Di rak supermarket, di gerai cepat saji, hingga di dapur rumah, makanan ultra processed food atau UPF hadir dalam bentuk yang sangat praktis. Justru karena mudah dijangkau dan terasa enak, jenis makanan ini sering masuk ke pola makan harian tanpa disadari.
Masalahnya, UPF tidak hanya dinilai dari rasa atau kepraktisannya. Kelompok makanan ini makin sering dikaitkan dengan obesitas, diabetes tipe 2, dan hipertensi karena cara pengolahannya dinilai berpengaruh pada profil kesehatan makanan.
UPF termasuk dalam klasifikasi NOVA, yaitu pendekatan yang melihat tingkat pengolahan makanan sebagai hal penting untuk memahami dampaknya pada tubuh. Dalam pendekatan ini, proses pengolahan bukan sekadar urusan daya simpan, tetapi juga bagian dari penilaian kesehatan makanan.
Johns Hopkins University menjelaskan bahwa UPF adalah makanan yang mengandung satu atau banyak komponen yang jarang ditemui dalam konsumsi harian, seperti pengawet buatan. Makanan jenis ini umumnya diproses secara modern bukan hanya agar lebih tahan lama, tetapi juga untuk tujuan lain.
Mengapa UPF begitu mudah dekat dengan konsumsi sehari-hari
Pengolahan makanan sebenarnya bukan hal baru. Sejak lama, manusia sudah mengawetkan makanan dengan cara pengasapan, lalu berkembang ke proses yang lebih modern karena tuntutan efisiensi dan biaya produksi.
Dalam bentuk modern, produk UPF sering dirancang agar lebih menggugah selera. Karena itu, banyak orang bisa mengonsumsinya tanpa sadar, apalagi ketika produk tersebut dikemas sebagai pilihan cepat dan praktis.
Contoh UPF yang umum dijumpai cukup dekat dengan kebiasaan makan banyak orang. Daftarnya meliputi sereal tinggi gula, nugget, minuman bersoda, keripik kentang, sosis, dan mie instan.
Risiko yang perlu diperhatikan
Konsumsi UPF tidak harus selalu berarti masalah, tetapi risikonya muncul ketika jumlahnya terlalu banyak dan berlangsung terus-menerus. Pada titik itu, dampaknya mulai lebih jelas terlihat pada kesehatan tubuh.
Obesitas menjadi salah satu risiko utama karena banyak UPF mengandung kalori tinggi. Jika asupan kalori terus menumpuk, tubuh menjadi lebih rentan mengalami kenaikan berat badan yang tidak terkendali.
Diabetes tipe 2 juga sering dikaitkan dengan kebiasaan mengonsumsi UPF. Salah satu pemicunya adalah tingginya kandungan gula pada sejumlah produk ultra processed food.
Selain itu, hipertensi perlu diwaspadai karena banyak UPF memiliki kadar garam tinggi. Jika dikonsumsi berlebihan, asupan garam seperti ini dapat menambah beban kesehatan dalam jangka panjang.
Mengapa tetap sulit dihindari
Meski risikonya sudah jelas, UPF tetap populer di banyak tempat. Alasannya sederhana: produk ini mudah ditemukan, terasa menarik di lidah, dan cocok dengan ritme hidup yang serba cepat.
Kombinasi rasa, kepraktisan, dan harga produksi yang ditekan membuat UPF sangat dekat dengan kebiasaan makan modern. Kondisi itu membuat banyak orang tidak sadar bahwa mereka sudah sering mengonsumsinya.
Karena itu, sikap lebih sadar saat memilih makanan menjadi penting. UPF tidak harus dihindari sepenuhnya, tetapi konsumsinya perlu dibatasi dan tidak dijadikan pilihan utama setiap hari.
Mengurangi porsi UPF dan menyimpannya untuk momen tertentu lebih sejalan dengan upaya menjaga kesehatan jangka panjang. Dengan mengenali jenis makanan yang termasuk UPF, konsumen bisa lebih hati-hati saat berbelanja maupun saat menentukan menu di meja makan.
Source: www.beautynesia.id




