaskan apakah Angkatan Laut AS pada akhirnya akan mengizinkan kapal itu melanjutkan perjalanan ke Vietnam seperti yang diminta PVOIL.
Hingga kini, belum ada kejelasan dari pernyataan militer AS mengenai izin pelayaran ke Vietnam. Di sisi lain, Iranian semi-official Tasnim news agency melaporkan kapal itu melintas Selat Hormuz pada hari Minggu menggunakan rute yang ditetapkan Iran untuk tanker.
Risiko yang meluas di jalur energi
Langkah Washington memperluas blokade pengiriman terhadap Iran hingga mencakup muatan yang dianggap barang selundupan menambah ketegangan di jalur energi kawasan. Pada saat yang sama, Amerika Serikat menyatakan ekspor minyak lain dari Teluk tetap bebas melintas.
Situasi itu terjadi ketika perang AS-Israel melawan Iran memicu penutupan Selat Hormuz. Ratusan kapal disebut terjebak dan suplai energi global terganggu di jalur sempit yang dilalui sekitar 20% pasokan energi dunia.
Bagi Vietnam, kasus Agio Fanourios I menjadi soal yang sangat langsung karena menyangkut pasokan untuk kilang utama yang stoknya menipis. Bagi pasar energi kawasan, kapal itu menjadi contoh rapuhnya arus minyak yang bergantung pada jalur sempit dan keputusan militer di tengah ketegangan yang terus meningkat.





