Laut Yang Luka Dan Sosok Oni, Novel Ini Menyusupkan Kritik Ekologi Lewat Dongeng yang Lirih

Di balik kisah tentang ikan remora bernama Oni, novel Oni Jouska membawa pembaca masuk ke wilayah yang lebih luas daripada sekadar cerita bawah laut. Buku karya Asep Ardian ini menempatkan laut sebagai ruang luka, ruang ingatan, sekaligus cermin untuk membaca ulang hubungan manusia dengan alam.

Pendekatan semacam itu membuat novel ini menonjol di antara cerita bertema samudera. Kritik ekologisnya tidak hadir lewat suara yang keras, melainkan lewat suasana, dialog, dan tokoh yang merasa asing di tempat hidupnya sendiri.

Laut yang menyimpan bekas kerusakan

Dalam novel ini, laut digambarkan sebagai dunia yang memikul jejak pencemaran dan sampah. Kerusakan itu tidak hanya mengganggu kehidupan biota, tetapi juga membuat ruang hidup para tokohnya terasa makin rapuh.

Pilihan penggambaran seperti ini membuat persoalan lingkungan terasa dekat. Dampak ulah manusia muncul lewat keseharian, bukan lewat penjelasan yang menggurui atau konflik yang meledak-ledak.

Oni sebagai wajah keterasingan

Tokoh utama novel ini adalah Oni, ikan remora yang dianggap berbeda karena tidak bisa menempel pada makhluk lain seperti remora lain. Perbedaan itu menempatkan Oni sebagai sosok yang tidak sepenuhnya diterima oleh komunitasnya.

Dari titik itu, cerita bergerak ke soal identitas, kegunaan, dan pencarian tempat hidup. Oni tidak hanya tampil sebagai ikan yang berusaha bertahan, tetapi juga sebagai simbol keterasingan yang terasa dekat dengan pengalaman manusia modern.

Kritik sosial yang berjalan pelan

Jejak manusia dalam cerita hampir tidak pernah muncul secara langsung. Namun pengaruhnya tetap kuat karena terasa melalui sampah, pencemaran, dan perubahan ekosistem yang mengganggu kehidupan laut.

Asep Ardian memilih nada yang lirih, bukan satir yang keras. Karena itu, kritik sosial dalam novel ini tumbuh perlahan dan mengendap, lalu mendorong pembaca untuk merenung.

Legenda dan lapisan mitologis

Oni Jouska juga memadukan dunia laut dengan legenda, ingatan turun-temurun, paus, klan-klan ikan, dan kisah tentang nabi-nabi. Unsur-unsur itu memberi lapisan mitologis yang memperkaya cerita tanpa menggeser fokus ekologisnya.

Kehadiran lapisan tersebut memperkuat kesan bahwa laut menyimpan sejarah panjang yang terus bergerak bersama perubahan zaman. Hubungan antargenerasi pun ikut menonjol karena para tokohnya hidup di tengah ruang yang sudah tidak sama seperti dulu.

Bahasa yang reflektif

Gaya bahasa yang digunakan cenderung simbolik dan kontemplatif. Sejumlah bagian bahkan terasa seperti renungan tentang hidup dan kematian, sehingga buku ini lebih pas dibaca dengan tempo perlahan.

Karakter itu membuat Oni Jouska tidak mengejar ketegangan sebagai tujuan utama. Kekuatan novel justru terletak pada atmosfer, simbol, dan lapisan makna yang dibangun sedikit demi sedikit.

Buku ini diterbitkan oleh Marjin Kiri dengan cetakan pertama Mei 2026. Oni Jouska ditulis Asep Ardian, diedit Prihandini Nur Rahmah, ditata letak Ashari Ramadana, dan memiliki 132 halaman dengan QRCBN 62-6771-2790-699.

Melalui pilihan cerita yang lembut namun tajam, novel ini memperlihatkan bahwa isu lingkungan dapat dibaca lewat sastra yang tidak berteriak. Laut di dalamnya menjadi cermin bagi luka manusia, kehilangan, dan hubungan yang retak dengan alam.

Source: lifestyle.bisnis.com
Exit mobile version