Nvidia RTX Spark Mengancam Posisi Qualcomm, Windows ARM Masuk Babak Persaingan Baru

Nvidia mulai mengubah peta persaingan Windows berbasis ARM dengan cara yang langsung terasa di pasar. Kehadiran RTX Spark membuat posisi Qualcomm tidak lagi nyaman, bahkan sebelum chip itu benar-benar hadir di perangkat konsumen.

Reaksi pasar juga menunjukkan seberapa besar perhatian yang tertuju pada langkah Nvidia. Setelah pengumuman RTX Spark di Computex 2026, saham Qualcomm sempat turun lebih dari 10% pada perdagangan prapasar dan menghapus lebih dari $10 miliar nilai pasar dalam semalam.

Qualcomm masih unggul waktu, tapi tekanannya makin besar

Selama dua tahun terakhir, Qualcomm menjadi wajah utama Windows on ARM sejak Snapdragon X Elite meluncur pada 2024. Posisi itu kemudian diperkuat lagi oleh keluarga Snapdragon X2 yang hadir pada akhir 2025.

Di atas kertas, Qualcomm masih punya ruang napas karena laptop dengan Snapdragon X2 Elite Extreme mulai hadir pada paruh pertama 2026. Artinya, chip ini bisa lebih dulu masuk pasar saat perangkat berbasis Nvidia masih menunggu giliran.

Seri Snapdragon X2 sendiri terdiri dari tiga chip yang dibuat dengan proses 3nm TSMC dan memakai inti CPU Oryon generasi ketiga. Varian yang paling disorot adalah Snapdragon X2 Elite Extreme dengan nomor X2E-96-100, yang disebut sebagai chip laptop paling bertenaga buatan Qualcomm sejauh ini.

Chip tersebut membawa 18 inti Oryon, naik dari 12 inti pada Snapdragon X Elite generasi pertama. Susunannya terdiri dari 12 inti Prime dan 6 inti Performance, dengan dua inti Prime yang bisa boost hingga 5 GHz.

Nvidia masuk dengan paket yang jauh lebih agresif

Nvidia tidak hanya ikut meramaikan pasar, tetapi datang dengan target yang lebih besar. Perusahaan ini ingin menjadikan RTX Spark sebagai momen “Apple Silicon” untuk ekosistem Windows, dengan menggabungkan CPU ARM, GPU RTX, dan akselerator AI dalam satu chip.

RTX Spark berbasis GB10 Grace Blackwell Superchip yang juga menjadi fondasi workstation pengembang DGX Spark. Nvidia kemudian mengemasnya untuk laptop Windows arus utama agar jangkauannya jauh lebih luas.

Chip ini memadukan CPU ARM kustom hasil pengembangan bersama MediaTek, GPU Blackwell RTX, dan akselerator AI. Seluruh paket dibuat dengan proses 3nm TSMC dan membawa 70 miliar transistor.

Secara spesifikasi, RTX Spark diklaim mampu memuat hingga 20 inti CPU, GPU Blackwell dengan 6.144 core, serta memori terpadu hingga 128 GB. Nvidia juga mengklaim performa AI lokal lebih dari 1 petaflop FP4.

Keunggulan ada di AI, grafis, dan software

Nvidia menempatkan RTX Spark sebagai chip untuk menjalankan model AI besar dan large language model langsung di perangkat. Posisi itu diperkuat oleh bandwidth NVLink-C2C antara CPU dan GPU yang diklaim mencapai 600 GB/s.

Di sisi komputasi AI perangkat, RTX Spark menawarkan lebih dari 100 TOPS. Angka itu melampaui 80 TOPS pada Snapdragon X2 Elite, sehingga Nvidia mendapat ruang promosi yang kuat di segmen AI lokal.

Nilai tambah lain datang dari CUDA, yang ikut dibawa ke platform ini. Dukungan itu penting karena CUDA sudah menjadi fondasi banyak model AI, framework AI, dan aplikasi akselerasi GPU selama lebih dari 15 tahun.

Untuk grafis, Nvidia juga berada di depan karena membawa GPU Blackwell dengan dukungan DLSS 4.5. Teknologi upscaling berbasis AI itu belum punya padanan di lini Snapdragon, sehingga dampaknya terasa untuk game dan pekerjaan kreatif seperti editing video atau rendering 3D.

Snapdragon X2 Elite kuat di CPU, tapi belum sepenuhnya aman

Qualcomm memang menunjukkan hasil CPU yang kuat lewat pengujian internal di Snapdragon Summit. Snapdragon X2 Elite Extreme mencatat 1.964 poin di Cinebench 2024 dan 23.693 poin di Geekbench 6.3 multi-core.

Qualcomm menyebut hasil itu cukup untuk menyamai atau melampaui Apple M4 Pro pada sejumlah skenario. Dibanding Snapdragon X Elite generasi pertama, peningkatannya disebut mencapai sekitar 39% di single-core dan 50% di multi-core.

Untuk kebutuhan harian, chip ini juga dibekali cache total 53 MB, NPU 80 TOPS, memori LPDDR5x hingga 48 GB pada bus 192-bit, storage PCIe 5.0, dan hingga tiga port USB 4.0. Dari sisi produktivitas, susunan ini masih sangat kompetitif.

Masalahnya, performa grafisnya belum sekuat CPU. Di 3DMark Steel Nomad, Snapdragon X2 Elite Extreme hanya mencetak 1.306 poin pada 13 frame per detik, sementara Apple M4 Pro berada di kisaran 1.620 poin pada tes yang sama.

Hambatan terbesar masih ada di software

Masalah kompatibilitas tetap menjadi pekerjaan rumah utama Windows ARM. Tom’s Hardware menemukan AutoCAD tidak didukung, sementara sejumlah game mengalami crash atau gangguan grafis saat berjalan lewat emulasi di Windows ARM.

Kondisi ini ikut menahan daya tarik ekosistem Qualcomm, meski laptop Snapdragon X sudah lebih dulu hadir di pasaran. Karena itu, Snapdragon X2 Elite Extreme tampak lebih cocok untuk pengguna yang mengutamakan produktivitas harian dan beban kerja CPU.

RTX Spark justru menyasar kelompok yang berbeda, yakni kreator, pengembang AI, dan gamer serius. Laptop berbasis chip ini disebut akan dibanderol mulai sekitar $1800 dan dijadwalkan hadir pada autumn 2026.

Dukungan merek seperti ASUS, Dell, HP, Lenovo, dan Microsoft Surface membuat langkah Nvidia semakin serius. Saat perangkat itu masuk rak toko, persaingan di Windows ARM hampir pasti akan semakin padat.

Source: www.gizmochina.com
Exit mobile version