MacBook Neo diposisikan Apple sebagai pintu masuk termurah ke macOS, dengan harga yang disebut berada di kisaran Rp10 jutaan. Perangkat ini ditujukan untuk pengguna Windows dan Chromebook yang ingin pindah ke ekosistem Apple tanpa harus langsung membeli MacBook kelas atas.
Meski harganya dibuat lebih ramah, Apple tidak mempertahankan semua fitur yang biasa hadir di lini MacBook. Sejumlah spesifikasi penting justru dipangkas agar banderolnya tetap rendah, mulai dari chip, layar, hingga port yang tersedia.
Chip yang dipakai bukan seri M
Salah satu keputusan paling menonjol ada pada penggunaan chip A18 Pro. Chip ini dikenal sebagai dapur pacu iPhone 16 Pro, bukan chip seri M yang selama ini dipakai di MacBook Air dan MacBook Pro.
Pilihan tersebut membuat posisi MacBook Neo terasa unik di pasar laptop Apple. Untuk pekerjaan ringan seperti browsing, mengetik, dan administrasi, performanya masih dianggap memadai, tetapi batasnya akan lebih cepat terlihat saat dipakai untuk tugas berat seperti rendering video 4K atau editing grafis intensif.
Layar masih tajam, tetapi ada pengurangan fitur
MacBook Neo disebut membawa layar Liquid Retina 13 inci dengan tingkat kecerahan 500 nits. Ukuran layar dan tingkat terang ini masih cukup nyaman untuk kebutuhan harian, termasuk pemakaian di dalam ruangan maupun saat harus sering dibawa bepergian.
Namun, Apple memangkas beberapa fitur layar untuk menahan biaya produksi. True Tone dan sensor cahaya otomatis tidak disertakan, sementara dukungan warnanya dibatasi pada sRGB.
Memori dibuat sederhana
Di bagian memori, MacBook Neo hanya dibekali RAM 8GB yang tidak bisa ditingkatkan. Bandwidth memorinya berada di angka 60GB/s, sehingga perangkat ini lebih cocok untuk beban kerja ringan hingga sedang.
Kapasitas tersebut juga memperlihatkan arah strategi Apple yang jelas, yakni menekan harga melalui spesifikasi yang lebih sederhana. Pengguna yang terbiasa membuka banyak aplikasi berat secara bersamaan kemungkinan akan lebih cepat merasakan keterbatasannya.
Port, pengisian daya, dan keyboard ikut disesuaikan
Untuk konektivitas, Apple tidak lagi menyediakan MagSafe pada MacBook Neo. Pengisian daya mengandalkan USB-C, dengan total dua port yang tersedia di perangkat ini.
Meski begitu, kedua port tersebut tidak sepenuhnya setara. Hanya satu port yang mendukung USB 3 dengan kecepatan 10Gb/s, sedangkan port lainnya masih memakai USB 2 yang jauh lebih lambat.
Apple juga menghapus backlit keyboard dari perangkat ini. Fitur yang kerap dianggap standar pada MacBook tersebut tidak ikut hadir di MacBook Neo.
Tidak semua fitur hadir di semua varian
Ada pula pembatasan fitur yang dibedakan berdasarkan konfigurasi penyimpanan. Trackpad yang digunakan masih versi standar tanpa teknologi Force Touch.
Sementara itu, Touch ID hanya tersedia pada model penyimpanan 512GB. Varian 256GB tidak mendapat fitur biometrik tersebut, sehingga kapasitas penyimpanan ikut menentukan fitur yang diterima pengguna.
Tetap membawa ciri khas MacBook
Di balik berbagai pengurangan itu, MacBook Neo masih mempertahankan beberapa elemen yang membuatnya tetap menarik. Bobotnya disebut hanya 1,23 kg dengan bodi aluminium premium, sehingga masih nyaman dibawa ke mana-mana.
Daya tahan baterainya juga menjadi salah satu daya tarik utama, dengan klaim hingga 16 jam penggunaan. Untuk kebutuhan rapat dan hiburan, laptop ini masih dibekali webcam 1080p serta speaker Dolby Atmos yang diklaim tetap jernih.
Arah pasar yang dibidik Apple
Dengan kombinasi harga yang lebih rendah dan spesifikasi yang tidak terlalu agresif, MacBook Neo terlihat paling cocok untuk pelajar, mahasiswa, dan pekerja administratif. Kelompok ini umumnya membutuhkan laptop yang ringan, stabil, dan cukup andal untuk aktivitas harian.
Sebaliknya, pengguna yang lebih sering mengerjakan editing video, desain grafis, atau pekerjaan kreatif berat kemungkinan akan lebih pas memilih MacBook Air M2 atau M3. MacBook Neo pada akhirnya menawarkan jalan masuk ke macOS dengan biaya lebih terjangkau, tetapi dengan sejumlah batasan yang sengaja dibuat terasa di fitur intinya.





