Kutub Selatan Bulan kembali menjadi sasaran penting dalam rencana besar NASA, kali ini lewat misi drone MoonFall. Empat wahana kecil itu disiapkan untuk membantu badan antariksa Amerika Serikat menentukan area pendaratan yang paling layak bagi astronaut berikutnya.
Misi ini langsung terkait dengan agenda Artemis yang sedang dikejar NASA. Di saat yang sama, NASA juga menargetkan peluncuran MoonFall pada 2028 sambil terus menyiapkan langkah lain, termasuk pengembangan pangkalan permanen di Bulan.
Empat drone untuk membaca medan Bulan
Di Jet Propulsion Laboratory, California Selatan, desain drone MoonFall sudah dikembangkan dan prototipenya telah diuji. Setiap wahana dirancang mendarat di permukaan Bulan lalu bekerja selama satu hari lunar untuk mengumpulkan citra beresolusi tinggi.
Satu hari lunar bisa berlangsung hingga 14 hari Bumi. Setelah penerbangan terakhir, muatan yang dirancang untuk bertahan melewati malam Bulan akan tetap aktif selama beberapa bulan.
Ketahanan itu penting karena malam Bulan sangat ekstrem. Suhunya dapat turun hingga minus 208 derajat Fahrenheit, sehingga perangkat harus mampu bertahan dalam kondisi yang keras.
Ukuran, sensor, dan fungsi tiap wahana
Keempat drone itu diperkirakan memiliki bobot sekitar 550 pon per unit. Ukurannya juga cukup besar untuk wahana jelajah permukaan Bulan, dengan tinggi empat kaki dan diameter tujuh kaki.
Untuk memetakan medan, semua drone akan memakai sistem pencitraan Lunar Dashcam. NASA juga membekali mereka dengan larik laser retroflector agar mission control bisa menentukan posisi wahana secara presisi.
Selain pemetaan, misi ini juga membawa alat pengukuran ilmiah. Ada neutron spectrometer untuk membantu mengukur ada tidaknya air di bawah permukaan, serta spectrometer untuk mengukur radiasi.
Perjalanan ke permukaan yang sulit dijangkau
Firefly Aerospace yang berbasis di Texas dipilih untuk membangun wahana pengangkutnya. Wahana Elytra milik perusahaan itu akan membawa empat drone dalam perjalanan 45 hari dari Bumi ke Bulan.
Setelah masuk orbit Bulan, Elytra akan melakukan deorbit dan manuver pengereman sebelum melepas drone sekitar 31 mil di atas Kutub Selatan Bulan. Tahap ini menjadi bagian penting untuk menempatkan wahana tepat di wilayah yang menjadi fokus eksplorasi NASA.
Pilihan terhadap Firefly juga bukan tanpa catatan sejarah. Perusahaan itu sebelumnya sudah menempatkan Blue Ghost sebagai lander buatan komersial pertama yang mencapai permukaan Bulan pada Maret 2025.
Mengapa wilayah ini terus diperebutkan
Kutub Selatan Bulan dinilai strategis karena NASA dan sejumlah mitranya ingin memahami potensi sumber daya di sana. Informasi dari MoonFall diharapkan membantu menentukan lokasi pendaratan misi Artemis berikutnya, sehingga keputusan eksplorasi bisa dibuat dengan data yang lebih kuat.
Namun, rencana pemanfaatan sumber daya Bulan juga memicu perdebatan. Sejumlah ilmuwan menilai pengambilan sumber daya dapat mengganggu penelitian, sementara banyak negara adat memandang Bulan sebagai sesuatu yang sakral dan menolak penodaan.
NASA bersama 66 negara lain telah menandatangani Artemis Accords. Perjanjian itu bukan traktat internasional, tetapi menjadi kerangka prinsip tingkat tinggi untuk eksplorasi antariksa dan pengembangan permukaan Bulan selama abad ini.
Di sisi lain, kelompok Artemis yang dipimpin NASA juga bersaing langsung dengan inisiatif yang dipimpin China untuk menjelajahi Kutub Selatan Bulan dan kemungkinan mengambil sumber dayanya. Karena itu, MoonFall bukan hanya soal teknologi pemetaan, tetapi juga bagian dari penentuan arah eksplorasi Bulan ke depan.





