Di tengah pasar asuransi yang masih ketat, Tugu Insurance justru menutup 2025 dengan lonjakan laba yang mencolok. Laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk mencapai Rp 711 miliar, naik 76,8 persen dibandingkan perolehan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 402 miliar.
Penguatan itu tidak hanya bertumpu pada bisnis inti, tetapi juga ditopang hasil investasi dan pengelolaan risiko yang disiplin. Perseroan menilai kombinasi tersebut menjaga kinerja tetap solid, meski industri asuransi masih bergerak dalam kondisi yang menantang.
Pendapatan asuransi ikut terdorong
Di lini utama, pendapatan jasa asuransi konsolidasian Tugu Insurance mencapai Rp 9,11 triliun pada 2025. Angka itu tumbuh 22,11 persen dari Rp 7,46 triliun pada periode sebelumnya.
Kenaikan pendapatan tersebut ikut mengangkat hasil jasa asuransi menjadi Rp 1,02 triliun. Pada periode sebelumnya, pos ini tercatat Rp 736 miliar.
Presiden Direktur Tugu Insurance Adi Pramana menyebut pencapaian itu mencerminkan fundamental keuangan perseroan yang kuat. Ia juga menegaskan bahwa pengelolaan risiko yang disiplin menjadi salah satu penopang utama kinerja.
Investasi menjadi penopang penting
Selain dari bisnis asuransi, kontribusi investasi juga memberi dorongan besar bagi laba perseroan. Nilainya mencapai Rp 723 miliar dan tumbuh 57,86 persen secara tahunan.
Adi menilai performa tersebut lahir dari strategi portofolio yang responsif terhadap dinamika pasar global dan domestik. Strategi itu membantu perseroan menjaga kinerja saat perubahan pasar bergerak cepat.
Dari sisi likuiditas, saldo kas konsolidasian tercatat Rp 735 miliar. Posisi ini naik Rp 377 miliar dibandingkan tahun sebelumnya, sekaligus memberi ruang yang lebih nyaman bagi perusahaan.
Modal dan solvabilitas masih sangat kuat
Ekuitas Tugu Insurance juga menguat menjadi Rp 10,17 triliun. Penguatan itu didorong akumulasi laba berjalan dan perbaikan struktur permodalan.
Di sisi ketahanan modal, perseroan membukukan Risk Based Capital atau RBC sebesar 410,90 persen. Angka tersebut jauh di atas ketentuan minimum Otoritas Jasa Keuangan sebesar 120 persen.
Jika dibandingkan rata-rata industri yang sebesar 335,22 persen, posisi RBC Tugu Insurance juga masih lebih tinggi. Kondisi ini menunjukkan ruang solvabilitas perusahaan tetap sangat kuat.
Perseroan pun mempertahankan Financial Strength Rating atau FSR pada level A- (Excellent) dari lembaga pemeringkat internasional. Peringkat itu mempertegas daya tahan Tugu Insurance di tengah tuntutan permodalan dan risiko yang tinggi di industri asuransi.
Perubahan pengurus mendapat persetujuan pemegang saham
Dalam RUPST, pemegang saham juga menyetujui perubahan pengurus. Clifford Patrick Wuisan dan Ony Suprihartono diangkat sebagai komisaris baru.
Keduanya masih menunggu hasil penilaian kemampuan dan kepatutan dari OJK. Perubahan susunan pengurus ini menjadi bagian dari upaya perseroan menjaga kredibilitas dan tata kelola.
Dengan laba yang melonjak, pendapatan yang terus tumbuh, serta posisi permodalan yang tetap kokoh, Tugu Insurance menutup 2025 dalam posisi yang relatif solid. Kinerja itu menunjukkan perseroan masih mampu menjaga daya tahan saat industri asuransi tetap berada dalam kondisi ketat.





