Blokade jalan menuju La Paz masih menjadi sumber tekanan paling nyata bagi pemerintah Bolivia, meski satu gelombang negosiasi dengan para penambang sudah menghasilkan kesepakatan. Akses ke ibu kota tetap tersumbat pada Jumat, dan kondisi itu membuat pusat pemerintahan sekaligus kota terbesar negara itu belum benar-benar lepas dari gangguan.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa damai di satu titik konflik belum otomatis meredakan krisis di tempat lain. Presiden Rodrigo Paz, yang baru menjabat sejak November, kini menghadapi protes berlapis dari berbagai kelompok yang sama-sama menekan pemerintahnya.
Pasokan ibu kota ikut terjepit
Otoritas Jalan Raya Bolivia memperingatkan bahwa blokade di jalur masuk La Paz menghambat distribusi makanan ke kota itu. Pemerintah lalu mengandalkan transportasi udara mulai Sabtu untuk memasukkan bahan pangan, sebuah langkah yang memang kerap dipakai saat blokade terjadi di Bolivia.
Juru bicara kepresidenan Bolivia, Jose Luis Galvez, mengatakan Argentina menyediakan dua pesawat untuk membantu pengiriman makanan melewati blokade. Di sejumlah supermarket, harga daging, ayam, dan beberapa sayuran melonjak tajam dalam sepekan terakhir.
Kenaikan harga itu terjadi ketika inflasi tahunan Bolivia sudah mencapai 14 persen pada April. Tekanan biaya hidup membuat dampak blokade terasa bukan hanya pada lalu lintas, tetapi juga pada isi rak-rak toko di ibu kota.
Kesepakatan dengan penambang belum menutup semua jalan konflik
Pemerintah menyebut kesepakatan dengan para demonstran tercapai pada Jumat pagi setelah hampir 12 jam perundingan. Menteri Ekonomi Jose Gabriel Espinoza mengatakan isi kesepakatan akan diumumkan kemudian, tanpa merinci detailnya.
Oscar Chavarria, presiden Federasi Koperasi Pertambangan Potosi, menyebut pembicaraan itu mencakup sembilan poin utama. Menurut dia, semua poin tersebut sudah ditangani dengan sukses, tetapi dampaknya belum terasa penuh di lapangan.
Pada saat yang sama, sejumlah kelompok lain masih memblokir akses jalan menuju La Paz. Otoritas jalan nasional menyatakan rute ke ibu kota tetap tersumbat sepanjang Jumat, sehingga kesepakatan dengan para penambang belum cukup untuk membuka seluruh jalur penting ke pusat pemerintahan.
Tekanan politik terhadap Rodrigo Paz terus melebar
Gelombang protes terhadap kebijakan Paz sudah mengguncang Bolivia sejak awal Mei. Guru, pekerja transportasi, masyarakat adat, dan warga lainnya ikut turun ke jalan untuk menuntut kenaikan upah, stabilitas ekonomi, dan penghentian privatisasi perusahaan milik negara.
Para penambang yang berunjuk rasa pada Kamis juga meminta Paz mundur. Mereka menilai pemerintah belum memenuhi tuntutan mereka, termasuk soal bahan bakar dan peralatan kerja.
Ketegangan sempat meningkat ketika polisi mencegah para penambang masuk ke alun-alun utama dengan gas air mata. Para demonstran lalu membalas dengan melempar batu dan bahan peledak menggunakan ketapel, menurut pengamatan seorang jurnalis AFP.
Dampak kebijakan ekonomi ikut memicu ketidakpuasan
Paz naik ke tampuk kekuasaan setelah kemenangan elektoral yang menandai pergeseran ke kanan setelah dua dekade pemerintahan sosialis. Salah satu langkah awalnya adalah menghapus subsidi bahan bakar yang telah berusia dua dekade karena dianggap menguras cadangan dolar internasional negara.
Namun, pasokan bahan bakar sejauh ini belum berhasil distabilkan. Kondisi itu ikut memperkuat rasa frustrasi di tengah masyarakat yang sudah terbebani oleh tekanan ekonomi dan gangguan distribusi.
Sorotan dari kawasan sekitar Bolivia
Krisis yang berlangsung di Bolivia juga menarik perhatian negara-negara tetangga di Amerika Latin. Dalam pernyataan bersama pada Jumat, pemerintah Argentina, Chile, Peru, Ekuador, Kosta Rika, Paraguay, Panama, dan Honduras menyampaikan keprihatinan atas situasi tersebut.
Mereka menolak setiap tindakan yang bertujuan mengganggu tatanan demokratis. Negara-negara itu juga mendesak semua aktor politik dan sosial agar menyalurkan perbedaan melalui dialog, menghormati institusi, dan menjaga perdamaian sosial.





