Layar Bioskop Tak Dibagi Rata, Ernest Prakasa Sebut Nama Besar dan Promosi Jadi Penentu

Perdebatan soal pembagian layar bioskop kembali mencuat, tetapi Ernest Prakasa melihat masalahnya dari sisi yang lebih sederhana: ini bukan urusan konspirasi, melainkan cara kerja bisnis. Menurut dia, jaringan bioskop akan selalu cenderung memilih film yang dinilai paling aman secara komersial karena layar yang tersedia sangat terbatas.

Melalui unggahan di Instagram, Ernest menggambarkan bioskop seperti warung dengan rak yang tidak banyak. Dalam logika itu, pemilik tentu akan menaruh barang yang paling mungkin laku, dan prinsip serupa berlaku saat bioskop menentukan film mana yang mendapat jatah layar.

Layar sedikit, biaya tetap jalan

Ernest menilai bioskop tidak bisa dipahami seolah-olah semua film harus mendapat porsi yang sama. Di balik keputusan pembagian layar, ada beban operasional yang terus bergerak dan tidak kecil.

Ia menyebut biaya itu mencakup sewa mal, listrik, karyawan, hingga perawatan fasilitas. Karena pengeluaran terus berjalan, bioskop harus memastikan layar yang tersedia menghasilkan tiket sebanyak mungkin.

Dari situ, film yang dianggap punya daya jual lebih tinggi akan lebih dulu diprioritaskan. Ernest menegaskan bahwa keputusan seperti itu lahir dari pertimbangan bisnis, bukan semata-mata dari selera kreatif.

Nama besar masih punya pengaruh

Selain faktor bisnis, Ernest juga menyoroti peran nama besar dalam industri film. Menurut dia, reputasi rumah produksi dan produser sangat memengaruhi besar kecilnya peluang sebuah film memperoleh slot layar.

Ia menjelaskan bahwa label yang sudah dikenal publik biasanya lebih mudah mendapat kepercayaan. Sebaliknya, film dari pendatang baru memang bisa saja bagus, tetapi tetap perlu waktu untuk membangun keyakinan pasar.

Dari sudut pandang bioskop, nama besar dianggap membantu menekan risiko. Karena layar terbatas, kepercayaan seperti itu menjadi modal penting saat jaringan bioskop memilih film yang akan diputar.

Promosi ikut menentukan daya tarik

Ernest juga menilai kekuatan promosi ikut memengaruhi peluang tayang. Film dengan dukungan promosi besar biasanya lebih mudah menarik perhatian publik, dan pada saat yang sama membuat bioskop lebih yakin pada potensi penjualannya.

Ia mencontohkan strategi promosi film Agak Laen 2 dari rumah produksinya, Imajinari, yang menyiapkan lebih dari 50 agenda promosi di podcast, televisi, dan program lain. Menurut Ernest, upaya seperti itu tidak murah karena melibatkan biaya operasional, konsumsi, dan kebutuhan teknis lain.

Bagi dia, promosi yang masif bukan sekadar tambahan. Dukungan seperti itu ikut memperbesar peluang sebuah film bersaing dalam perebutan layar.

Bukan curang, tapi hukum pasar

Ernest menolak anggapan bahwa pembagian layar identik dengan praktik curang atau suap. Ia memandang mekanisme tersebut lebih dekat pada cara kerja kapitalisme yang mengikuti hukum pasar.

Dalam kerangka itu, bioskop akan tetap memilih film yang dinilai paling aman secara komersial selama mereka harus menjaga pemasukan. Karena itu, preferensi terhadap nama besar dan promosi besar dianggap wajar dalam logika industri.

Meski begitu, Ernest menilai kondisi ideal belum sepenuhnya tercapai. Ia berharap film dari label independen mendapat kesempatan yang lebih setara, bukan hanya film dari rumah produksi besar atau yang memiliki dana promosi kuat.

Keluhan kuota tayang ikut menguat

Sorotan terhadap akses layar bioskop menguat setelah produser film Nicki R.V. dari 786 Production mengadukan dugaan monopoli jadwal tayang ke DPR RI. Ia menyebut rumah produksi besar seperti MD Pictures, Starvision, Multivision, dan Falcon lebih mudah memperoleh jatah tayang.

Nicki juga menilai asosiasi perfilman belum mewakili semua pelaku industri. Menurut dia, sebagian rumah produksi bisa merilis hingga 8–11 film per tahun, sementara produser lain justru kesulitan menembus jaringan bioskop.

Persoalan itu semakin ramai setelah film produksi 786 Production ditolak tayang pada Agustus 2026, meski permohonan sudah diajukan sejak November 2025. Dari situ, desakan agar kuota tayang lebih adil kembali menguat, terutama bagi film independen dan rumah produksi yang lebih kecil.

Source: www.medcom.id

Baca Juga

Back to top button