Kehadiran Indonesia di Biennale Teatro Venezia menandai langkah penting bagi panggung seni pertunjukan Tanah Air. Untuk pertama kalinya, tradisi Melayu Indonesia masuk ke ajang teater internasional yang sudah berlangsung selama 54 tahun itu.
Dua karya akan dibawa ke Teatro alle Tese, kawasan Arsenale, Venesia. Pertunjukan berjudul Under the Volcano dan Hikayat Perahu/The Tale of Boat dijadwalkan tampil pada 16—19 Juni 2026 di bawah arahan Yusril Katil dan Sri Qadariatin.
Masuknya Indonesia ke festival ini juga membuka ruang baru bagi Asia Tenggara dalam percakapan seni global. Selama ini, kawasan tersebut dinilai masih sangat minim mendapat tempat di panggung seni dunia.
Direktur Artistik Bumi Purnati Indonesia, Restu Imansari Kusumaningrum, menilai ruang untuk Asia Tenggara kerap seperti kosong dalam percakapan seni internasional. Ia menyebut dominasi budaya populer dari China, Jepang, dan Korea Selatan membuat tradisi Melayu jarang tampil di festival teater internasional.
Restu menegaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan seni yang khas dan berbeda. Ia menyoroti tari, musik, teater, dan bela diri silat sebagai bagian dari identitas budaya yang kuat.
Kehadiran dua pertunjukan itu tidak sekadar menambah daftar peserta sebuah festival bergengsi. Langkah ini juga menunjukkan upaya membawa identitas budaya yang lebih spesifik ke ruang yang sangat kompetitif.
Dalam konteks Biennale tahun ini, keterlibatan Indonesia berkaitan erat dengan tema Alternative Native. Tema itu menyoroti alternatif dan perubahan di tengah situasi global yang bergejolak, sekaligus membuka ruang bagi tradisi serta gagasan di luar arus utama.
Restu mengatakan pihak Biennale justru aktif mencari partisipasi Indonesia. Proses pengajuan proposal berlangsung sangat cepat karena hanya tersedia waktu 24 jam untuk menyiapkannya.
Ia juga menilai akar budaya Melayu yang hidup di Indonesia menjadi salah satu hal yang ingin dilihat kurator festival. Restu bahkan menyebut tema Alter-Native tidak akan terasa lengkap tanpa kehadiran Indonesia.
Dari sisi ekosistem budaya, Direktur Istituto Italiano di Cultura Jakarta, Michele Cavallaro, melihat kehadiran Indonesia sebagai hal yang penting di Biennale Venesia. Menurut dia, ajang ini sudah lama menjadi salah satu pusat percakapan budaya dunia.
Michele menekankan bahwa Biennale tidak hanya mencakup seni rupa. Ia menyebut teater, tari, musik, dan arsitektur juga menjadi bagian dari dinamika yang merefleksikan persoalan sosial global.
Ia juga menyampaikan kebanggaannya karena Indonesia akhirnya hadir di festival teater tersebut setelah beberapa edisi tanpa partisipasi. Bagi Michele, Biennale tetap hidup sebagai acara budaya yang menunjukkan masalah serta ketegangan masyarakat.
Dengan tampil perdana di Venesia, Indonesia tidak hanya hadir sebagai peserta baru. Tradisi Melayu dan pencapaian seniman Indonesia kini masuk ke panggung yang lebih luas, sekaligus memberi ruang yang lebih nyata bagi suara Asia Tenggara di percakapan seni internasional.
Dari Teatro alle Tese, Indonesia akan berbagi panggung dengan tradisi dan gagasan lain dalam forum budaya yang sangat diperhitungkan. Dua pertunjukan yang dibawa menjadi penanda bahwa identitas budaya Indonesia dapat dibaca lintas batas tanpa kehilangan akar asalnya.
Source: lifestyle.bisnis.com




