NOTEP Tetap Menolak AI Mengganti Musisi, Namun Pernah Memakainya Untuk Mengubah Suara Jadi Pria

Di tengah maraknya musik buatan AI, NOTEP memilih garis yang tegas: teknologi boleh membantu, tetapi tidak untuk mengambil alih ruang kreatif manusia. Musisi sekaligus aktivis lingkungan asal Thailand itu menilai seni dan musik tetap harus berpusat pada manusia, bukan mesin.

Sikap itu membuat pandangannya terdengar keras di saat banyak pihak justru semakin nyaman memakai AI dalam proses berkarya. Namun, NOTEP tidak menutup pintu sepenuhnya karena ia masih melihat ada pekerjaan tertentu yang memang cocok diserahkan pada teknologi.

Baginya, AI lebih masuk akal dipakai untuk tugas yang tidak ingin dikerjakan manusia. Ia mencontohkan pekerjaan seperti akuntansi dan administrasi, karena bantuan teknologi bisa menghemat waktu dan membuat manusia punya ruang lebih besar untuk fokus pada hal yang lebih kreatif.

Dari sudut pandang itu, batas penggunaan AI menjadi hal yang penting. NOTEP menilai musik dan seni seharusnya tetap menjadi wilayah manusia, sementara mesin cukup membantu pada bagian yang sifatnya rutin atau membosankan.

Ia juga mengaku sedih ketika melihat musik yang dibuat AI, termasuk cover lagu hasil sistem tersebut. NOTEP berharap pendengar bisa membedakan mana karya asli buatan manusia dan mana yang lahir dari teknologi.

Kekhawatiran itu bukan sekadar soal selera, tetapi soal arah industri musik. Menurutnya, ketika mesin mengambil peran utama, seni kehilangan sentuhan manusia yang menjadi inti dari proses kreatif.

Meski begitu, NOTEP pernah memakai AI untuk kebutuhan yang sangat spesifik dalam salah satu lagunya. Saat itu ia ingin menghadirkan suara pria, tetapi tidak menemukan penyanyi yang cocok dengan visi musiknya.

Ia lalu merekam suaranya sendiri dan menggunakan AI untuk mengubah warna vokalnya agar terdengar seperti suara pria. Penggunaan seperti ini, bagi NOTEP, masih bisa diterima karena ide awal dan proses kreatifnya tetap datang dari manusia.

Ia menegaskan bahwa bantuan teknologi tidak sama dengan menyerahkan karya sepenuhnya kepada mesin. Menurutnya, AI untuk menulis lagu atau memproduksi musik secara utuh tetap bukan pilihan yang bisa dibenarkan.

NOTEP, atau Note Panayanggool, dikenal bukan hanya sebagai musisi, tetapi juga aktivis lingkungan dari Thailand. Ia baru saja merilis single berjudul “Radio” pada 22 April 2026, bertepatan dengan Hari Bumi.

Video musik lagu itu direkam di laut lepas Pulau Koh Tao, Thailand. Lagu tersebut juga menjadi pintu pembuka untuk EP terbarunya, PAKARANG, yang berarti karang dalam bahasa Thailand.

EP itu berisi enam lagu yang mengeksplorasi hubungan tersembunyi antara terumbu karang, lautan, dan tubuh manusia. Melalui karya-karya tersebut, NOTEP kembali menunjukkan bahwa musik baginya tetap bertumpu pada ide, emosi, dan pesan yang lahir dari manusia.

Source: www.medcom.id

Baca Juga

Back to top button