Tekanan terhadap pemerintah Inggris soal keamanan komunitas Yahudi semakin menguat setelah penusukan di London utara memicu kekhawatiran baru. Perdana Menteri Keir Starmer mengatakan banyak warga Yahudi kini hidup dalam rasa takut dan merasa tidak aman dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Dalam pernyataan televisi, Starmer menegaskan pemerintah akan memperketat perlindungan dan menambah kehadiran polisi di wilayah yang menjadi pusat komunitas Yahudi. Ia juga menyebut langkah lebih cepat akan ditempuh untuk menghadapi ancaman yang dinilai didorong negara, termasuk yang dikaitkan dengan Iran.
Starmer menggambarkan situasi yang membuat sebagian warga Yahudi memilih menyembunyikan identitas mereka. Ia menyebut mereka merasa ragu saat pergi ke sinagoge, menghadiri kuliah, mengantar anak ke sekolah, bahkan ketika harus memberi tahu rekan kerja bahwa mereka Yahudi.
Sorotan pada rasa takut di komunitas Yahudi
Pernyataan itu muncul ketika pemerintah Inggris menghadapi kritik dari sebagian kalangan Yahudi yang menilai respons resmi belum memadai. Kecemasan tersebut meningkat setelah serangan di Golders Green, lokasi penusukan terhadap dua pria Yahudi di London utara.
Saat Starmer mengunjungi kawasan itu, ia sempat diteriaki sekelompok kecil orang yang membawa spanduk bertuliskan “Keir Starmer Jew Harmer”. Insiden tersebut menambah tekanan politik di tengah perdebatan yang semakin tajam mengenai perlindungan terhadap komunitas Yahudi.
Polisi menyebut tersangka serangan itu adalah pria warga negara Inggris berusia 45 tahun yang lahir di Somalia. Otoritas juga mengatakan ia memiliki riwayat kekerasan serius dan masalah kesehatan mental.
Pria tersebut pernah dirujuk ke program pencegahan radikalisasi Prevent pada 2020. Laporan media setempat menambahkan bahwa ia juga pernah menjalani hukuman penjara atas insiden pada 2008, ketika ia menikam seorang petugas dan seekor anjing polisi.
Janji tindakan yang lebih keras
Starmer mengatakan pemerintah akan melakukan “segala yang ada dalam kekuatan” mereka untuk menghentikan kebencian terhadap Yahudi. Ia menyebut otoritas akan diberi kewenangan lebih besar untuk menutup badan amal yang mempromosikan ekstremisme.
Selain itu, pemerintah juga berencana mengambil tindakan lebih keras terhadap “pendakwah kebencian”. Langkah lain yang disorot adalah percepatan legislasi agar orang yang bertindak sebagai perpanjangan tangan kelompok yang didukung negara bisa dituntut.
Dengan aturan itu, mereka dapat diperlakukan seperti mata-mata bagi dinas intelijen asing. Starmer menyatakan pemerintah meyakini ada upaya untuk menyakiti warga Yahudi di Inggris dan menilai aturan yang lebih kuat diperlukan untuk menghadapi ancaman dari negara seperti Iran.
Protes, slogan, dan ketegangan yang melebar
Salah satu sumber kemarahan terbesar di komunitas Yahudi adalah maraknya demonstrasi pro-Palestina sejak serangan Hamas ke Israel pada Oktober 2023 yang memicu perang di Gaza. Para pengkritik menilai aksi-aksi tersebut memunculkan permusuhan dan membuka ruang bagi antisemitisme.
Starmer juga menegaskan slogan “Globalise the Intifada” harus dipandang sebagai seruan teror terhadap orang Yahudi. Menurutnya, penggunaan slogan itu layak dituntut karena merupakan bentuk rasisme ekstrem yang membuat kelompok minoritas merasa terintimidasi.
Pemerintah Iran menolak tuduhan keterlibatan dalam ancaman terhadap warga Yahudi di Inggris. Namun, Reuters mencatat sebuah kelompok yang pro-pemerintah Iran mengaku bertanggung jawab atas beberapa serangan terbaru.
Bulan lalu, dua pria juga didakwa berdasarkan Undang-Undang Keamanan Nasional Inggris karena diduga bertugas melakukan pengawasan bermusuhan atas perintah Iran. Pemerintah Inggris memandang rangkaian itu sebagai bagian dari ancaman yang perlu direspons lebih tegas.
Gelombang insiden yang belum mereda
Serangan di London dipandang sebagai bagian dari meningkatnya aksi antisemit di Inggris. Pada Oktober lalu, dua orang tewas dalam serangan di sebuah sinagoge di Manchester, sementara sepekan kemudian dua pria diadili atas rencana membunuh ratusan orang dalam aksi bersenjata terinspirasi Islamic State terhadap komunitas Yahudi.
Keduanya dinyatakan bersalah pada Desember, tidak lama setelah penembakan massal di perayaan Hanukkah Yahudi di Bondi Beach, Australia. Jonathan Hall, pengawas independen undang-undang terorisme Inggris, mengatakan kepada BBC bahwa serangan-serangan di Inggris telah menjadi “darurat keamanan nasional terbesar” sejak 2017.
Di tengah situasi itu, pemerintah Inggris berupaya menunjukkan bahwa perlindungan terhadap komunitas Yahudi akan menjadi prioritas. Fokus kebijakan kini tertuju pada keamanan, penegakan hukum, dan respons yang lebih cepat terhadap ujaran kebencian yang dianggap memperburuk rasa takut di kalangan warga Yahudi.





