Di tengah sorotan besar terhadap kendaraan listrik China, nada optimistis justru mulai bergeser menjadi lebih hati-hati. William Li, CEO NIO, menilai pasar otomotif di negara itu sudah melewati masa keemasan karena pertumbuhan domestik melemah, laju EV melambat, dan persaingan kian ketat.
Bagi Li, ukuran pasar China yang sangat besar tidak lagi cukup untuk menjamin pertumbuhan cepat seperti sebelumnya. Kepemilikan kendaraan yang sudah mencapai sekitar 370 juta unit menjadi sinyal bahwa ruang ekspansi mulai menyempit dan pasar memasuki fase jenuh.
Pertumbuhan yang tak lagi semulus dulu
Kondisi itu tercermin dari arah industri yang diperkirakan makin datar. Penjualan mobil secara keseluruhan di China diproyeksikan stagnan sepanjang 2026, sementara pertumbuhan kendaraan listrik dan hybrid plug-in yang selama ini menjadi penopang utama mulai melambat setelah bertahun-tahun naik dua digit.
Tekanan di pasar domestik sebenarnya sudah terasa lebih dulu. Pada April lalu, penjualan mobil di dalam negeri tercatat turun selama tujuh bulan berturut-turut, meski ekspor masih tetap menunjukkan kinerja positif.
Situasi tersebut membuat banyak produsen harus mengubah cara bermain. Pasar yang sebelumnya identik dengan pertumbuhan cepat kini lebih terlihat sebagai arena perebutan pangsa pasar yang sangat ketat.
Perang harga mengubah wajah industri
Perubahan besar di China tidak terjadi tiba-tiba. Selama bertahun-tahun, pemerintah memberi dukungan lewat subsidi, pembangunan infrastruktur, dan kebijakan industri yang mendorong lahirnya banyak pemain baru.
Dari situ, pasar dipenuhi merek yang datang dari pemerintah daerah, perusahaan teknologi, hingga produsen otomotif konvensional. Masuknya banyak pemain memicu kelebihan pasokan dan mendorong perang harga yang agresif di berbagai segmen.
Para analis menilai sejumlah perusahaan rela mengeluarkan biaya besar demi merebut pasar. Akibatnya, margin keuntungan ikut tertekan, termasuk bagi pemain yang lebih dulu mapan seperti NIO.
Industri pun menjadi semakin terfragmentasi. Dalam kondisi seperti ini, perusahaan yang punya keunggulan teknologi dan pengalaman pelanggan yang kuat dinilai lebih punya peluang bertahan dalam jangka panjang.
China tetap jadi fokus utama NIO
Meski pasar domestik sedang penuh tekanan, NIO belum mengubah prioritas utamanya. Saat membahas ekspansi global, Li menegaskan bahwa pasar China tetap menjadi fokus paling penting bagi perusahaan.
NIO memang sudah mengekspor kendaraan sejak 2021 dengan Norwegia sebagai pasar pertama. Namun, volume pengiriman ke luar negeri masih relatif kecil jika dibandingkan dengan total penjualan perusahaan.
Li menilai China masih menjadi pasar paling efisien untuk investasi kendaraan listrik murni. Sebaliknya, membangun skala bisnis serupa di negara lain disebut memerlukan waktu lebih lama dan menghadapi tantangan yang lebih besar.
Ia juga menyebut kendaraan hybrid plug-in dan mobil bermesin pembakaran internal masih lebih relevan untuk banyak pasar global saat ini. Pandangan itu memperlihatkan bahwa ekspansi produsen EV asal China kini tidak bisa bertumpu pada satu model bisnis saja.
Teknologi jadi pembeda saat pasar makin padat
Sebagai produsen yang dikenal lewat teknologi battery swapping, NIO hingga kini tetap berfokus pada kendaraan listrik murni. Untuk menjaga daya saing, perusahaan mengandalkan pengembangan sistem bantuan pengemudi canggih, perangkat lunak milik sendiri, serta perluasan lini produk.
Li mengatakan NIO akan meningkatkan investasi sumber daya komputasi untuk pengembangan teknologi pengemudian cerdas hingga lima kali lipat pada tahun ini dibandingkan 2025. Langkah itu menunjukkan bahwa perangkat lunak dan kemampuan otonom makin penting ketika teknologi perangkat keras di industri otomotif semakin seragam.
Peluncuran model unggulan juga menjadi semakin penting dalam persaingan yang makin padat. NIO baru saja memperkenalkan SUV mewah andalannya, ES9, yang diharapkan dapat memperkuat posisi perusahaan di segmen premium dengan margin keuntungan lebih tinggi.
Investor masih memberi respons positif
Meski gambaran pasar terdengar suram, reaksi investor justru menunjukkan arah yang berbeda. Saham NIO yang diperdagangkan di Bursa Hong Kong melonjak 10,5 persen menjadi HK$46,08 pada Kamis.
Kenaikan itu menjadi lonjakan harian terbesar saham NIO sejak 11 Maret. Respons pasar tersebut mengindikasikan bahwa pembacaan Li atas kondisi industri dianggap realistis, di tengah tekanan persediaan kendaraan yang tinggi, perang harga yang ketat, dan permintaan domestik yang melemah.
Ekspor masih menjadi penopang penting bagi banyak produsen otomotif China. Namun, lemahnya pasar dalam negeri membuat industri kini harus bergerak dari strategi mengejar pertumbuhan cepat menuju upaya mempertahankan posisi, profitabilitas, dan relevansi.
Source: voi.id




