Chelsea mengambil langkah cepat setelah rentetan hasil buruk membuat posisi Liam Rosenior tak lagi aman. Kekalahan 0-3 dari Brighton & Hove Albion di Amex Stadium menjadi titik terakhir yang mendorong manajemen memutus kerja sama dengan pelatih kepala tersebut.
Keputusan itu datang di tengah tekanan besar yang sudah mengelilingi Chelsea dalam beberapa laga terakhir. Lima kekalahan beruntun di kompetisi domestik membuat klub bergerak cepat untuk menghentikan penurunan performa yang ikut menyeret mereka ke peringkat tujuh klasemen sementara Liga Inggris.
Tekanan hasil buruk memaksa perubahan
Bagi Chelsea, masalah utama bukan sekadar satu hasil minor, melainkan pola yang terus berulang tanpa perbaikan nyata. Dalam situasi seperti itu, evaluasi internal berjalan cepat karena performa tim dinilai sudah jauh dari standar yang diharapkan.
Liam Rosenior menerima konsekuensi dari situasi tersebut meski baru bergabung pada Januari lalu. Kondisi ini menunjukkan bahwa durasi kerja yang masih panjang tidak cukup untuk menjaga posisinya ketika hasil di lapangan terus memburuk.
Manajemen klub melihat bahwa laju negatif tersebut sudah terlalu berat untuk dipertahankan. Di level klub dengan ambisi besar seperti Chelsea, rangkaian kekalahan semacam ini langsung mengubah arah kebijakan di ruang keputusan.
Kontrak panjang, kompensasi besar
Rosenior sebenarnya masih terikat kontrak jangka panjang hingga 2032. Namun, kontrak itu justru membuat nilai kompensasi yang berpotensi diterimanya menjadi sangat besar setelah pemecatan dilakukan.
Berdasarkan rincian kontrak, mantan pelatih Strasbourg itu menerima gaji 4 juta paun per musim. Jika dihitung dari sisa masa kerja yang ada, angka kompensasi yang mungkin muncul mencapai 24 juta paun atau sekitar Rp 500 miliar.
Meski begitu, nilai tersebut tidak sepenuhnya pasti dibayar penuh. Laporan yang beredar menyebut ada klausul khusus dalam proses kepindahannya dari Strasbourg yang memengaruhi besaran akhir pembayaran.
Chelsea mulai menatap musim berikutnya
Setelah Rosenior dilepas, Chelsea menunjuk asisten pelatih Calum McFarlane untuk menangani tim sampai musim ini berakhir. Langkah sementara itu diambil agar tim tetap memiliki kendali teknis selama masa transisi.
Di saat yang sama, klub juga mulai menyiapkan pencarian manajer permanen untuk musim depan. Arah ini memperlihatkan bahwa Chelsea tidak ingin berlama-lama dalam ketidakpastian setelah performa buruk mengganggu perjalanan mereka di liga.
Keputusan memecat pelatih kepala di tengah musim kembali menegaskan betapa cepatnya tekanan bekerja di sepak bola Inggris. Satu rangkaian hasil negatif bisa langsung berdampak pada kursi pelatih, terlebih ketika posisi tim di klasemen ikut merosot dan ekspektasi publik tetap tinggi.
Untuk sementara, fokus Chelsea kini tertuju pada upaya menstabilkan tim di bawah pengawasan Calum McFarlane. Di sisi lain, manajemen harus menentukan langkah berikutnya agar situasi yang sempat memburuk tidak berlanjut lebih lama.